Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4251 tentang Bab Penyebutan Taubat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa tabiat manusia tidak lepas dari salah dan dosa, tetapi Allah membuka pintu taubat bagi siapa pun. Sebaik-baik orang yang berbuat salah bukanlah yang sempurna tanpa dosa, melainkan mereka yang segera kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus. Oleh karena itu, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, dan biasakanlah bertaubat setiap kali terjatuh dalam kesalahan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَـٰعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah (Muhammad): "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

QS. At-Tahrim [66]: 8

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا ۖ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

2. Hadits yang dimaksud

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Zuhd, Bab Penyebutan Taubat (no. 4251) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Teksnya:

> كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

> "Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 2499) dan Imam Ahmad (no. 13361) dengan sanad yang saling menguatkan, sehingga berderajat hasan (baik).

3. Penjelasan Ulama dari Daftar

  • Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H) – seorang tabi'in besar – berkata tentang ayat “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah”: “Ayat ini turun untuk orang yang berbuat dosa besar, dan tetap terbuka pintu taubat selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (Diriwayatkan oleh Ibn Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya).
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (syarah Arba’in Nawawiyah) menjelaskan hadits ini: “Nabi ﷺ mengabarkan bahwa manusia mana pun pasti memiliki kesalahan, dan maksiat adalah bagian dari tabiat manusia. Maka sebaik-baik di antara mereka adalah yang segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Bukan berarti dengan berbuat salah ia menjadi lebih baik, tetapi karena taubat itulah yang mengangkat derajatnya.”
  • Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Riyadhus Shalihin (bab Taubat) menyebut hadits ini sebagai dalil bahwa taubat harus dilakukan setiap kali berbuat dosa, dan bahwa rahmat Allah meliputi semua hamba yang kembali kepada-Nya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarah Riyadhus Shalihin menekankan: “Hadits ini memberi harapan besar, namun juga menuntut kesungguhan bertaubat. Syarat taubat: meninggalkan dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulangi.”

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Sabda Nabi ﷺ “Kullu bani adama khaththa’” (setiap anak Adam adalah khaththa’) – kata khaththa’ adalah shighat mubalaghah (bentuk yang menunjukkan banyak/berulangnya perbuatan salah). Artinya, manusia secara fitrah cenderung lalai dan melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Namun ini bukan alasan untuk terus berbuat dosa, melainkan pengakuan bahwa manusia tidak maksum (terjaga dari dosa) kecuali para nabi.

Kemudian sabda beliau: “Wa khairul khaththa’ina at-tawwabun” (sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat). Kata at-tawwabun (orang-orang yang bertaubat) adalah bentuk jamak dari tawwab, yang artinya orang yang sering kembali kepada Allah setelah berbuat dosa. Maka keutamaan bukan terletak pada kesalahan itu sendiri, melainkan pada sikap setelah berbuat salah: apakah ia segera kembali kepada Allah atau malah terus tenggelam dalam maksiat.

Penerapan oleh Para Salaf

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (tabi'in, wafat 117 H) – salah seorang perawi dalam sanad hadits ini – berkata: “Orang yang beriman itu jika berbuat dosa, ia merasa sedih dan bertaubat. Sedangkan orang munafik, jika berbuat dosa, ia merasa tenang dan terus melakukannya.” (Riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).
  • Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) ditanya: “Wahai Abu Abdullah, bagaimana seseorang bisa istiqamah?” Beliau menjawab: “Dengan sering beristighfar dan bertaubat, karena setiap anak Adam pasti lalai.” (Riwayat Abu Nu'aim dalam al-Hilyah).
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa taubat adalah awal perjalanan menuju Allah, bukan sekali saja tetapi berulang. Bahkan para nabi pun bertaubat – Nabi Adam, Nuh, Musa, Daud, dan Muhammad ﷺ – semuanya memohon ampun kepada Allah.

Perbedaan Pendapat yang Relevan

Di kalangan ulama Ahlus Sunnah, tidak ada perbedaan prinsipil tentang wajibnya taubat dari setiap dosa. Yang berbeda hanyalah dalam detail:

  • Apakah taubat dari dosa kecil harus dilakukan secara spesifik? Jumhur ulama (termasuk Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Malik) mengatakan: taubat dari dosa apapun – besar atau kecil – adalah wajib.
  • Apakah taubat diterima jika masih melakukan dosa lain? Diterima untuk dosa yang ditaubati, sementara dosa lain tetap harus ditaubati juga.

Kesimpulan yang kuat: Taubat harus dilakukan dengan segera, dan tidak perlu menunda karena dosa yang terus-menerus, selama ruh belum sampai di kerongkongan (lihat hadits: “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan” – HR. Tirmidzi, hasan).

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang lelaki di zaman Nabi ﷺ yang telah membunuh 99 orang. Setelah itu ia bertanya kepada seorang alim: “Apakah ada taubat bagiku?” Sang alim menjawab, “Tidak ada.” Maka ia membunuh alim itu hingga genap seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi kepada seorang alim lainnya (dari kalangan ahli ilmu) tentang taubat. Alim itu menjawab, “Siapa yang menghalangimu bertaubat? Pergilah ke negeri ini (negeri yang baik) – dan ia pun pergi. Namun di tengah perjalanan ia meninggal. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Kemudian Allah memerintahkan agar diukur jarak antara kedua negeri: karena hatinya condong kepada negeri kebaikan dan ia hampir sampai, maka ia diampuni. (HR. Muslim no. 2766).

Hikmah:

Kisah ini menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah dan betapa indahnya husnul khatimah. Orang yang telah membunuh 100 orang – sebuah kejahatan luar biasa – namun karena ia jujur mencari taubat dan berusaha meninggalkan lingkungan maksiat, Allah menerima taubatnya. Hadits ini (dari riwayat Abu Sa'id al-Khudri dalam Shahih Muslim) sangat cocok untuk memotivasi orang yang merasa dosanya terlalu besar. Jangan sekali-kali meremehkan taubat, dan jangan pula putus asa.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadarilah tabiat kita sebagai manusia yang tidak luput dari dosa. Jangan merasa sombong dengan amal kita, dan jangan pula terjebak dalam keputusasaan.
  2. Segera bertaubat setiap kali berbuat salah, baik dosa kecil maupun besar. Jangan menunda, karena kematian bisa datang kapan saja.
  3. Perbarui taubat dengan tiga syarat: meninggalkan dosa, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulangi. Jika dosa terkait dengan hak orang lain, maka harus minta maaf atau mengembalikan haknya.
  4. Jadilah “at-tawwab” – orang yang sering kembali kepada Allah. Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah, melainkan selalu bangkit setelah terjatuh.
  5. Jangan meremehkan dosa kecil, karena dosa kecil jika terus-menerus akan menjadi besar. Namun jangan pula berlebihan dalam merasa berdosa sehingga lupa bahwa Allah Maha Pengampun.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.