Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 65 tentang Iman mencakup keyakinan hati, ucapan, dan amal perbuatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda tanyakan, "Iman adalah pengetahuan di dalam hati, ucapan di lidah, dan amal dengan anggota tubuh," adalah hadits yang sangat lemah (dha'if) bahkan palsu (maudhu') menurut para ulama ahli hadits. Meskipun makna kandungannya benar dan sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah tentang hakikat iman, sanad (rantai periwayatan) hadits ini bermasalah. Salah satu perawinya, yaitu Abdul Salam bin Shalih Abu Ash-Shalt Al-Harawi, dinilai sebagai perawi yang tertuduh dusta. Karena itu, hadits ini tidak bisa dijadikan dalil, namun maknanya tetap benar karena ada dalil-dalil lain yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Tentang Status Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Muqaddimah, Bab "Fil Iman", no. 65. Namun, para ulama ahli hadits telah meneliti sanadnya dan menghukuminya sebagai hadits yang palsu (maudhu') atau sangat lemah.

  • Imam Adz-Dzahabi dalam Mizanul I'tidal menyebutkan bahwa Abdul Salam bin Shalih Abu Ash-Shalt Al-Harawi adalah perawi yang dituduh memalsukan hadits. Beliau berkata, "Mereka (para ulama) menuduhnya berdusta."
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Lisanul Mizan juga menukil perkataan para ulama tentang kelemahan perawi ini.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah (no. 546) menegaskan bahwa hadits ini maudhu' (palsu). Beliau menjelaskan bahwa cacatnya ada pada Abdul Salam bin Shalih yang tertuduh sebagai pemalsu hadits.

2. Dalil Shahih tentang Hakikat Iman:

Meskipun hadits di atas lemah, maknanya bersesuaian dengan dalil-dalil shahih. Di antaranya:

QS. Al-Hujurat [49]: 14

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ

"Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, "Kami telah tunduk (Islam)." Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu...'"

Ayat ini menunjukkan bahwa iman itu tempatnya di hati, bukan sekadar pengakuan lisan.

Hadits Jibril (HR. Muslim no. 8, dari Umar bin Khaththab):

Dalam hadits yang sangat masyhur ini, ketika Jibril bertanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjawab:

"الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ"

"Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."

Hadits tentang Iman itu Keyakinan Hati, Ucapan Lisan, dan Amalan Anggota Badan (HR. Ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 2873):

"الإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ، وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ"

"Iman adalah ma'rifah (pengetahuan) dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan."

Catatan: Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dengan sanad yang berbeda dari jalur Ibnu Abbas. Syaikh Al-Albani menghasankan atau menshahihkannya dari jalur ini. Jadi, makna hadits ini benar dan memiliki penguat dari jalur lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa iman itu mencakup tiga hal: pembenaran dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Ini adalah definisi iman menurut Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan para ulama salaf lainnya.

  • Imam Asy-Syafi'i berkata, "Iman itu adalah perkataan, amalan, dan niat. Tidak sempurna salah satunya kecuali dengan yang lainnya." (Disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-I'tiqad)
  • Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Iman itu perkataan dan amalan, bisa bertambah dan bisa berkurang." (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ya'la dalam Thabaqat Al-Hanabilah)
  • Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab "Iman itu perkataan dan amalan" dan menyebutkan banyak dalil bahwa amal termasuk bagian dari iman.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa iman menurut Ahlus Sunnah adalah perkataan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan, dan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Mengapa Hadits Ini Dinilai Palsu?

Sanad hadits ini melalui jalur Ali bin Musa Ar-Ridha dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali bin Abi Thalib. Namun, di dalam sanadnya ada Abdul Salam bin Shalih Abu Ash-Shalt Al-Harawi. Para ulama ahli hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Abu Hatim Ar-Razi menilai dia sebagai perawi yang tertuduh dusta.

  • Yahya bin Ma'in berkata, "Dia (Abdul Salam) adalah pendusta."
  • Abu Hatim Ar-Razi berkata, "Dia itu dha'if (lemah), haditsnya tidak bisa ditulis."

Karena itu, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah. Namun, karena maknanya benar dan ada riwayat lain yang shahih atau hasan, maka kita tetap meyakini kandungan maknanya.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang Imam Ahmad bin Hanbal yang menunjukkan pentingnya pemahaman iman yang benar. Suatu ketika, beliau ditanya tentang definisi iman. Beliau menjawab, "Iman itu perkataan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang." Lalu beliau membacakan firman Allah:

"لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ" (QS. Al-Fath [48]: 4)

"Supaya iman mereka bertambah di samping iman mereka yang telah ada."

Beliau menjelaskan bahwa jika iman tidak bisa bertambah, maka doa para nabi dan orang beriman untuk ditambah imannya adalah sia-sia. Ini menunjukkan bahwa iman itu hidup di hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal. (Disebutkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah dengan sanad yang shahih)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menjadikan hadits yang lemah/palsu sebagai dalil, meskipun maknanya benar. Gunakan dalil-dalil yang shahih.
  2. Iman itu mencakup tiga hal: keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Ketiganya harus ada dan saling melengkapi.
  3. Iman bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Karena itu, kita harus selalu menjaga dan meningkatkan iman kita.
  4. Amal adalah bagian dari iman, bukan sekadar buah dari iman. Meninggalkan amal wajib bisa mengurangi bahkan menghilangkan kesempurnaan iman.
  5. Pelajari aqidah dari sumber yang shahih dan dari ulama yang terpercaya, agar tidak terjebak pada dalil-dalil yang lemah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.