Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua kenyataan tentang umat Nabi ﷺ: ada orang-orang yang Allah muliakan dengan syafaatnya sehingga banyak orang masuk surga, dan ada pula orang-orang yang karena dosa besarnya menjadi penghuni neraka dalam jumlah besar hingga memenuhi sudut neraka. Hadits ini mengajarkan kita agar tidak meremehkan dosa, sekaligus tidak berputus asa dari rahmat Allah, serta mendorong kita memperbanyak amal dan menjaga lisan serta perbuatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab az-Zuhd, Bab Sifat an-Nar (no. 4323), dari jalur Abdullah bin Qais (Abu Burdah) dari al-Harits bin Uqaisy dari Nabi ﷺ. Perawi sahabat: al-Harits bin Uqaisy. Kitab: Sunan Ibnu Majah.
Makna umum hadits ini sejalan dengan ayat-ayat tentang syafaat dan tentang besarnya neraka, di antaranya:
QS. Al-Baqarah [2]: 255 (potongan yang relevan):
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Terjemahan ringkas: "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di hadapan-Nya tanpa izin-Nya..."
QS. Al-Mulk [67]: 8 (potongan yang relevan):
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
Terjemahan ringkas: "Hampir saja (neraka) itu terpecah karena marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka) itu bertanya kepada mereka: 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'"
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang syafaat dan sifat neraka harus dipahami sesuai zhahirnya tanpa tahrif (menyelewengkan makna) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk), serta tidak menjadikan seseorang berputus asa dari rahmat Allah. Ibnu Katsir dan as-Sa'di menegaskan bahwa syafaat hanya terjadi dengan izin Allah dan bagi orang yang Allah kehendaki, bukan sarana untuk meremehkan dosa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua bagian penting:
Pertama, "Di antara umatku ada yang dengan syafaatnya lebih banyak (daripada anggota suku) Mudar yang akan masuk surga." Ini menunjukkan bahwa di kalangan umat ini ada orang-orang yang sangat mulia di sisi Allah, sehingga doa dan syafaatnya menjadi sebab masuknya banyak orang ke surga. Penyebutan "Mudar" adalah kabilah Arab yang besar dan banyak jumlahnya; maksudnya adalah jumlah yang sangat banyak. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa syafaat yang dimaksud adalah syafaat dengan izin Allah, dan ini merupakan karunia besar bagi orang-orang yang Allah pilih. Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hadits semacam ini mendorong umat untuk berlomba dalam kebaikan agar termasuk orang yang diizinkan memberi syafaat.
Kedua, "Di antara umatku ada yang akan dijadikan besar untuk api neraka hingga mereka memenuhi salah satu sudutnya." Ini menunjukkan bahwa sebagian umat ini ada yang karena dosa-dosanya akan masuk neraka dan menjadi penghuni yang jumlahnya sangat banyak. Ini bukan berarti mereka kekal di neraka jika mereka masih bertauhid, karena Ahlus Sunnah berpendapat bahwa orang beriman yang berdosa tidak kekal di neraka; mereka disiksa sesuai dosanya lalu dikeluarkan dengan syafaat atau rahmat Allah. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya menjelaskan bahwa ancaman neraka bagi orang beriman yang berdosa adalah bentuk keadilan Allah, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa.
Para ulama dari daftar, seperti Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif, menekankan bahwa hadits-hadits tentang neraka dan syafaat harus menumbuhkan rasa takut (khauf) dan harapan (raja') secara seimbang. Takut tanpa harapan membuat putus asa; harapan tanpa takut membuat lalai. As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa rahmat Allah luas, tetapi tidak diberikan kepada orang yang sengaja meremehkan perintah-Nya.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menekankan bahwa hadits ini bersifat targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan), bukan rincian jumlah pasti. Yang paling kuat adalah memahami hadits ini sebagai gambaran besarnya jumlah manusia di surga dan neraka, tanpa menentukan angka, dan tanpa menjadikannya alasan untuk meremehkan dosa atau berputus asa.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang syafaat beliau pada hari kiamat, di mana beliau bersujud kepada Allah dan memuji-Nya, lalu Allah berfirman: "Angkatlah kepalamu, mintalah engkau akan diberi, berilah syafaat engkau akan diizinkan." Lalu beliau memberi syafaat bagi umatnya, dan Allah mengeluarkan sekelompok orang dari neraka. Kisah ini menunjukkan bahwa syafaat adalah karunia Allah yang besar, dan hendaknya kita berusaha menjadi orang yang layak mendapatkannya dengan tauhid dan ketaatan, bukan dengan meremehkan dosa. (Sumber global: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim; penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.)
Kesimpulan Praktis
- Jangan meremehkan dosa sekecil apa pun, karena neraka adalah tempat yang sangat besar dan mengerikan.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena syafaat dan ampunan-Nya luas bagi orang yang bertauhid dan bertaubat.
- Perbanyak amal saleh, jaga lisan dan perbuatan, serta berdoa agar Allah menjauhkan kita dari neraka.
- Pahami hadits tentang neraka dan syafaat dengan pemahaman Ahlus Sunnah: menetapkan maknanya tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menyelewengkan maknanya.
- Jika ada rincian yang tidak dijelaskan tegas oleh ulama dalam daftar, kembalikan kepada ulama terpercaya dan jangan mengarang penafsiran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.