Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberi kabar gembira bahwa akan selalu ada sekelompok umat Islam yang tetap teguh di atas kebenaran, ditolong oleh Allah, dan tidak terpengaruh oleh orang-orang yang menghina, meninggalkan, atau memusuhi mereka. Kelompok ini terus ada sampai hari kiamat. Para ulama menjelaskan bahwa mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu orang-orang yang berpegang pada Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para sahabat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2
إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."
Ayat ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah diberikan kepada orang-orang yang benar-benar beriman dan taat, bukan sekadar mengaku beriman.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ, nomor 6. Perawinya adalah Mu'awiyah bin Qurrah dari ayahnya, Qurrah bin Iyas al-Muzani (seorang sahabat Nabi ﷺ).
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Mughirah bin Syu'bah dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, dengan lafaz yang semakna. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ karena telah mengabarkan sesuatu yang terjadi setelah beliau wafat, dan terbukti kebenarannya sepanjang zaman.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa yang dimaksud "thaifah" (kelompok) adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah dan ilmu, dan mereka tersebar di berbagai negeri.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang:
- Mendapat pertolongan Allah (منصورين) — artinya mereka dimenangkan, dikuatkan, dan dijaga oleh Allah dalam menyampaikan kebenaran.
- Tidak dirugikan oleh orang yang meninggalkan atau menghina mereka (لا يضرهم من خذلهم) — artinya pengkhianatan, penghinaan, atau penolakan orang lain tidak melemahkan mereka.
- Terus ada hingga hari kiamat (حتى تقوم الساعة) — artinya kelompok ini tidak akan pernah hilang sepenuhnya dari muka bumi.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud "thaifah" ini. Sebagian mengatakan mereka adalah para ahli hadits, sebagian mengatakan ahli fiqih, sebagian mengatakan ahli jihad, dan sebagian mengatakan mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara umum. Namun an-Nawawi menguatkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah mereka adalah Ahlul Ilmi (orang-orang berilmu) dari kalangan Ahlus Sunnah, karena merekalah yang menjaga sunnah Nabi ﷺ dan membela kebenaran dengan ilmu.
Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa kelompok yang ditolong ini adalah Ahlul Hadits wa as-Sunnah, yaitu orang-orang yang berpegang pada sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman salafus shalih. Beliau menyatakan bahwa mereka ada di setiap zaman dan tempat, dan meskipun jumlah mereka sedikit, mereka tetap ditolong Allah.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa pertolongan Allah kepada kelompok ini bukan berarti mereka selalu menang secara politik atau kekuasaan, tetapi yang dimaksud adalah pertolongan dalam bentuk hujjah (argumen), ilmu, dan keteguhan hati. Mereka tidak dirugikan oleh orang yang meninggalkan mereka karena mereka bergantung kepada Allah, bukan kepada manusia.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Syarh Hadits menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira dan peringatan sekaligus: kabar gembira bagi yang berpegang pada sunnah bahwa mereka tidak akan pernah punah, dan peringatan bagi yang menyimpang bahwa mereka tidak akan mendapat pertolongan Allah.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa pertolongan Allah kepada kelompok ini adalah sunnatullah yang tidak berubah: siapa yang menolong agama Allah, Allah akan menolongnya. Beliau juga menekankan bahwa kelompok ini tidak harus besar jumlahnya, karena pertolongan Allah bukan tergantung pada banyaknya pengikut, tetapi pada keikhlasan dan kebenaran yang mereka pegang.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya berpegang pada sunnah dan tidak boleh merasa lemah ketika melihat banyak orang menyimpang. Beliau berkata: "Jika engkau melihat manusia meninggalkan sunnah, maka berpeganglah pada sunnah itu, karena engkau akan menjadi bagian dari thaifah yang ditolong Allah."
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Al-Bukhari dan Ibn Hibban cenderung menafsirkan "thaifah" sebagai ahli hadits secara khusus. Sementara Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim memperluasnya menjadi Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara umum, termasuk ahli fiqih, ahli tafsir, dan ahli hadits yang berpegang pada manhaj salaf. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa mereka adalah Ahlul Ilmi dari Ahlus Sunnah yang tersebar di berbagai bidang, dan mereka tidak terbatas pada satu kelompok atau satu negeri saja.
Story Telling
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Ujiannya
Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma'mun, terjadi fitnah besar yang dikenal dengan fitnah "Khalqul Qur'an" (pendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk). Para ulama dipaksa untuk mengakui pendapat ini, dan siapa yang menolak akan dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh.
Imam Ahmad bin Hanbal — yang termasuk dalam daftar ulama rujukan kita — menolak untuk mengikuti pendapat yang menyimpang itu. Beliau dipenjara, dicambuk, dan disiksa dengan keras. Banyak orang meninggalkannya, bahkan sebagian ulama pada masa itu menyetujui pendapat penguasa karena takut.
Namun Imam Ahmad tetap teguh. Beliau berkata: "Jika orang-orang berilmu diam, lalu siapa yang akan menyampaikan kebenaran?"
Allah menolong beliau. Setelah Khalifah Al-Ma'mun wafat, kebijakan itu dicabut, dan Imam Ahmad dibebaskan dengan penuh kehormatan. Justru dari ujian itu, nama beliau semakin dikenal, dan murid-murid beliau menyebarkan sunnah ke seluruh penjuru dunia. Inilah bukti nyata dari hadits ini: "Mereka tidak akan dirugikan oleh orang-orang yang meninggalkan mereka."
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan kisah ini sebagai salah satu contoh nyata bagaimana Allah menolong hamba-Nya yang teguh di atas sunnah, meskipun seluruh dunia menentangnya.
Kesimpulan Praktis
- Berpeganglah pada Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ dengan pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, karena itulah jalan kelompok yang ditolong Allah.
- Jangan merasa lemah atau sedih ketika melihat banyak orang meninggalkan sunnah atau menghina orang-orang yang berpegang padanya. Pertolongan Allah tidak tergantung pada jumlah manusia.
- Tetaplah menuntut ilmu agama dari sumber yang benar, karena ilmu adalah senjata utama kelompok yang ditolong ini.
- Jangan menghitung-hitung pengorbanan dalam membela kebenaran. Imam Ahmad bin Hanbal disiksa dan dipenjara, tetapi justru dari sana Allah mengangkat derajatnya.
- Berdoalah agar Allah menjadikan kita bagian dari thaifah yang ditolong, dan jangan pernah merasa aman dari fitnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.