Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan bahwa siapa saja yang membangun masjid karena Allah—meskipun sangat kecil, sekecil sarang burung—maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga. Ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan membangun masjid dan betapa Allah membalas amal kecil dengan pahala yang sangat besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Masjid dan Jamaah, Bab Siapa yang Membangun Masjid untuk Allah, nomor 738. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab (sesuai yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَشِيطٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ النَّوْفَلِيِّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ قَالَ " مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ "
Terjemahan: "Siapa yang membangun masjid untuk Allah, seperti sarang burung pipit atau lebih kecil, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Ibnu Majah no. 738)
Kaitan dengan Ulama: Hadits ini termasuk dalam bab keutamaan membangun masjid. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan masalah ini. Disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah membangun masjid dan memberikan atap dari pelepah kurma, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Ini menunjukkan bahwa membangun masjid tidak harus mewah, yang terpenting adalah keikhlasan dan manfaatnya bagi kaum muslimin.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan membangun masjid: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa membangun masjid termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama masjid itu digunakan untuk beribadah. Ini berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)
- Makna "kamafhash qathah" (seperti sarang burung): Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ukuran yang sangat kecil. Ini adalah permisalan untuk menunjukkan bahwa meskipun masjid itu sangat kecil, selama dibangun dengan ikhlas karena Allah, maka pahalanya tetap besar di sisi Allah. Ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melihat besar kecilnya amal, tetapi melihat keikhlasan dan niat pelakunya.
- Balasan yang berlipat ganda: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar. Membangun masjid di dunia yang kecil akan dibalas dengan rumah yang luas dan indah di surga. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 72:
يَعِدُهُمُ الْمَغْفِرَةَ وَرِضْوَانًا وَجَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar."
- Syarat diterimanya amal: Para ulama menekankan bahwa amal membangun masjid harus memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syariat. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang membangun masjid, beliau menjawab bahwa yang terpenting adalah niatnya. Jika dibangun karena riya' atau sum'ah (ingin dipuji), maka tidak akan diterima.
- Bolehnya membangun masjid dari bahan sederhana: Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa masjid Nabawi pada awalnya dibangun dari batu bata, pelepah kurma, dan tiang dari kayu. Ini menunjukkan bahwa membangun masjid tidak harus mewah dan mahal. Yang penting adalah fungsinya sebagai tempat ibadah.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau memerintahkan untuk membangun masjid. Beliau bersabda:
"Wahai Bani an-Najjar, tentukanlah harga tanah kebun kalian ini." Mereka menjawab, "Tidak, demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah." Maka Rasulullah ﷺ membangun masjid di atas tanah tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa para sahabat membangun masjid dengan sangat sederhana. Mereka membawa batu dan tanah, sambil bersenandung:
"Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin."
Mereka membangun masjid dengan pelepah kurma sebagai atapnya. Ketika hujan turun, masjid pun basah. Namun para sahabat tetap shalat di dalamnya dengan penuh kekhusyukan. Ini menunjukkan bahwa yang terpenting dalam membangun masjid bukanlah kemegahan bangunan, tetapi keikhlasan dan manfaatnya bagi umat.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah untuk membangun masjid, meskipun kecil dan sederhana, karena pahalanya sangat besar di sisi Allah.
- Niatkan dengan ikhlas karena Allah semata, bukan karena ingin dipuji atau mencari popularitas.
- Jangan meremehkan amal kecil—Allah membalas sesuai dengan keikhlasan, bukan besarnya amal.
- Jika tidak mampu membangun masjid, bisa berpartisipasi dengan memberikan bantuan, baik berupa dana, tenaga, atau material, karena semua itu termasuk dalam membantu pembangunan masjid.
- Jadikan masjid sebagai pusat ibadah dan kebaikan, bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga tempat menuntut ilmu dan mempererat ukhuwah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.