Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4253 tentang Allah menerima taubat sebelum nyawa sampai tenggorokan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Intinya, pintu taubat masih terbuka lebar bagi setiap hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut). Artinya, selama kita masih bernafas dan akal masih sehat, Allah ﷻ menerima taubat kita, sebesar apa pun dosa yang telah kita perbuat. Ini adalah rahmat Allah yang tidak terbatas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Penyebutan Taubat, nomor 4253, dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا رَاشِدُ بْنُ سَعِيدٍ الرَّمْلِيُّ، أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ ابْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قَالَ : " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ "

Makna Ringkas: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla benar-benar menerima taubat seorang hamba selama (ruh) belum sampai di tenggorokan.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3537) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6632) dengan lafaz yang semakna. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini hasan shahih dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 4253).

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi semua orang yang berbuat dosa, baik dosa besar maupun kecil. Allah memanggil mereka dengan sebutan "hamba-hamba-Ku" sebagai bentuk kasih sayang, dan memerintahkan mereka untuk tidak berputus asa, karena rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Luasnya Rahmat Allah dan Pintu Taubat

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa taubat adalah pintu pertama menuju Allah dan juga pintu terakhir yang dimasuki oleh para wali Allah. Beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah, selama hamba tersebut bertaubat dengan syarat-syaratnya sebelum datangnya kematian.

2. Batas Waktu Taubat

Hadits ini dengan tegas menjelaskan bahwa batas akhir diterimanya taubat adalah ketika ruh sudah sampai di tenggorokan. Ini adalah momen sakaratul maut di mana seseorang sudah tidak bisa lagi berbicara dengan baik dan pikirannya mulai kacau karena dahsyatnya sakaratul maut.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "selama belum sampai di tenggorokan" adalah selama nyawanya belum sampai pada posisi yang tidak bisa kembali lagi. Beliau juga menukil kesepakatan para ulama bahwa taubat yang diterima adalah taubat nasuha (yang tulus) yang dilakukan sebelum datangnya kematian.

3. Perbedaan dengan Taubat Saat Sakaratul Maut

Para ulama membedakan antara taubat sebelum sakaratul maut dengan taubat saat sakaratul maut. Taubat yang dilakukan ketika ruh sudah sampai di tenggorokan tidak lagi diterima, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa' [4]: 18:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

"Dan taubat itu tidaklah (diterima) dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, lalu dia berkata, 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.'"

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa taubat yang dilakukan setelah melihat malaikat maut dan setelah nyawa sampai di tenggorokan tidak lagi bermanfaat, karena itu adalah taubat dalam keadaan terpaksa, bukan taubat yang lahir dari kesadaran dan keikhlasan.

4. Kisah Fir'aun sebagai Pelajaran

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Yunus [10]: 90-91 tentang Fir'aun yang bertaubat saat tenggelam, namun taubatnya ditolak:

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

"Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?"

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi menjelaskan bahwa taubat Fir'aun ditolak karena dilakukan setelah datangnya azab Allah, yaitu saat dia sudah melihat tanda-tanda kematian yang pasti. Ini berbeda dengan taubat yang dilakukan sebelum datangnya kematian, yang masih diterima oleh Allah.

5. Anjuran untuk Segera Bertaubat

Meskipun pintu taubat terbuka lebar, para ulama tetap menganjurkan untuk segera bertaubat dan tidak menunda-nunda. Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id mengingatkan bahwa seseorang tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemputnya. Menunda taubat adalah bentuk penipuan terhadap diri sendiri, karena bisa jadi kematian datang sebelum sempat bertaubat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh dari seorang ulama salaf yang bernama Al-Fudail bin 'Iyadh rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama besar yang zuhud dan sangat terkenal dengan keilmuannya.

Sebelum menjadi ulama besar, Al-Fudail adalah seorang perampok yang terkenal kejam di jalan antara Abuward dan Sarakhs. Dia memimpin sekelompok perampok yang sering merampok para musafir. Suatu malam, ketika dia sedang berada di atas tembok untuk merampok, dia mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara merdu. Ayat yang dibaca adalah firman Allah dalam QS. Al-Hadid [57]: 16:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"

Mendengar ayat ini, hati Al-Fudail bergetar. Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Wahai Fudail, sungguh telah tiba waktunya untuk bertaubat." Dia kemudian turun dari tembok dan pergi ke sebuah tempat yang sepi. Di sana dia menangis tersedu-sedu dan berdoa kepada Allah memohon ampunan.

Setelah itu, Al-Fudail bertaubat dengan taubat yang sangat tulus. Dia meninggalkan dunia perampokan dan menuntut ilmu agama. Dia bergaul dengan para ulama besar, belajar dari mereka, dan akhirnya menjadi salah satu ulama yang paling zuhud dan paling banyak ilmunya. Beliau dikenal dengan ucapannya yang sangat menyentuh hati dan nasihat-nasihatnya yang mendalam.

Kisah ini menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertaubat selama nyawa masih di badan. Al-Fudail yang dulunya perampok kejam, dengan izin Allah, menjadi ulama besar yang sangat dihormati. Ini adalah bukti nyata bahwa Allah menerima taubat hamba-Nya selama belum datang sakaratul maut.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Pintu taubat masih terbuka selama kita masih bernafas.
  2. Segera bertaubat dan jangan menunda-nunda, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga.
  3. Perbaiki kualitas taubat dengan memenuhi syarat-syaratnya: menyesali dosa yang telah diperbuat, meninggalkan dosa tersebut seketika itu juga, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus dikembalikan haknya atau meminta maaf kepadanya.
  4. Jadikan taubat sebagai gaya hidup, bukan hanya sekali dua kali. Kita terus berusaha memperbaiki diri setiap hari, karena manusia tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan.
  5. Perbanyak istighfar dan amal shalih, karena amal shalih dapat menghapus dosa-dosa kecil dan menjadi penolong kita di hari kiamat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.