Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 78 tentang Takdir telah ditentukan, namun manusia tetap diperintahkan berusaha

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keseimbangan antara iman kepada takdir dan kewajiban beramal. Meskipun Allah telah menetapkan tempat setiap hamba di surga atau neraka, kita tetap diperintahkan untuk berusaha dan beramal saleh, bukan bermalas-malasan. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan jalan yang sesuai dengan takdirnya, dan ini adalah rahasia keadilan Allah yang sempurna.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini:

QS. Al-Lail [92]: 5-10

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Terjemahan: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan kebaikan) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebaikan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesulitan (keburukan)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab Tentang Takdir, no. 78, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban beramal dan larangan berpasrah diri (tawakkal yang keliru) dengan alasan takdir. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa takdir tidak menghalangi kewajiban beramal, karena amal itu sendiri adalah bagian dari takdir yang telah ditulis.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil batalnya keyakinan orang-orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amal. Beliau menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah yang tidak diketahui hamba, dan perintah untuk beramal tetap berlaku.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa al-'Alil menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bantahan terhadap dua kelompok sesat: al-Majusiyah (yang mengingkari takdir) dan al-Mujbirah (yang mengatakan manusia dipaksa tanpa kehendak). Beliau menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak dan usaha, namun semua itu berada dalam takdir Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa makna "setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya" adalah bahwa Allah memberikan taufik kepada hamba-Nya sesuai dengan pilihan dan usahanya. Orang yang memilih kebaikan akan dimudahkan untuk berbuat baik, dan orang yang memilih keburukan akan dimudahkan untuk berbuat buruk. Ini bukan berarti paksaan, tetapi sesuai dengan keadilan Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini bahwa Allah mengaitkan kemudahan dengan amal hamba. Barangsiapa yang memberi, bertakwa, dan membenarkan pahala terbaik, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju kebaikan. Sebaliknya, barangsiapa yang kikir, merasa cukup tanpa Allah, dan mendustakan pahala, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju keburukan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang salah memahami takdir. Beliau menegaskan bahwa perintah untuk beramal tetap berlaku, dan tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan amal dengan alasan takdir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat memahami hadits tentang takdir ini dengan pemahaman yang keliru. Mereka berkata, "Jika tempat kami sudah ditentukan, maka tidak ada gunanya beramal." Maka Nabi ﷺ menjawab dengan tegas, "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya."

Kisah ini mengingatkan kita pada perkataan seorang ulama salaf, Al-Hasan al-Bashri rahimahullah. Beliau berkata, "Sungguh Allah tidak menjadikan takdir sebagai alasan bagi hamba-Nya untuk meninggalkan kewajiban. Takdir hanyalah ketetapan yang telah diketahui Allah, dan hamba tetap diperintah untuk beramal sesuai kemampuannya."

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga pernah ditanya tentang takdir, maka beliau menjawab, "Takdir adalah kekuasaan Allah. Kita tidak boleh bertanya 'mengapa' terhadap ketetapan-Nya, tetapi kita wajib beramal sesuai perintah-Nya. Sesungguhnya orang yang beramal akan dimudahkan untuk amalnya."

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir tidak menghalangi kewajiban beramal – Kita tetap harus berusaha dan beramal saleh meskipun takdir telah ditulis.
  2. Jangan menjadikan takdir sebagai alasan kemalasan – Ini adalah kesalahan besar yang dilarang oleh Nabi ﷺ.
  3. Setiap orang akan dimudahkan sesuai pilihannya – Orang yang memilih kebaikan akan dimudahkan untuk kebaikan, dan sebaliknya.
  4. Amal adalah bagian dari takdir – Kita tidak tahu takdir kita, tetapi kita tahu perintah Allah, maka kerjakanlah perintah itu.
  5. Rahasia takdir adalah milik Allah – Kita tidak boleh bertanya "mengapa" terhadap ketetapan Allah, tetapi kita wajib menjalankan perintah-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.