Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi seorang muadzin, terutama ketika berada di tempat yang sepi seperti padang pasir. Ketika seorang muslim mengumandangkan adzan dengan suara yang lantang, maka seluruh makhluk yang mendengarnya—baik jin, manusia, pohon, maupun batu—akan menjadi saksi baginya di hari kiamat. Ini adalah dorongan dari Nabi ﷺ agar kita tidak malu atau ragu untuk mengumandangkan adzan, meskipun hanya sendirian di tempat yang sunyi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adzan dan Sunnahnya, Bab Keutamaan Adzan dan Pahala Para Muadzin, no. 723. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas (no. 609) dari jalur Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، - وَكَانَ أَبُوهُ فِي حِجْرِ أَبِي سَعِيدٍ - قَالَ قَالَ لِي أَبُو سَعِيدٍ إِذَا كُنْتَ فِي الْبَوَادِي فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالأَذَانِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ يَقُولُ " لاَ يَسْمَعُهُ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ حَجَرٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ " .
Terjemahan: Dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sa'sa'ah, dari ayahnya—yang berada di bawah asuhan Abu Sa'id—ia berkata: "Abu Sa'id berkata kepadaku: 'Jika kamu berada di padang pasir, angkatlah suaramu saat mengucapkan adzan, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada jin, manusia, pohon, atau batu yang mendengarnya, kecuali akan bersaksi untuknya."'"
Kaitan dengan ulama: Hadits ini diriwayatkan oleh Sufyan bin 'Uyainah (salah satu ulama tabi'ut tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan), dan para ulama seperti Imam al-Bukhari dan Imam Ibnu Majah memuatnya dalam kitab-kitab mereka. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 583).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Anjuran mengeraskan suara adzan
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'aad menyebutkan bahwa di antara sunnah-sunnah adzan adalah mengeraskan suara, karena adzan adalah panggilan untuk shalat. Semakin keras suara, semakin luas jangkauan dakwah dan semakin banyak yang mendengar. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sendiri memerintahkan para muadzin untuk mengeraskan suara.
2. Seluruh makhluk menjadi saksi
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di ketika menafsirkan ayat tentang persaksian makhluk (seperti dalam QS. Fussilat [41]: 20-21 tentang kulit, tangan, dan kaki yang menjadi saksi), menjelaskan bahwa Allah ﷻ mampu menjadikan segala sesuatu berbicara dan bersaksi. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak. Dalam hadits ini, pohon dan batu yang biasanya tidak berbicara, akan dijadikan Allah mampu bersaksi bagi muadzin di hari kiamat.
3. Keutamaan adzan di tempat sepi
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan adzan di tempat yang sepi, karena semakin banyak yang mendengar, semakin banyak pula saksi yang akan memberikan syafa'at. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya adzan bagi musafir yang sendirian di padang pasir.
4. Makna "bersaksi"
Para ulama menjelaskan bahwa persaksian ini adalah persaksian yang hakiki di sisi Allah pada hari kiamat. Ini bukan sekadar metafora, tetapi Allah akan memberikan kemampuan berbicara kepada makhluk-makhluk tersebut. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ini termasuk bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada para muadzin.
5. Perbedaan pendapat tentang hukum adzan bagi musafir
Sebagian ulama berpendapat bahwa adzan bagi musafir yang sendirian adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat selalu beradzan ketika safar. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti'. Beliau juga menyebutkan bahwa adzan di tempat sepi memiliki keutamaan khusus karena menjadi syi'ar Islam di tengah padang yang sunyi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu, muadzin Rasulullah ﷺ, dikenal dengan suaranya yang sangat merdu dan lantang. Ketika beliau mengumandangkan adzan, suaranya menggema di seluruh penjuru Madinah. Para sahabat bercerita bahwa ketika Bilal beradzan, para wanita yang sedang berada di dalam rumah mereka ikut mendengarkan, dan anak-anak kecil pun berhenti bermain untuk mendengarkan panggilan shalat tersebut.
Suatu ketika, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Bilal tentang rahasia kedudukannya yang tinggi di sisi Nabi ﷺ. Bilal menjawab, "Aku tidak memiliki amal yang lebih utama selain aku selalu bersuci meskipun di malam hari, dan aku selalu beradzan setiap kali masuk waktu shalat." (HR. at-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).
Kisah ini menunjukkan bahwa keistiqamahan dalam adzan—meskipun terlihat sederhana—memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Para ulama menyebutkan bahwa muadzin akan mendapatkan syafa'at dari seluruh makhluk yang mendengar suaranya.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah menjadi muadzin — baik di masjid maupun di tempat sepi, karena pahalanya sangat besar.
- Keraskan suara saat adzan — selama tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat atau tidur, karena semakin keras suara, semakin banyak saksi.
- Jangan malu beradzan sendirian — di padang pasir, di perjalanan, atau di tempat yang sepi, karena seluruh makhluk akan menjadi saksi bagimu.
- Yakinlah bahwa Allah mampu menjadikan segala sesuatu bersaksi — ini bagian dari iman kepada hari kiamat dan kekuasaan Allah.
- Jadikan adzan sebagai syi'ar Islam — di mana pun kita berada, agar dakwah Islam selalu terdengar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.