Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mendasar dalam agama Islam. Hadits ini sering disebut sebagai "Hadits Jibril" karena dalam riwayat lain (Shahih Muslim), penanya itu adalah Malaikat Jibril yang datang mengajarkan agama kepada manusia. Hadits ini merangkum tiga tingkatan agama: Islam (amalan lahiriah), Iman (keyakinan dalam hati), dan Ihsan (tingkatan tertinggi dalam beribadah). Hadits ini juga mengajarkan tentang tanda-tanda hari kiamat dan bahwa pengetahuan tentang waktu kiamat hanyalah milik Allah semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukadimah, Bab Tentang Iman, nomor 64, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang lebih panjang dan lengkap.
Dalil Al-Qur'an yang dibaca oleh Nabi ﷺ di akhir hadits:
- Nama Surah & Ayat: QS. Luqman [31]: 34
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
> إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
- Terjemahan Ringkas: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini adalah intisari dari ajaran Islam. Para ulama dari kalangan salaf hingga khalaf, seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim-nya, memberikan perhatian besar pada hadits ini. Beliau menyebutnya sebagai hadits yang sangat agung karena mencakup seluruh ajaran agama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga memiliki syarah (penjelasan) khusus untuk hadits ini dalam kitabnya Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah, karena hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits utama dalam kumpulan tersebut.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan definisi yang sangat jelas dan komprehensif tentang tiga tingkatan agama. Mari kita bedah satu per satu:
1. Definisi Iman
Nabi ﷺ menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan pertemuan dengan-Nya, serta beriman kepada kebangkitan akhir."
- Iman kepada Allah: Mencakup iman kepada wujud-Nya, rububiyah-Nya (kekuasaan-Nya), uluhiyah-Nya (hak-Nya untuk disembah), serta nama dan sifat-Nya yang agung.
- Iman kepada Malaikat: Percaya akan keberadaan mereka, bahwa mereka adalah makhluk yang dimuliakan dan selalu taat kepada Allah.
- Iman kepada Kitab-Kitab: Percaya bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk, dan kita wajib mengimani Al-Qur'an sebagai kitab terakhir yang membenarkan dan menjadi hakim atas kitab-kitab sebelumnya.
- Iman kepada Rasul-Rasul: Percaya bahwa Allah mengutus rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Kita wajib mengimani seluruhnya secara global, dan secara terperinci kepada rasul-rasul yang disebutkan namanya dalam Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Iman kepada Pertemuan dengan Allah dan Kebangkitan Akhir: Ini mencakup iman kepada hari kiamat, hisab (perhitungan amal), surga, neraka, dan segala peristiwa setelah kematian. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa iman kepada pertemuan dengan Allah adalah motivasi terbesar bagi seorang hamba untuk beramal saleh dan meninggalkan kemaksiatan.
2. Definisi Islam
Nabi ﷺ menjawab, "Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat yang wajib, menunaikan zakat yang wajib, dan berpuasa di bulan Ramadhan."
- Definisi Islam di sini berfokus pada amalan-amalan lahiriah yang menjadi rukun Islam. Ini adalah pondasi yang harus ditegakkan oleh setiap muslim.
- Perhatikan bahwa dalam riwayat ini, Nabi ﷺ tidak menyebutkan haji, karena pertanyaan ini terjadi di awal-awal Islam sebelum kewajiban haji diturunkan. Dalam riwayat lain yang lebih lengkap (Shahih Muslim), haji disebutkan sebagai bagian dari Islam. Ini menunjukkan bahwa syariat datang secara bertahap.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ibadah yang diterima hanyalah yang ikhlas karena Allah (tidak menyekutukan-Nya) dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
3. Definisi Ihsan
Nabi ﷺ menjawab, "Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
- Ini adalah tingkatan tertinggi dalam agama. Ihsan adalah puncak dari keikhlasan dan kesempurnaan ibadah.
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ihsan memiliki dua tingkatan:
- Musyahadah (seolah-olah melihat): Tingkatan tertinggi, di mana hati seorang hamba begitu dekat dan khusyuk kepada Allah sehingga seakan-akan ia melihat-Nya dengan mata hatinya. Ini didapat dengan memperbanyak dzikir dan merenungkan kebesaran Allah.
- Muraqabah (merasa diawasi): Tingkatan di bawahnya, di mana seorang hamba beribadah dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi dirinya. Ini adalah obat bagi mereka yang belum mencapai tingkatan pertama.
4. Tanda-Tanda Hari Kiamat dan Ilmu Ghaib
Ketika ditanya tentang waktu kiamat, Nabi ﷺ menjawab dengan bijaksana bahwa hal itu bukanlah pengetahuan beliau maupun penanya, melainkan hanya milik Allah. Beliau kemudian menyebutkan dua tanda kiamat:
- Budak wanita melahirkan tuannya: Para ulama menafsirkan ini sebagai tanda bahwa anak akan durhaka kepada orang tuanya, atau bahwa budak akan menjadi penguasa. Ini adalah isyarat tentang terbaliknya keadaan dan hilangnya adab.
- Para penggembala berlomba-lomba meninggikan bangunan: Ini adalah tanda bahwa orang-orang yang dulunya miskin dan sederhana akan menjadi kaya dan sibuk membangun gedung-gedung tinggi, menunjukkan betapa dunia telah menjadi tujuan utama manusia.
Kemudian beliau membacakan ayat QS. Luqman: 34 untuk menegaskan bahwa ada lima perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya: waktu kiamat, turunnya hujan, apa yang ada dalam rahim, apa yang akan terjadi esok hari, dan tempat kematian seseorang.
Story Telling
Hadits ini dalam riwayat Imam Muslim memiliki kisah yang sangat menarik. Suatu hari, ketika Nabi ﷺ sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya. Tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun dari para sahabat yang mengenalnya.
Laki-laki itu duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan hari kiamat. Setelah Nabi ﷺ menjawab semua pertanyaannya, laki-laki itu pun pergi.
Setelah beberapa saat, Nabi ﷺ bertanya kepada sahabatnya, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, "Wahai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Umar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu-ilmu yang diajarkan dalam hadits ini. Malaikat Jibril sendiri turun untuk mengajarkannya kepada umat manusia. Ini adalah pelajaran langsung dari langit yang harus kita pelajari dan amalkan.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits yang agung ini:
- Pelajari dan Amalkan Rukun Islam: Pastikan shalat lima waktu, zakat, dan puasa Ramadhan kita tegakkan dengan sebaik-baiknya.
- Perkuat Aqidah (Iman): Pelajari rukun iman dengan benar, terutama iman kepada Allah dan hari akhir, agar hati kita selalu terikat kepada-Nya.
- Tingkatkan Kualitas Ibadah Menuju Ihsan: Biasakan diri untuk merasa bahwa Allah selalu melihat kita. Ini akan membuat kita malu untuk berbuat dosa dan semakin khusyuk dalam beribadah.
- Jangan Sibuk dengan Waktu Kiamat: Fokuslah pada persiapan untuk menghadapinya, bukan pada menghitung-hitung kapan datangnya, karena itu adalah ilmu ghaib yang hanya Allah yang tahu.
- Jadikan Akhirat sebagai Tujuan: Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya sibuk membangun dunia dan melupakan kampung akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.