Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 735 tentang Keutamaan membangun masjid dan pahalanya di surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar membangun masjid: siapa yang membangun masjid untuk tempat mengingat dan menyebut nama Allah, maka Allah menjanjikan rumah di surga baginya. Amal ini termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir. Yang penting bukan sekadar bangunan megah, tetapi niat ikhlas dan masjid itu benar-benar dipakai untuk beribadah kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan Ibnu Majah no. 735):

Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

"Siapa yang membangun masjid yang di dalamnya disebut nama Allah, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga."

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Masjid dan Jamaah, Bab "Siapa yang Membangun Masjid untuk Allah". Sanadnya melalui Utsman bin Abdullah bin Suraqah al-'Adawi, dari Umar bin al-Khaththab.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. At-Taubah [9]: 18:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk."

Hadits pendukung — Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim:

Dari Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

"Siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di surga."

Hadits ini disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim, dan menjadi penguat makna hadits Ibnu Majah di atas.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits. Hadits ini menunjukkan keutamaan membangun masjid sebagai salah satu amal jariyah yang pahalanya tidak terputus. Nabi ﷺ mengaitkan pembangunan masjid dengan "tempat disebutnya nama Allah" (يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ), yaitu masjid yang difungsikan untuk shalat, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan majelis ilmu — bukan sekadar bangunan yang kosong dari ibadah.

Pemahaman para ulama dalam daftar rujukan:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku bagi siapa saja yang berperan dalam pembangunan masjid, baik dengan harta, tenaga, maupun tanahnya. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud "rumah di surga" adalah balasan hakiki dari Allah, bukan kiasan semata.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini termasuk bab keutamaan sedekah jariyah, dan bahwa pahala pembangunan masjid terus mengalir selama masjid itu digunakan untuk ibadah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. At-Taubah [9]: 18 menegaskan bahwa memakmurkan masjid mencakup membangunnya, merawatnya, dan mengisinya dengan ibadah. Beliau menyatakan bahwa iman yang benar akan mendorong seseorang untuk memakmurkan masjid.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa syarat utama adalah ikhlas: masjid dibangun karena mencari wajah Allah, bukan untuk riya', kebanggaan, atau tujuan duniawi. Beliau juga menekankan bahwa masjid harus benar-benar digunakan untuk dzikir dan shalat.
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya menegaskan bahwa keutamaan ini mencakup semua yang terlibat — yang menyumbang dana, yang menyediakan lahan, yang membangun, dan yang merawatnya — karena mereka semua berkontribusi pada terwujudnya masjid.

Perbedaan pendapat. Sebagian ulama berbeda pendapat apakah keutamaan ini khusus bagi yang membangun secara langsung atau mencakup juga yang membantu. Jumhur ulama — termasuk Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan al-Utsaimin — menyatakan bahwa keutamaan mencakup semua yang berperan dalam pembangunan, karena hadits Utsman bin 'Affan menggunakan lafaz umum "man bana" (siapa yang membangun) yang mencakup berbagai bentuk kontribusi. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan keumuman lafaz hadits dan semangat syariat yang mendorong kerja sama dalam kebaikan.

Catatan penting. Hadits ini tidak berarti bahwa cukup membangun masjid lalu kewajiban ibadah lainnya diabaikan. Membangun masjid adalah salah satu amal, bukan pengganti amal-amal wajib. Demikian pula, masjid yang dibangun harus bebas dari kesyirikan dan bid'ah, karena syarat "disebut nama Allah di dalamnya" mengisyaratkan masjid itu harus bersih dari penyembahan selain Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, ketika kaum Muslimin di Madinah membutuhkan masjid yang lebih luas, membeli sumur Raumah dan tanahnya dengan harga yang sangat mahal, lalu mewakafkannya untuk pembangunan masjid dan keperluan kaum Muslimin. Nabi ﷺ bersabda tentang Utsman:

مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ

"Siapa yang menggali sumur Raumah, maka baginya surga."

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat berlomba-lomba dalam amal jariyah, termasuk membangun dan mewakafkan untuk masjid. Utsman bin 'Affan dikenal sebagai sahabat yang paling banyak berinfak di jalan Allah, dan salah satu wujudnya adalah kontribusinya dalam pembangunan masjid Nabawi dan fasilitas umum kaum Muslimin.

Hikmahnya: amal jariyah seperti membangun masjid adalah investasi akhirat yang tidak akan rugi, karena pahalanya mengalir selama masjid itu digunakan untuk mengingat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bangun atau bantu pembangunan masjid dengan niat ikhlas karena Allah, baik dengan harta, tenaga, lahan, maupun ide.
  2. Pastikan masjid difungsikan untuk shalat, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan majelis ilmu — bukan sekadar bangunan.
  3. Jaga keikhlasan — hindari riya', pamer, atau tujuan duniawi dalam berinfak untuk masjid.
  4. Rawat dan makmurkan masjid yang sudah ada, karena memakmurkan masjid juga termasuk amal yang berpahala besar.
  5. Jangan tinggalkan kewajiban lain — membangun masjid adalah amal tambahan, bukan pengganti shalat, zakat, dan ibadah wajib lainnya.
  6. Ajak keluarga dan masyarakat untuk bersama-sama berkontribusi dalam amal jariyah ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?