Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 43 tentang Wajib berpegang pada sunnah dan khalifah yang terpimpin

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah wasiat agung Nabi ﷺ kepada para sahabatnya: berpegang teguhlah pada sunnah Nabi ﷺ dan sunnah para khalifah yang lurus (Khulafa' Rasyidin), serta taat kepada pemimpin selama tidak memerintahkan maksiat. Nabi ﷺ menegaskan bahwa jalan Islam itu terang benderang, dan siapa yang menyimpang darinya akan binasa. Ketika banyak perpecahan muncul, obatnya adalah kembali kepada sunnah dan pemahaman para sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-'Irbad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab Mengikuti Sunnah Para Khalifah yang Terpimpin (no. 43). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hasan shahih. Para ulama hadits seperti Al-Albani menilainya shahih.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan pentingnya berpegang pada sunnah dan jama'ah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam membahas hadits ini sebagai salah satu pokok agama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan makna "sunnah para khalifah yang terpimpin."
  • Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menegaskan keabsahan hadits ini.

Penjelasan Rinci

1. Nasihat yang mendalam

Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat menyentuh hingga air mata mengalir dan hati bergetar. Ini menunjukkan bahwa nasihat beliau bukan sekadar kata-kata, tetapi penuh hikmah dan menyentuh jiwa. Para sahabat menyadari bahwa ini adalah nasihat perpisahan, sehingga mereka bertanya tentang wasiat terakhir.

2. Jalan yang terang benderang

Nabi ﷺ bersabda: "Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya." Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang jelasnya Islam: tidak ada keraguan dan tidak ada kegelapan dalam pokok-pokok aqidah dan ibadah. Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa yang dimaksud adalah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ secara sempurna.

3. Peringatan tentang perpecahan

Nabi ﷺ memberitakan bahwa akan muncul banyak perpecahan setelah beliau wafat. Ini adalah tanda kenabian yang terbukti. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perpecahan terjadi ketika orang meninggalkan sunnah dan mengikuti hawa nafsu serta pendapat yang menyimpang.

4. Berpegang pada sunnah dan sunnah Khulafa' Rasyidin

Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpegang pada:

  • Sunnah Nabi ﷺ: segala yang datang dari beliau berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan.
  • Sunnah Khulafa' Rasyidin: jalan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa mengikuti mereka adalah bagian dari mengikuti sunnah Nabi ﷺ, karena mereka adalah orang yang paling memahami Islam setelah Nabi ﷺ.

Syeikh al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menegaskan bahwa "sunnah Khulafa' Rasyidin" bukan berarti menambah syariat baru, tetapi menjelaskan dan mengamalkan sunnah Nabi ﷺ secara benar.

5. "Gigitlah dengan gigi geraham"

Ini adalah ungkapan Arab yang berarti: peganglah dengan sangat kuat, jangan lepaskan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menjelaskan bahwa ini menunjukkan urgensi berpegang pada sunnah di tengah badai perpecahan.

6. Taat kepada pemimpin

Nabi ﷺ memerintahkan taat kepada pemimpin, bahkan jika ia seorang hamba dari Habasyah (yang biasanya dianggap rendah). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ketaatan ini berlaku selama pemimpin tidak memerintahkan maksiat. Jika memerintahkan maksiat, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

7. Perumpamaan unta yang patuh

Nabi ﷺ mengumpamakan orang beriman seperti unta yang memiliki cincin di hidungnya: ke mana pun diarahkan, ia patuh. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah gambaran ketaatan dan kepatuhan orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada pemimpin selama dalam kebaikan.

Story Telling

Al-'Irbad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang mulia. Beliau termasuk ahli Suffah, yaitu para sahabat yang tinggal di masjid Nabi ﷺ untuk menuntut ilmu. Beliau dikenal sebagai orang yang zuhud dan wara'.

Suatu hari, Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat mendalam. Para sahabat yang mendengarnya menangis dan hati mereka bergetar. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, ini seperti nasihat orang yang akan berpisah. Apa wasiatmu kepada kami?"

Nabi ﷺ kemudian memberikan wasiat yang menjadi pedoman umat Islam hingga hari kiamat: berpegang pada sunnah beliau dan sunnah para khalifah yang lurus, serta taat kepada pemimpin.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sungguh, seorang hamba yang berpegang pada sunnah Nabi ﷺ dan sunnah para sahabatnya, lalu ia meninggal dalam keadaan demikian, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan selamat."

Sufyan ats-Tsauri berkata: "Berpeganglah pada sunnah dan jama'ah, karena sesungguhnya sunnah itu adalah jalan yang jelas."

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari sunnah Nabi ﷺ dengan sungguh-sungguh, baik dalam aqidah, ibadah, maupun akhlak.
  2. Ikuti pemahaman para sahabat (Khulafa' Rasyidin) dalam memahami Islam, karena mereka adalah generasi terbaik.
  3. Waspadai perpecahan dan jangan mudah terpengaruh oleh pendapat yang menyimpang dari sunnah.
  4. Taat kepada pemimpin selama tidak memerintahkan maksiat, dan jangan memberontak tanpa alasan syar'i.
  5. Jadilah seperti unta yang patuh dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  6. Kembalikan setiap perselisihan kepada Al-Qur'an dan sunnah, bukan kepada hawa nafsu atau pendapat manusia semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?