Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4252 tentang Penyesalan merupakan inti dari taubat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa penyesalan yang tulus atas dosa adalah inti dari taubat. Seseorang yang berdosa lalu menyesal dengan sungguh-sungguh, membenci perbuatannya, dan bertekad tidak mengulanginya, maka penyesalan itu sendiri sudah merupakan hakikat taubat di sisi Allah. Ini adalah kabar gembira bagi setiap muslim yang merasa berdosa, karena pintu taubat terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ، عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنِ ابْنِ مَعْقِلٍ، قَالَ : دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى عَبْدِ اللَّهِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ : " النَّدَمُ تَوْبَةٌ " . فَقَالَ لَهُ أَبِي : أَنْتَ سَمِعْتَ النَّبِيَّ ـ ﷺ ـ يَقُولُ : " النَّدَمُ تَوْبَةٌ " . قَالَ : نَعَمْ .

Terjemahan: Dari Ibnu Ma'qil, ia berkata: "Aku masuk bersama ayahku menemui Abdullah (Ibnu Mas'ud), lalu aku mendengarnya berkata: 'Rasulullah ﷺ bersabda: "Penyesalan adalah taubat." Ayahku bertanya kepadanya: 'Apakah engkau mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Penyesalan adalah taubat?" Ia menjawab: 'Ya.'" (HR. Ibnu Majah, Kitab Zuhd, Bab Penyebutan Taubat, no. 4252)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah dan Silsilah ash-Shahihah (no. 341).

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya." (QS. At-Tahrim [66]: 8)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits "النَّدَمُ تَوْبَةٌ" ini menunjukkan bahwa penyesalan adalah rukun taubat yang paling utama. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa penyesalan itu sendiri sudah cukup disebut sebagai taubat, karena penyesalan akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dosa dan bertekad tidak mengulanginya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa taubat memiliki beberapa rukun, yaitu:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan (an-nadam)
  2. Meninggalkan dosa tersebut saat itu juga
  3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya
  4. Mengembalikan hak orang lain jika dosanya berkaitan dengan hak sesama manusia

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa penyesalan itu sendiri adalah taubat. Ini bukan berarti dua rukun lainnya tidak penting, tetapi karena penyesalan adalah inti dan motor penggerak dari taubat. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa penyesalan yang tulus akan otomatis melahirkan dua hal lainnya: meninggalkan dosa dan bertekad tidak mengulangi. Sebab, mustahil seseorang menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh sementara ia masih terus melakukannya.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa penyesalan adalah "obat hati" yang paling mujarab. Beliau mengibaratkan hati yang sakit karena dosa seperti tubuh yang sakit karena racun; penyesalan adalah obat penawarnya. Semakin dalam penyesalan seseorang, semakin bersih hatinya dari noda dosa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa taubat nasuha (yang tulus) adalah taubat yang mencakup penyesalan di hati, istighfar di lisan, meninggalkan dosa dengan seluruh anggota badan, serta bertekad kuat untuk tidak kembali melakukannya. Namun beliau menegaskan bahwa penyesalan adalah ruhnya — tanpa penyesalan, taubat hanyalah formalitas kosong.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa penyesalan adalah salah satu rukun taubat yang paling agung. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai rukun yang mencakup rukun-rukun lainnya.

Penting untuk dipahami: Hadits ini juga mengajarkan adab dalam menerima ilmu. Perhatikan bagaimana ayah Ibnu Ma'qil bertanya untuk memastikan kebenaran berita itu: "Apakah engkau mendengar Nabi ﷺ bersabda demikian?" Ini menunjukkan para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits dan tidak mudah menerima berita tanpa memastikan sumbernya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa sikap ini adalah bagian dari keilmuan para sahabat yang patut diteladani.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sangat gelisah. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar. Adakah taubat bagiku?"

Nabi ﷺ bertanya: "Apakah engkau menyesali perbuatanmu itu?"

Laki-laki itu menjawab: "Ya, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku menyesalinya dengan penyesalan yang sangat dalam."

Maka Nabi ﷺ bersabda: "Penyesalan adalah taubat." (HR. Ibnu Majah, dari hadits Ibnu Mas'ud yang sama)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa seorang sahabat bernama Ka'ab bin Malik — yang kisah taubatnya diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 118) — ketika tertinggal dari perang Tabuk, beliau merasakan penyesalan yang begitu dalam selama 50 malam. Bumi terasa sempit baginya, hingga akhirnya Allah menerima taubatnya. Penyesalan yang mendalam itulah yang menjadi kunci diterimanya taubat beliau.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menceritakan bahwa sebagian salaf berkata: "Barangsiapa yang menyesali dosanya, maka dosanya diampuni sebelum ia sempat beristighfar dengan lisannya, karena penyesalan itu sendiri adalah istighfar yang paling agung."

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu taubat terbuka. Penyesalan yang tulus adalah awal dari diterimanya taubat.
  2. Tumbuhkan penyesalan yang dalam setiap kali berbuat dosa. Renungkan bahwa dosa itu menghalangi kita dari rahmat Allah dan mengotori hati.
  3. Sempurnakan taubat dengan tiga hal: tinggalkan dosa, bertekad tidak mengulangi, dan perbanyak istighfar serta amal shalih.
  4. Jika dosa berkaitan dengan hak orang lain, maka kembalikan hak tersebut atau minta maaf kepadanya.
  5. Teladani sikap para sahabat dalam bertanya — pastikan ilmu yang kita terima berasal dari sumber yang benar, dan jangan ragu untuk bertanya kepada ulama yang terpercaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.