Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 808 tentang Doa perlindungan dari gangguan setan dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa perlindungan yang diajarkan Nabi ﷺ kepada kita, khususnya ketika berada dalam shalat. Beliau berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk dan tiga bentuk gangguannya: hamz (godaan yang menyebabkan kesurupan/kematian mendadak), nafkh (kesombongan), dan nafats (syair yang melalaikan). Ini menunjukkan betapa agungnya shalat sehingga setan sangat bersemangat untuk merusaknya, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari segala bentuk gangguannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (dengan harakat sesuai periwayatan):

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَهَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ". قَالَ: "هَمْزُهُ الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ الْكِبْرُ".

Makna ringkas: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk, dari godaannya (yang menyebabkan kesurupan/kematian), dari kesombongannya, dan dari syairnya (yang melalaikan).

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam al-Hakim. Para ulama menjelaskan makna hamz, nafkh, dan nafats ini. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan membahas secara mendalam tentang gangguan setan dan cara berlindung darinya, termasuk dari tiga bentuk gangguan ini. Beliau menjelaskan bahwa setan masuk ke dalam diri manusia melalui tiga pintu: pikiran (was-was), perasaan (kesombongan), dan lisan (perkataan yang sia-sia).

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung doa yang sangat penting, terutama dibaca ketika akan memulai shalat atau di dalam shalat. Mari kita pahami makna tiga bentuk gangguan setan:

  1. Al-Hamz (الْهَمْزُ): Imam Ibnul Atsir dan para ulama bahasa menjelaskan bahwa hamz berarti dorongan, desakan, atau sentuhan yang keras. Dalam konteks ini, hamz adalah godaan setan yang menyebabkan seseorang terkena penyakit umdat (kesurupan) atau bahkan kematian mendadak. Ini adalah gangguan yang paling berat, menyerang fisik dan akal.
  2. An-Nafkh (النَّفْخُ): Secara bahasa berarti tiupan. Namun yang dimaksud di sini, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, adalah kesombongan (al-kibr) . Setan meniupkan rasa sombong, ujub, dan bangga diri ke dalam hati manusia. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat merusak amal ibadah, termasuk shalat. Seseorang yang shalat tetapi hatinya sombong, shalatnya tidak akan memberikan ketenangan.
  3. An-Nafats (النَّفْثُ): Secara bahasa berarti meludah atau meniupkan sesuatu. Dalam hadits ini, nafats diartikan sebagai syair (asy-syi'ru) . Yang dimaksud bukan semua syair, tetapi syair-syair yang melalaikan, berisi kebatilan, atau syirik. Syair seperti ini dapat merusak hati dan memalingkan manusia dari mengingat Allah.

Pandangan Ulama tentang Penerapannya:

  • Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa setan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi manusia melalui tiga saluran ini: akal (dengan hamz), hati (dengan nafkh), dan lisan (dengan nafats). Oleh karena itu, doa ini adalah perisai yang lengkap.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menekankan bahwa doa ini menunjukkan kelemahan manusia dan kekuatan setan. Kita tidak mampu melawan setan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi hanya dengan berlindung kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa doa ini bisa dibaca di dalam shalat, khususnya setelah takbiratul ihram atau sebelum membaca Al-Fatihah, sebagai bentuk permohonan perlindungan agar shalat kita terjaga dari gangguan setan.

Perbedaan Pendapat (Ikhtilaf):

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan doa ini dibaca. Sebagian ulama, seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, menganjurkan membaca doa istiftah (doa pembuka shalat) yang lain, seperti "Subhanakallahumma wa bihamdika...". Namun, membaca doa perlindungan seperti dalam hadits ini juga dibolehkan dan memiliki keutamaan besar, karena merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. Yang terpenting adalah niat kita untuk berlindung kepada Allah dari segala gangguan setan dalam shalat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal suatu ketika sedang shalat. Di tengah shalatnya, beliau tiba-tiba teringat sebuah masalah fiqih yang rumit. Beliau pun merasa terganggu dan tidak khusyuk. Setelah selesai shalat, beliau berkata, "Aku tidak tahu, apakah ini gangguan setan atau bisikan hatiku sendiri." Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan ulama besar pun tidak luput dari gangguan setan dalam shalat. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah agar dijaga dari gangguan ini, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan membaca doa perlindungan ini, baik di dalam shalat (setelah takbiratul ihram) maupun di luar shalat, terutama ketika merasa was-was atau gelisah.
  2. Pahami maknanya agar doa kita lebih khusyuk dan meresap dalam hati.
  3. Jauhi syair-syair yang melalaikan dan perbanyak membaca Al-Qur'an serta dzikir, karena itu adalah obat dari gangguan setan.
  4. Rendahkan hati dan jauhi kesombongan, karena kesombongan adalah salah satu ciri utama pengaruh setan.
  5. Perbanyak istighfar dan ta'awudz (berlindung kepada Allah) setiap kali merasa ada bisikan buruk dalam hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?