Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk memilih amal yang kita mampu lakukan secara rutin, bukan amal yang banyak tetapi hanya sekali-sekali atau tidak bertahan lama. Karena kunci diterimanya amal di sisi Allah adalah keistiqamahan dan kontinuitas, meskipun amal itu sedikit. Allah lebih mencintai amal yang sedikit tetapi terus-menerus dikerjakan daripada amal yang banyak tetapi terputus.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Dalil Hadits
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Az-Zuhud, Bab “Al-Mudawamah ‘alal ‘Amal” (no. 4240). Hadits ini memiliki penguat dari riwayat lain yang lebih shahih, seperti dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
> “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.’” (HR. al-Bukhari no. 6464, Muslim no. 783)
Dalam satu riwayat Muslim, Aisyah berkata: “Nabi ﷺ apabila melakukan suatu amal, beliau mempertahankannya (secara rutin).” (HR. Muslim no. 783)
2. Penjelasan Ulama dari Daftar
- Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan: “Hadits ini menganjurkan untuk beramal secara kontinu dan sedikit, dan melarang berlebihan dalam ibadah hingga menyebabkan malas dan putus. Amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih utama daripada amal yang banyak tetapi terputus, karena dengan kontinuitas akan menimbulkan dampak yang langgeng dalam ketaatan dan menguatkan hati.”
- Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) mengatakan: “Hadits ini mengandung dorongan agar seorang hamba memilih amal yang ia mampu lakukan terus-menerus, karena sesungguhnya amal yang sedikit dan langgeng lebih utama daripada amal yang banyak tetapi tidak langgeng. Amal yang langgeng, meskipun sedikit, akan lebih mudah diterima dan lebih besar pahalanya karena kesungguhan hamba dalam mempertahankannya.”
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam Fathul Bari) menjelaskan: “Maksud ‘amal yang kontinu’ adalah amal yang dikerjakan secara berkesinambungan setiap hari atau setiap malam, bukan berarti setiap waktu tanpa henti. Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk memilih amal yang ringan dan tetap, sehingga tidak membuat jenuh dan putus asa.”
3. Dukungan dari Al-Qur’an
Allah berfirman:
> لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
> (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini menegaskan bahwa ajaran Islam selalu memperhatikan kemampuan manusia, tidak berlebih-lebihan atau mempersulit.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung bimbingan agung dalam beribadah dan beramal shalih. Kata “اِكْلَفُوا” (iklafu) artinya “ambillah” atau “pilihlah” dengan penuh kesungguhan. Ini menunjukkan bahwa kita hendaknya memilih amal yang sesuai dengan kemampuan kita, bukan yang melampaui batas. Karena jika kita memaksakan diri melakukan amal yang berat di luar kemampuan, biasanya akan menyebabkan kelelahan dan akhirnya ditinggalkan sama sekali.
Kemudian sabda Nabi ﷺ: “فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ” (Sesungguhnya sebaik-baik amal adalah yang paling kontinu meskipun sedikit). Kata “أَدْوَمُهُ” (adwamuhu) adalah isim tafdhil yang berarti “yang paling langgeng” atau “yang paling kontinu”. Maka yang menjadi tolok ukur kebaikan amal bukan pada kuantitas atau beratnya, melainkan pada istiqamah dan kontinuitasnya.
Pendapat Ulama dalam Daftar
- Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Seandainya amal seorang hamba bisa membuatnya masuk surga, maka amal itu pasti akan menyebabkan kelelahan dan putus. Tetapi kunci masuk surga adalah rahmat Allah.” (diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum). Ini menunjukkan bahwa amal bukanlah segalanya, tetapi rahmat Allah dan keistiqamahan dalam ketaatan.
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat menganjurkan para penuntut ilmu untuk beramal sedikit tetapi rutin. Beliau sendiri dalam ibadah malam, kadang membaca surat pendek namun tidak pernah meninggalkannya.
Perbedaan Minimal
Tidak ada perbedaan prinsip di antara ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits ini. Hanya saja, sebagian ulama (seperti Abu Hanifah dan Syafi’i) menekankan bahwa amal yang kontinu tetap harus disertai niat ikhlas dan sesuai sunnah. Tidak boleh menjadikan kekontinuan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan amal yang tidak sesuai tuntunan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah ﷺ apabila melakukan suatu amal, beliau selalu mempertahankan kontinuitasnya. Dan beliau apabila tertidur di malam hari hingga terlewat shalat malam, beliau menggantinya dengan shalat dua belas rakaat di siang hari.” (HR. Muslim no. 746)
Dari sini kita dapat hikmah: Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan terbaik dalam keistiqamahan. Beliau tidak pernah meninggalkan amal yang sudah menjadi kebiasaan beliau, meskipun hanya sedikit. Beliau mengajarkan bahwa amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih dicintai Allah dibanding amal besar yang hanya sesekali.
Kisah lain: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sangat konsisten melaksanakan shalat sunnah fajar (qabliyah subuh) di rumahnya, dan ia tidak pernah meninggalkannya. Beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya.” (HR. al-Bukhari no. 1165)
Hikmah: Istiqamah dalam amal kecil akan membentuk pribadi yang kuat dan disiplin, serta mendatangkan keberkahan waktu dan tenaga.
Kesimpulan Praktis
- Pilih amal yang ringan dan bisa dirutinkan, misalnya: shalat sunnah rawatib, membaca surah Al-Ikhlas setiap pagi dan petang, atau sedekah harian meskipun sedikit.
- Jangan memaksakan diri dengan ibadah berat di awal yang justru membuat kita cepat bosan dan meninggalkannya sama sekali.
- Jadikanlah keistiqamahan sebagai target utama, bukan banyaknya amal.
- Niatkan setiap amal untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berharap rahmat-Nya.
- Teladani Nabi ﷺ dan para sahabat yang sangat menjaga kontinuitas ibadah mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.