Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukanlah satu kesatuan yang tunggal, melainkan terdiri dari banyak cabang atau bagian. Cabang iman yang paling tinggi adalah keyakinan dan pengakuan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (kalimat tauhid), sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga merupakan salah satu cabang iman yang penting. Ini menunjukkan bahwa amalan-amalan lahir dan batin adalah bagian dari iman, bukan terpisah darinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 35), Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 9) dengan redaksi yang serupa, dan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 57) seperti yang Anda sebutkan. Perawinya adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim (2/6) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil besar bagi Ahlus Sunnah bahwa iman itu mencakup perkataan (ucapan), perbuatan (amalan), dan keyakinan (i'tiqad). Beliau berkata, "Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa iman itu memiliki cabang-cabang dan bagian-bagian. Ini adalah bantahan terhadap golongan Murji'ah yang mengatakan bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (1/51) juga menegaskan hal yang sama, bahwa hadits ini menunjukkan iman itu bertambah dan berkurang. Beliau menyebutkan bahwa para ulama salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya, menjadikan hadits ini sebagai landasan bahwa amal termasuk dalam hakikat iman.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits pokok dalam masalah akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Berikut penjelasan rincinya:
- "Iman itu memiliki enam puluh atau tujuh puluh bagian" : Angka ini menunjukkan banyaknya cabang iman, bukan berarti persis enam puluh atau tujuh puluh. Ini adalah gaya bahasa Arab untuk menunjukkan jumlah yang banyak. Yang penting adalah bahwa iman itu terdiri dari berbagai macam amalan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
- "Yang paling tinggi adalah mengucapkan La ilaha illallah" : Ini adalah inti dan pondasi iman. Kalimat tauhid ini bukan sekadar ucapan di mulut, tetapi harus diyakini dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/248) menjelaskan bahwa kalimat ini adalah kunci surga dan merupakan amalan yang paling utama. Namun, keutamaannya hanya sempurna jika diiringi dengan konsekuensinya, yaitu meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan menjalankan perintah Allah.
- "Yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang berbahaya dari jalan" : Ini menunjukkan bahwa amalan sekecil apa pun, seperti menyingkirkan duri, batu, atau rintangan dari jalan yang bisa membahayakan orang lain, adalah bagian dari iman. Ini mengajarkan bahwa iman itu harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dan akhlak yang baik.
- "Dan rasa malu adalah cabang dari iman" : Rasa malu (al-haya') adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk dan malu kepada Allah, malaikat, dan sesama manusia. Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 24) meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang iman." Ini menunjukkan betapa pentingnya rasa malu dalam menjaga keimanan seseorang.
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, menegaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap dua golongan:
- Golongan Murji'ah yang memisahkan amal dari iman. Mereka mengatakan iman hanya di hati, sehingga amal tidak mempengaruhi iman.
- Golongan Khawarij yang mengeluarkan pelaku dosa besar dari iman. Mereka menganggap dosa besar menghilangkan iman seluruhnya.
Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah. Iman itu mencakup keyakinan, ucapan, dan amalan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Pelaku dosa besar masih disebut mukmin, namun imannya kurang sempurna.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Suatu ketika, beliau melihat seorang pemuda yang tidak bersemangat dalam beribadah. Maka Abu Hurairah berkata kepadanya, "Wahai anak muda, perbaikilah imanmu!" Pemuda itu bertanya, "Wahai Abu Hurairah, bagaimana cara memperbaiki iman?" Abu Hurairah menjawab, "Iman itu memiliki cabang-cabang. Jika engkau malu berbuat maksiat, maka itu adalah iman. Jika engkau menyingkirkan duri dari jalan, itu adalah iman. Jika engkau tersenyum kepada saudaramu, itu adalah iman. Maka, janganlah engkau meremehkan amalan kebaikan sekecil apa pun, karena itu semua adalah bagian dari imanmu."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa iman bukanlah sekadar teori, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang paling besar hingga yang paling kecil.
Kesimpulan Praktis
- Iman itu bertingkat-tingkat: Ada yang tinggi (seperti tauhid) dan ada yang rendah (seperti menyingkirkan duri). Jangan meremehkan amalan kecil, karena itu juga bagian dari iman.
- Amal adalah bagian dari iman: Setiap kebaikan yang kita lakukan, baik yang tampak maupun tidak, akan menambah keimanan kita.
- Jaga rasa malu: Rasa malu adalah perisai yang melindungi iman kita dari perbuatan dosa.
- Jangan putus asa: Jika kita merasa iman lemah, perbaikilah dengan memperbanyak amal shalih, karena iman bisa bertambah dan berkurang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.