Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 77 tentang Iman kepada takdir mencakup keyakinan qada dan qadar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat iman kepada takdir yang merupakan salah satu rukun iman. Hadits ini menegaskan bahwa amal ibadah sekelas infak emas sebesar Gunung Uhud pun tidak akan diterima oleh Allah jika seseorang tidak beriman kepada takdir dengan benar. Iman kepada takdir yang benar adalah meyakini bahwa apa pun yang menimpa kita tidak akan luput dari kita, dan apa pun yang luput dari kita tidak akan menimpa kita, karena semuanya sudah dituliskan oleh Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 77), dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4699) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 21618). Para ulama menilai hadits ini shahih atau hasan; Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menshahihkannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (pula) yang menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

(QS. Al-Hadid [57]: 22)

Allah ﷻ juga berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)."

(QS. Al-Qamar [54]: 49)

Kaitan dengan Ulama:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Hadid [57]: 22 ini menegaskan bahwa segala sesuatu telah dituliskan oleh Allah sebelum diciptakan, dan ini termasuk perkara yang wajib diimani. Beliau juga menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak menghilangkan usaha, karena takdir itu sendiri mencakup usaha yang dilakukan hamba.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Makna "Jika Allah menghukum penduduk langit dan bumi, Dia tidak zalim kepada mereka"

Ucapan ini menegaskan bahwa Allah memiliki hak mutlak untuk berbuat apa saja terhadap makhluk-Nya. Jika Allah mengazab seluruh makhluk, itu adalah keadilan-Nya karena mereka adalah hamba-Nya dan Dia tidak berutang apa pun kepada mereka. Namun, Allah dengan rahmat-Nya justru memberikan petunjuk dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa rahmat Allah kepada hamba-Nya lebih baik daripada amal mereka sendiri, karena amal mereka tidak akan pernah bisa membalas nikmat Allah, sedangkan rahmat Allah adalah karunia murni dari-Nya.

2. Amal tidak diterima tanpa iman kepada takdir

Pernyataan bahwa infak emas sebesar Gunung Uhud tidak diterima tanpa iman kepada takdir menunjukkan betapa pentingnya keyakinan ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman yang enam. Tanpa iman kepada takdir, iman seseorang tidak sempurna, dan amal-amalnya tidak akan diterima karena syarat diterimanya amal adalah iman yang benar.

3. Makna "Apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu"

Ini adalah inti dari iman kepada takdir. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung keyakinan bahwa segala sesuatu yang telah ditakdirkan Allah pasti terjadi, dan tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Ini bukan berarti kita pasrah tanpa usaha, tetapi kita berusaha dengan sungguh-sungguh sambil meyakini bahwa hasilnya adalah ketentuan Allah.

4. Peringatan keras: "Jika engkau mati di atas selain keyakinan ini, engkau masuk neraka"

Ini adalah peringatan yang sangat tegas. Imam Ibnu Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mengingkari takdir termasuk bentuk pendustaan terhadap Al-Qur'an dan sunnah, dan bisa mengeluarkan seseorang dari keimanan yang benar. Namun, perlu dipahami bahwa yang dimaksud di sini adalah pengingkaran terhadap takdir secara total, bukan sekadar kebingungan atau pertanyaan yang wajar. Karena itu, para sahabat dalam hadits ini tidak menghakimi Ibn al-Dailami sebagai kafir, tetapi justru membimbingnya dengan penuh kasih sayang.

5. Adab bertanya kepada ulama

Kisah Ibn al-Dailami yang bertanya kepada Ubay bin Ka'ab, lalu Abdullah bin Mas'ud, lalu Hudzaifah, lalu Zaid bin Tsabit menunjukkan bahwa ketika seseorang ragu dalam masalah agama, hendaknya ia bertanya kepada para ulama yang dipercaya. Ini adalah adab yang diajarkan oleh para sahabat.

Story Telling

Ibn al-Dailami - yang bernama lengkap Abdullah bin Fairuz ad-Dailami - adalah seorang tabi'in yang mulia. Suatu hari, ia merasakan kegelisahan dalam hatinya tentang masalah takdir. Ia khawatir keraguan ini akan merusak agama dan kehidupannya. Maka ia mendatangi sahabat besar, Ubay bin Ka'ab, yang dijuluki Sayyidul Qurra' (pemimpin para qari) dan bertanya tentang masalah ini.

Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu menjawab dengan tenang dan bijaksana, lalu mengarahkannya kepada Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud juga memberikan jawaban yang sama, lalu mengarahkannya kepada Hudzaifah bin al-Yaman. Hudzaifah juga memberikan jawaban yang sama, lalu mengarahkannya kepada Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit kemudian menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ yang menjadi inti hadits ini.

Perhatikanlah bagaimana para sahabat saling mengarahkan kepada yang lain, tidak merasa cukup dengan diri mereka sendiri, dan tidak merasa tersinggung ketika diminta untuk bertanya kepada yang lain. Ini menunjukkan kerendahan hati dan kejujuran mereka dalam menyampaikan ilmu. Mereka tidak berbicara dari hawa nafsu, tetapi dari apa yang mereka dengar dari Rasulullah ﷺ.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa dalam masalah-masalah besar seperti takdir, kita harus merujuk kepada Al-Qur'an dan sunnah dengan pemahaman para ulama, bukan berdebat dengan akal semata. Para sahabat menjawab dengan tegas dan jelas, tanpa bertele-tele, karena masalah ini adalah masalah yang sangat penting.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Tanpa iman kepada takdir, iman seseorang tidak sempurna.
  2. Keyakinan yang benar tentang takdir adalah bahwa apa pun yang menimpa kita tidak akan luput dari kita, dan apa pun yang luput dari kita tidak akan menimpa kita. Semua sudah dituliskan oleh Allah sejak azali.
  3. Iman kepada takdir tidak menghilangkan usaha. Kita tetap berusaha, berdoa, dan bertawakal, sambil meyakini bahwa hasil akhirnya adalah ketentuan Allah.
  4. Jangan berdebat tentang takdir dengan akal semata. Jika ada keraguan, bertanyalah kepada ulama yang terpercaya, sebagaimana Ibn al-Dailami bertanya kepada para sahabat.
  5. Rahmat Allah lebih besar daripada amal kita. Jangan pernah merasa amal kita sudah cukup untuk menyelamatkan kita; kita tetap butuh rahmat Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi