Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4234 tentang Dua hal yang membuat manusia tidak pernah merasa tua

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kondisi alamiah manusia. Meskipun tubuhnya sudah tua dan melemah, ada dua keinginan yang tidak pernah tua: keinginan untuk terus menambah harta dan keinginan untuk terus berumur panjang. Ini adalah peringatan agar kita tidak terlena oleh dua hal tersebut, dan sebaliknya menjadikan umur dan harta sebagai bekal untuk ketaatan kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

<p>يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَيَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ : الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ</p>

Terjemahan: "Anak Adam menjadi tua, tetapi ada dua hal yang tetap muda dalam dirinya: keinginan terhadap harta dan keinginan untuk hidup lama."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Humazah [104]: 1-3

<p>وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ۝ الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ ۝ يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗ</p>

Terjemahan: "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."

Ayat ini menggambarkan orang yang sangat cinta harta hingga merasa hartanya bisa membuatnya hidup selamanya, padahal itu adalah sangkaan yang keliru.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah dua sifat ini tidak pernah hilang dari manusia seiring bertambahnya usia, bahkan semakin tua semakin kuat keinginannya. Beliau menukil perkataan Al-Khattabi bahwa ini adalah kabar tentang tabiat manusia yang tidak berubah.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat mensyarah hadits semakna dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud "tetap muda" adalah keinginannya tidak pernah berkurang, bahkan bertambah seiring usia.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran penting:

1. Tentang Harta (الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ)

Manusia tidak pernah puas dengan harta. Semakin tua, semakin kuat keinginannya untuk mengumpulkan harta, padahal kebutuhannya semakin sedikit. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa cinta harta yang berlebihan adalah akar dari banyak penyakit hati seperti kikir, tamak, dan riya'. Beliau mengingatkan bahwa harta hanyalah wasilah (perantara) untuk beribadah, bukan tujuan hidup.

2. Tentang Umur (الْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ)

Manusia sangat cinta pada kehidupan, sehingga ia selalu berharap umurnya panjang. Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa cinta umur panjang itu sebenarnya baik jika tujuannya untuk memperbanyak ketaatan. Namun, yang tercela adalah jika seseorang hanya ingin hidup lama untuk bersenang-senang dan menumpuk harta tanpa mempersiapkan bekal akhirat.

Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya) ketika menjelaskan ayat tentang orang yang mengira hartanya mengekalkannya, beliau berkata: "Manusia itu sangat cinta pada dunia, sehingga ia lupa bahwa kematian itu pasti datang. Ia sibuk mengumpulkan harta yang tidak akan dibawanya mati."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan agar kita tidak menjadi budak harta dan umur. Keduanya adalah sarana, bukan tujuan. Jika harta dan umur digunakan untuk ketaatan, maka keduanya menjadi sebaik-baik bekal. Namun jika digunakan untuk kemaksiatan, maka keduanya menjadi bencana.

Pelajaran penting: Hadits ini tidak melarang memiliki harta atau berharap umur panjang. Yang dilarang adalah keinginan yang berlebihan (الْحِرْصُ) yang membuat seseorang lupa akhirat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata kepada para sahabatnya:

"Wahai anak Adam, engkau telah menghabiskan umurmu untuk mengumpulkan harta yang tidak akan engkau makan kecuali sekadar mengisi perutmu, dan tidak akan engkau pakai kecuali sekadar menutup auratmu. Maka ke mana perginya sisa hartamu? Ia akan menjadi warisan bagi ahli warismu, dan engkau akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Sungguh, betapa banyak orang yang sibuk mengumpulkan harta untuk orang lain, dan betapa banyak orang yang bersusah payah untuk sesuatu yang akan menjadi penyesalannya."

Kemudian beliau membacakan firman Allah:

<p>وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ</p>

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm [53]: 39)

Hikmah: Kita sering lupa bahwa harta yang kita kumpulkan dengan susah payah akan ditinggalkan, dan yang kita bawa hanyalah amal shalih. Maka jangan biarkan keinginan terhadap harta dan umur panjang membuat kita lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari fitrah ini – Bahwa keinginan terhadap harta dan umur panjang adalah tabiat manusia. Jangan heran jika keduanya terus ada dalam diri kita.
  2. Kendalikan dengan iman – Jadikan keinginan itu sebagai motivasi untuk berbuat baik, bukan untuk berlebihan dalam hal dunia.
  3. Gunakan harta untuk ketaatan – Harta adalah titipan. Perbanyak sedekah, infak, dan jangan lupa hak orang lain di dalamnya.
  4. Gunakan umur untuk kebaikan – Umur panjang adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal shalih. Jangan sia-siakan dengan hal yang sia-sia.
  5. Perbanyak mengingat kematian – Karena dengan mengingat kematian, kita akan lebih siap menghadap Allah dan tidak terlalu terikat pada dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.