Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ bagi orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam keadaan gelap. Mereka dijanjikan cahaya yang sempurna pada hari kiamat, yaitu saat semua manusia berada dalam kegelapan dan kebingungan. Ini menunjukkan keutamaan besar shalat berjamaah di masjid, terutama shalat Isya dan Subuh yang biasanya dilakukan dalam kegelapan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
- Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Masajid wal-Jama'at, Bab Al-Masyi ilash-Shalah, no. 781.
- Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 561, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
- Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, no. 223, dari sahabat Buraidah bin Al-Hashib radhiyallahu 'anhu dengan lafaz: "Sampaikan kabar gembira kepada orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat."
Teks Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مَجْزَأَةُ بْنُ سُفْيَانَ بْنِ أَسِيدٍ، مَوْلَى ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الصَّائِغُ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
Terjemahan: "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat."
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. An-Nur [24]: 35
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "cahaya yang sempurna" ini adalah cahaya yang diberikan Allah di hari kiamat sebagai balasan atas perjuangan mereka berjalan dalam kegelapan di dunia. Beliau menegaskan bahwa ini adalah keutamaan khusus bagi mereka yang menjaga shalat berjamaah di masjid.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya pahala berjalan ke masjid dalam keadaan gelap, dan bahwa cahaya yang diberikan sebanding dengan kegelapan yang mereka lalui di dunia.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa makna penting dari hadits ini:
1. Makna "Orang yang Berjalan dalam Kegelapan" (المَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ)
- Imam Al-Qurthubi (dari kalangan ulama tafsir yang sejalan dengan pemahaman salaf) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang berjalan menuju masjid untuk shalat Isya dan Subuh dalam keadaan gelap. Kata "الظُّلَم" (kegelapan) dalam bentuk jamak menunjukkan banyaknya kegelapan yang mereka lalui, baik gelapnya malam, gelapnya jalan, maupun gelapnya hati manusia yang lalai.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini mencakup semua orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap, baik untuk shalat fardhu maupun sunnah, dan pahalanya semakin besar jika jaraknya semakin jauh.
2. Makna "Cahaya yang Sempurna" (النُّورِ التَّامِّ)
- Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa cahaya ini adalah cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-Nya di hari kiamat sebagai balasan atas amal mereka. Semakin banyak amal kebaikan, semakin sempurna cahayanya. Orang yang berjalan dalam kegelapan untuk shalat berjamaah akan mendapatkan cahaya yang sempurna, tidak seperti orang-orang munafik yang cahayanya padam di tengah jalan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa cahaya di hari kiamat adalah manifestasi dari cahaya iman di dunia. Orang yang bersusah payah dalam kegelapan untuk taat kepada Allah akan diganti dengan cahaya yang menerangi jalannya di hari kiamat.
3. Keutamaan Shalat Isya dan Subuh Berjamaah
- Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa menghadiri shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa menghadiri shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat semalam penuh." (HR. Muslim, no. 656)
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan khusus shalat Isya dan Subuh karena keduanya dilakukan dalam kegelapan, sehingga pahalanya lebih besar dibanding shalat lain yang dilakukan di waktu terang.
4. Hikmah di Balik Janji Cahaya
- Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amal. Orang yang berjalan dalam kegelapan di dunia untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan memberinya cahaya yang menerangi kegelapan di hari kiamat. Sebaliknya, orang yang memilih kemalasan dan tidak berjalan dalam kegelapan untuk taat, maka ia akan berada dalam kegelapan di hari kiamat.
- Imam Asy-Syafi'i (dalam Al-Umm) menegaskan bahwa shalat berjamaah di masjid adalah syi'ar Islam yang agung, dan meninggalkannya tanpa udzur adalah perbuatan tercela. Beliau menganjurkan umat Islam untuk bersemangat menghadirinya meskipun dalam keadaan gelap dan sulit.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 251) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya orang munafik yang paling berat shalatnya adalah shalat Isya dan Subuh. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan dua shalat ini, sampai-sampai Nabi ﷺ menyebut bahwa orang munafik pun merasa berat untuk menghadirinya. Ini karena mereka tidak memiliki keimanan yang mendorong mereka untuk bersusah payah dalam kegelapan. Adapun orang mukmin yang ikhlas, mereka akan bersemangat menghadirinya karena mengetahui janji Allah tentang cahaya yang sempurna.
Ada juga kisah dari kalangan salaf: Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan malam yang pekat. Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah diterangi oleh cahaya iman, sehingga kegelapan malam tidak menghalangi mereka untuk menuju rumah Allah. Maka Allah pun akan menerangi wajah mereka dengan cahaya-Nya di hari yang tidak ada cahaya selain cahaya-Nya."
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah menghadiri shalat berjamaah di masjid, terutama shalat Isya dan Subuh, meskipun dalam keadaan gelap atau cuaca tidak mendukung.
- Yakinlah dengan janji Allah bahwa setiap langkah menuju masjid akan diganti dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.
- Jadikan kegelapan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan penghalang. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula pahala.
- Ajaklah keluarga dan tetangga untuk bersama-sama menghadiri shalat berjamaah, agar kita semua termasuk dalam golongan yang mendapat kabar gembira ini.
- Perbaiki niat bahwa berjalan ke masjid adalah ibadah, bukan sekadar rutinitas, sehingga setiap langkahnya bernilai pahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.