Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 44 tentang Wajib mengikuti sunnah dan menjauhi perkara baru

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang 'Irbadh bin Sariyah yang sangat agung. Intinya, setelah shalat Subuh, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat mendalam dan menyentuh hati. Dalam nasihat itu, beliau mewajibkan kita untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin, serta berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk menjauhi perkara-perkara baru (bid'ah) dalam agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab "Mengikuti Sunnah Para Khalifah yang Terpimpin" (no. 44). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad, dengan redaksi yang lebih lengkap. Berikut adalah redaksi lengkap dari riwayat Imam Abu Dawud yang menjelaskan isi nasihat tersebut:

Teks Arab (potongan hadits riwayat Abu Dawud):

> فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Terjemahan: "Barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara baru itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, dan Ibnu Majah no. 42-44)

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini adalah salah satu dalil utama dalam masalah ittiba' (mengikuti) dan tahdzir (memperingatkan) dari bid'ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa seringkali menjadikan hadits ini sebagai landasan dalam menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah dalam berpegang pada sunnah dan ijma' para sahabat. Demikian pula Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarh as-Sunnah menjadikan hadits ini sebagai salah satu pilar dalam menjelaskan pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Para ulama menyebutnya sebagai hadits al-jami' (hadits yang mencakup banyak faedah). Mari kita bedakan poin-poin pentingnya:

  1. Nasihat yang Sangat Mendalam (Mau'izhah Balighah): Ini menunjukkan bahwa nasihat Rasulullah ﷺ sangat fasih, menyentuh, dan membuat hati bergetar. Para sahabat menangis karenanya. Ini adalah metode dakwah yang diajarkan Nabi ﷺ: memberikan nasihat yang menyentuh hati, bukan hanya menyampaikan informasi.
  2. Wasiat Takwa: Ini adalah wasiat pertama dan yang paling utama. Takwa adalah fondasi segala amal. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa takwa adalah inti dari seluruh ajaran Islam, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Perintah Mendengar dan Taat kepada Pemimpin: Ini adalah konsekuensi dari takwa. Selama pemimpin tidak memerintahkan kemaksiatan, maka wajib taat. Ini menjaga persatuan umat dan mencegah perpecahan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam banyak fatwanya menekankan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang ma'ruf selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat.
  4. Berpegang Teguh pada Sunnah Nabi ﷺ dan Sunnah Khulafaur Rasyidin: Ini adalah inti dari hadits ini. "Sunnah" di sini bermakna jalan hidup, bukan hanya amalan sunnah (yang berpahala jika dikerjakan). Maksudnya adalah seluruh ajaran Nabi ﷺ, baik yang wajib maupun yang sunnah. Kemudian beliau menggandengkan dengan sunnah para Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Ini menunjukkan bahwa pemahaman dan praktik para sahabat adalah bagian dari petunjuk yang harus diikuti. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Aqidah Wasithiyyah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah berpegang pada Al-Qur'an, Sunnah, dan ijma' para salaf, dan inilah yang dimaksud dengan mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin.
  5. Larangan dari Perkara Baru (Bid'ah): Beliau mengingatkan dengan sangat keras, "Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru." Kemudian beliau memberikan kaidah yang sangat tegas: "Setiap bid'ah itu sesat." Kaidah ini bersifat umum, mencakup semua bid'ah dalam masalah agama, baik yang berkaitan dengan aqidah maupun ibadah. Imam Asy-Syafi'i berkata, "Bid'ah itu ada dua macam: bid'ah yang tercela dan bid'ah yang terpuji. Yang sesuai dengan sunnah maka terpuji, yang menyelisihi sunnah maka tercela." Namun, Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan bahwa secara umum bid'ah itu tercela, dan inilah yang benar. Adapun perkataan Imam Asy-Syafi'i tentang "bid'ah terpuji" hanyalah secara bahasa, bukan secara syariat, karena secara syariat semua bid'ah itu sesat.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah para sahabat. Ketika mendengar nasihat yang sangat mendalam ini, 'Irbadh bin Sariyah berkata, "Maka kami pun menangis, dan berkata, 'Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.'" (HR. Abu Dawud).

Melihat keseriusan para sahabat, Rasulullah ﷺ kemudian memberikan wasiat yang agung ini. Ini mengajarkan kita bahwa nasihat yang baik akan menyentuh hati dan membuat pendengarnya merasa butuh akan bimbingan lebih lanjut. Para sahabat adalah generasi terbaik karena mereka sangat antusias dalam menerima dan mengamalkan wasiat Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Bertakwalah kepada Allah dalam setiap keadaan, baik saat sendiri maupun di hadapan orang lain.
  2. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin dalam perkara yang ma'ruf, selama tidak bertentangan dengan syariat.
  3. Berpegang teguhlah pada sunnah Nabi ﷺ dalam semua aspek kehidupan, dan pahami sunnah tersebut sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan Khulafaur Rasyidin.
  4. Jauhi segala bentuk bid'ah dalam agama, baik itu dalam masalah aqidah, ibadah, maupun muamalah, karena semua bid'ah adalah sesat.
  5. Pelajari dan amalkan sunnah dengan benar, dan jangan mudah menambah-nambah dalam agama tanpa dalil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.