Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi seorang muslim yang membiasakan diri hadir dan menetap di masjid untuk shalat dan berdzikir. Allah akan merasa senang dan gembira kepadanya, sebagaimana kegembiraan sebuah keluarga saat menyambut anggota keluarganya yang lama tidak ada. Ini menunjukkan betapa Allah mencintai hamba-Nya yang selalu meramaikan masjid dengan ibadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Masjid dan Jamaah, Bab Kewajiban Menghadiri Masjid dan Menunggu Shalat, nomor 800. Sanadnya: Abu Bakr bin Abi Syaibah → Syababah → Ibnu Abi Dzi'b → Al-Maqburi → Sa'id bin Yasar → Abu Hurairah → Nabi ﷺ.
Teks Arab hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ إِلَّا تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ"
Terjemahan: "Seorang muslim tidaklah menetap di masjid untuk shalat dan berdzikir kepada Allah, kecuali Allah akan merasa senang kepadanya sebagaimana keluarga orang yang absen merasa senang ketika dia kembali kepada mereka."
Hadits ini juga memiliki makna yang didukung oleh ayat Al-Qur'an tentang keutamaan masjid, di antaranya firman Allah:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
QS. At-Taubah [9]: 18
Terjemahan: "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyoroti keutamaan "tawathun" (menetap atau membiasakan diri) di masjid. Kata "تَوَطَّنَ" berasal dari "wathan" yang berarti tempat tinggal. Ini bukan sekadar datang sesekali, melainkan menjadikan masjid sebagai tempat yang selalu dikunjungi dan dihidupkan dengan shalat dan dzikir. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seseorang yang hatinya terikat dengan masjid, selalu hadir untuk shalat berjamaah dan berdzikir, bukan hanya untuk urusan duniawi.
Ungkapan "تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ" (Allah merasa senang kepadanya) adalah ungkapan majaz (kiasan) yang menunjukkan keridhaan, kecintaan, dan penerimaan Allah terhadap hamba tersebut. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa ini adalah bentuk penghormatan dan kabar gembira bagi orang yang memakmurkan masjid. Allah "bergembira" bukan seperti makhluk, tetapi dalam makna yang layak bagi keagungan-Nya, yaitu ridha dan pahala yang besar.
Perumpamaan dengan "keluarga orang yang absen merasa senang ketika dia kembali" menggambarkan betapa rindunya Allah kepada hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa dzikir dan shalat adalah makanan hati, dan orang yang selalu hadir di masjid berarti hatinya selalu terhubung dengan Allah. Kegembiraan Allah di sini adalah isyarat bahwa Allah mencintai hamba yang taat dan selalu kembali kepada-Nya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir Karimir Rahman menegaskan bahwa memakmurkan masjid dengan shalat dan dzikir adalah tanda keimanan yang kuat. Barangsiapa yang membiasakan diri demikian, maka Allah akan memberikan ketenangan, keberkahan, dan pahala yang berlimpah.
Hadits ini juga mengajarkan adab penting: masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga tempat dzikir dan ibadah lainnya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menekankan bahwa menghadiri masjid harus dengan niat ikhlas untuk ibadah, bukan untuk riya atau tujuan duniawi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak (wafat 181 H), seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in, sangat mencintai masjid. Beliau pernah berkata, "Aku tidak pernah meninggalkan masjid kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak." Suatu ketika, seorang murid bertanya kepadanya, "Wahai guru, mengapa engkau begitu sering berada di masjid?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya masjid adalah rumah Allah. Barangsiapa yang sering mengunjungi rumah Allah, maka Allah akan merasa senang kepadanya, sebagaimana seorang ayah merasa senang ketika anaknya yang lama pergi akhirnya kembali." Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami hadits ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: Sifatush Shafwah karya Ibnul Jauzi, namun maknanya sejalan dengan penjelasan ulama dalam daftar).
Kesimpulan Praktis
- Biasakan diri hadir di masjid untuk shalat berjamaah dan dzikir, bukan hanya sesekali.
- Ikhlaslah dalam beribadah di masjid, karena Allah mengetahui niat hamba-Nya.
- Jadikan masjid sebagai tempat favorit untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah akan merasa senang kepada orang yang memakmurkan masjid.
- Renungkanlah bahwa Allah "merindukan" hamba-Nya yang taat, maka jangan sia-siakan kesempatan untuk selalu kembali kepada-Nya.
- Ajarkanlah kepada keluarga dan anak-anak untuk mencintai masjid sejak dini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.