Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Barangsiapa yang membangun masjid dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah bangunan yang semisal (serupa) di dalam Surga. Ini adalah dorongan yang sangat kuat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, khususnya dalam memakmurkan masjid-masjid Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Masjid dan Jamaah, Bab Siapa yang Membangun Masjid untuk Allah, nomor 736, dari sahabat mulia Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ يَقُولُ " مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ "
Terjemahan: "Barangsiapa membangun masjid karena Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya yang semisal (serupa) dengannya di dalam Surga."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang serupa. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang keutamaan membangun masjid.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "Binaa`" (Membangun): Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa keumuman lafaz "membangun" mencakup membangun masjid dari awal, menyempurnakan bangunan yang sudah ada, atau bahkan memperbaiki dan merenovasinya. Yang terpenting adalah niatnya ikhlas karena Allah, bukan untuk pamer atau mencari popularitas.
- Makna "Mitslahu" (Semisal): Para ulama berbeda pendapat tentang makna "semisal" ini. Sebagian ulama, seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam, berpendapat bahwa balasannya adalah bangunan yang serupa di Surga, namun dengan kemuliaan dan keindahan yang jauh melebihi masjid dunia. Ini menunjukkan bahwa Allah membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar. Sebagian ulama lain, seperti yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin, berpendapat bahwa "semisal" di sini bermakna bahwa Allah akan memberikan kedudukan dan kemuliaan yang sebanding dengan pengorbanan dan keikhlasan orang tersebut.
- Keutamaan Membangun Masjid: Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa membangun masjid karena Allah walaupun hanya seperti sarang burung (kecil), maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di Surga." Ini menunjukkan bahwa nilainya bukan terletak pada besar kecilnya bangunan, tetapi pada keikhlasan niat dan manfaatnya bagi kaum muslimin.
- Kaitan dengan Ayat: Allah Ta'ala berfirman dalam QS. At-Taubah [9]: 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."
Ayat ini menjelaskan bahwa memakmurkan masjid adalah ciri keimanan. Membangun masjid adalah salah satu bentuk pemakmuran yang paling nyata.
Story Telling
Kisah yang sangat terkenal adalah ketika Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu membeli sumur Raumah untuk kepentingan umum. Namun, ada kisah lain yang lebih dekat dengan hadits ini. Ketika Masjid Nabawi diperluas pada masa Utsman, beliau ikut serta dengan hartanya. Para sahabat berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Ini menunjukkan semangat mereka dalam memakmurkan masjid.
Kisah lain yang bisa diambil hikmahnya adalah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau dikenal sangat zuhud dan sederhana. Namun, dalam urusan masjid, beliau sangat perhatian. Diriwayatkan bahwa beliau sering membersihkan masjid dan memperhatikan kondisinya. Ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid tidak hanya dengan membangun, tetapi juga dengan merawat dan menjaganya.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan Ikhlas: Jika ingin membangun atau berpartisipasi dalam pembangunan masjid, niatkan semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari nama atau pujian.
- Boleh Berpartisipasi Sesuai Kemampuan: Tidak harus menjadi donatur terbesar. Setiap rupiah yang kita sumbangkan untuk pembangunan masjid, selama itu ikhlas, akan dicatat oleh Allah.
- Perluas Makna "Membangun": Kita bisa "membangun" masjid dengan cara merenovasi, memperbaiki fasilitas, atau bahkan membantu membersihkan dan merawatnya.
- Jaga Adab di Masjid: Setelah masjid berdiri, kita harus menjaganya dengan memakmurkannya melalui shalat berjamaah, dzikir, dan menuntut ilmu di dalamnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.