Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting. Pertama, larangan mengunggulkan seorang nabi atas nabi lainnya dengan cara yang bisa menimbulkan perpecahan atau merendahkan yang lain. Kedua, penjelasan Nabi ﷺ tentang kondisi beliau dan Nabi Musa عليه السلام pada hari kiamat, serta bantahan beliau terhadap siapa pun yang mengklaim beliau lebih baik daripada Nabi Yunus عليه السلام. Ini adalah pelajaran adab dalam menyikapi keutamaan para nabi, yaitu kita wajib beriman kepada mereka semua tanpa membeda-bedakan, dan tidak boleh mengunggulkan salah satu dengan cara yang keliru.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhd, Bab Penyebutan Kebangkitan, nomor 4274. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dan Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang disebut dalam hadits:
Allah Ta'ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
"Dan ditiuplah sangkakala, maka mati/lah segala yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)." (QS. Az-Zumar [39]: 68)
Hadits terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُخَيِّرُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ
"Janganlah kalian melebihkan sebagian nabi atas sebagian yang lain." (HR. Al-Bukhari, no. 3412)
Kaitan dengan ulama:
Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini adalah larangan untuk mengunggulkan dengan cara yang merendahkan atau menimbulkan permusuhan. Adapun mengimani bahwa sebagian nabi memiliki keutamaan tertentu berdasarkan dalil, itu diperbolehkan, sebagaimana firman Allah tentang keutamaan sebagian rasul atas sebagian yang lain (QS. Al-Baqarah [2]: 253).
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran besar:
1. Adab terhadap para Nabi
Ketika seorang Yahudi berkata bahwa Nabi Musa عليه السلام lebih utama dari seluruh manusia, seorang sahabat Ansar menamparnya karena merasa hal itu merendahkan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ yang ada di tengah-tengah mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak membenarkan tindakan tersebut secara mutlak. Beliau justru meluruskan pemahaman dengan sabdanya, "Janganlah kalian melebihkan sebagian nabi atas sebagian yang lain."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh tahrim (haram) jika dilakukan dengan cara yang merendahkan nabi lain, atau bisa menimbulkan perpecahan. Adapun jika seseorang meyakini keutamaan Nabi kita ﷺ berdasarkan dalil-dalil yang shahih, seperti sabda beliau, "Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat," maka itu dibolehkan, bahkan dianjurkan, selama tidak merendahkan nabi lainnya.
2. Kondisi Nabi Musa pada hari kiamat
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa beliau adalah orang pertama yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat. Saat itu beliau melihat Nabi Musa عليه السلام sedang memegang salah satu tiang Arsy. Beliau tidak tahu apakah Nabi Musa telah bangkit sebelum beliau, ataukah dia termasuk orang-orang yang dikecualikan oleh Allah dari pingsan pada tiupan pertama, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa pengecualian dalam ayat "إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ" (kecuali siapa yang dikehendaki Allah) dipahami oleh sebagian ulama sebagai pengecualian untuk para syuhada dan beberapa nabi tertentu, dan di antara mereka adalah Nabi Musa عليه السلام. Wallahu a'lam.
3. Bantahan terhadap yang mengunggulkan Nabi ﷺ atas Nabi Yunus
Nabi ﷺ bersabda, "Dan siapa yang mengatakan bahwa aku lebih baik daripada Yunus bin Matta, maka dia adalah pendusta." Ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) beliau yang sangat agung. Beliau melarang umatnya mengunggulkan beliau atas Nabi Yunus عليه السلام.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa larangan ini adalah larangan adab, bukan larangan keyakinan. Karena secara dalil, Nabi kita ﷺ adalah nabi yang paling utama. Namun, karena kisah Nabi Yunus mengandung ujian yang berat, dan beliau telah bertaubat dengan taubat yang agung, maka Nabi ﷺ melarang umatnya menyebut keutamaan beliau dengan cara yang bisa menyakiti perasaan atau merendahkan Nabi Yunus. Ini adalah pelajaran adab yang sangat tinggi.
4. Hikmah dari kisah ini
Kisah ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tidak rela Rasulullah ﷺ direndahkan, meskipun oleh seorang Yahudi yang hanya menyebut keutamaan Nabi Musa. Namun, Nabi ﷺ mengajarkan kepada mereka adab yang lebih tinggi, yaitu tidak membalas dengan kekerasan, tetapi meluruskan dengan ilmu dan hikmah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, seorang Yahudi berkata di pasar Madinah, "Demi yang telah memilih Musa di atas seluruh manusia." Mendengar itu, seorang sahabat Ansar yang sedang berada di pasar langsung marah dan menamparnya. Ia berkata, "Berani-beraninya engkau mengatakan ini, sementara Rasulullah ﷺ ada di antara kami?"
Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau tidak marah kepada sahabatnya, tetapi beliau mengajarkan adab yang lebih mulia. Beliau bersabda, "Allah berfirman: 'Dan ditiuplah sangkakala...' Aku akan menjadi orang pertama yang mengangkat kepalanya, dan aku akan melihat Musa memegang salah satu tiang Arsy. Aku tidak tahu apakah dia telah bangkit sebelumku, atau dia termasuk yang dikecualikan Allah. Dan siapa yang mengatakan bahwa aku lebih baik daripada Yunus bin Matta, maka dia adalah pendusta."
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian melebihkan sebagian nabi atas sebagian yang lain." (HR. Al-Bukhari). Ini adalah pelajaran bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh membuat kita merendahkan nabi-nabi Allah yang lain. Semua nabi adalah utusan Allah yang mulia, dan kita wajib beriman kepada mereka semua.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mengunggulkan seorang nabi atas nabi lainnya dengan cara yang merendahkan atau menimbulkan perpecahan. Cukup beriman kepada mereka semua dan mengimani keutamaan yang disebutkan dalam dalil.
- Jaga adab dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran. Sahabat Ansar marah karena cinta kepada Nabi ﷺ, tetapi Nabi ﷺ mengajarkan cara yang lebih baik, yaitu dengan ilmu dan hikmah, bukan dengan kekerasan.
- Teladani kerendahan hati Nabi ﷺ. Beliau melarang umatnya mengunggulkan beliau atas Nabi Yunus, padahal beliau adalah manusia paling mulia. Ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan keutamaan yang Allah berikan.
- Imani hari kebangkitan dan peristiwa-peristiwa besar di dalamnya. Hadits ini menguatkan keimanan kita kepada hari kiamat, tiupan sangkakala, dan kebangkitan dari kubur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.