Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4233 tentang Cinta dunia dan harta membuat hati tua tetap muda

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa meskipun usia seseorang telah menua dan raganya melemah, namun kecenderungan hati manusia terhadap dua hal seringkali tetap "muda" dan kuat, yaitu cinta panjang umur (kehidupan) dan cinta harta yang banyak. Ini adalah peringatan agar kita menyadari tabiat hati ini dan mengarahkannya kepada akhirat, bukan tenggelam dalam angan-angan dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab az-Zuhd, Bab al-Amal wa al-Ajal (Hadits no. 4233), dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الْحَيَاةِ وَكَثْرَةِ الْمَالِ

Terjemahan: "Hati orang tua tetap muda dalam dua hal: cinta kepada kehidupan dan banyaknya harta."

Hadits ini memiliki syahid (penguat) dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz:

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ: الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمْرِ

"Manusia menjadi tua, namun dua hal tetap ada padanya: tamak terhadap harta dan tamak terhadap umur." (HR. Al-Bukhari no. 6420, Muslim no. 1047)

Ayat yang berkaitan dengan tema ini:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

"Dan tidaklah (sifat-sifat terpuji itu) diberikan kepada siapa pun kecuali orang-orang yang sabar, dan tidaklah diberikan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat [41]: 35)

Penjelasan Rinci

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "hati orang tua tetap muda" adalah kecenderungan dan keinginan yang kuat terhadap dua hal tersebut tidak berkurang seiring bertambahnya usia, sebagaimana layaknya sifat masa muda yang penuh semangat dan harapan. Yang dimaksud bukanlah hati secara fisik, melainkan kecenderungan dan keinginan batin.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan tabiat dasar manusia yang cenderung mencintai kehidupan dan harta. Beliau menjelaskan bahwa yang tercela adalah apabila kecintaan ini melampaui batas, sehingga membuat seseorang lalai dari kewajiban dan mengabaikan akhirat. Adapun kecintaan yang wajar dan digunakan untuk ketaatan, maka itu tidak tercela.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa panjang angan-angan (thulul amal) adalah penyakit hati yang membuat seseorang menunda taubat dan amal saleh. Orang tua yang masih berangan-angan panjang seolah-olah akan hidup selamanya, padahal usianya sudah di ujung senja. Ini adalah bentuk kelalaian yang harus diwaspadai.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa cinta harta dan cinta kehidupan adalah dua akar dari banyak penyakit hati. Beliau menyebutkan bahwa keduanya dapat melahirkan sifat kikir, tamak, rakus, dan lalai dari akhirat. Obatnya adalah dengan mengingat kematian, merenungkan singkatnya usia, dan menyadari bahwa harta hanyalah alat untuk beribadah, bukan tujuan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa manusia secara tabiat mencintai kehidupan dan harta, namun seorang mukmin sejati mengarahkan kecintaan itu kepada hal yang bermanfaat untuk akhiratnya. Beliau menekankan bahwa harta yang banyak jika digunakan untuk kebaikan adalah karunia, namun jika menjadi tujuan hidup, maka itulah yang tercela.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini bukanlah celaan terhadap harta secara mutlak, melainkan celaan terhadap kecintaan harta yang berlebihan hingga melupakan Allah. Beliau juga menekankan bahwa panjang umur yang diinginkan seharusnya adalah panjang umur yang digunakan untuk beramal saleh, bukan sekadar panjang umur tanpa amal.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa hadits ini mengingatkan kita bahwa setan terus membisikkan harapan-harapan kosong kepada manusia, termasuk orang tua, agar mereka menunda taubat dan amal. Beliau menasihatkan agar setiap muslim, terutama yang sudah lanjut usia, segera bertaubat dan memperbanyak amal saleh sebelum ajal datang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang yang sangat mencintai ilmu dan selalu dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau pernah berkata bahwa beliau membagi waktunya menjadi tiga bagian: untuk Rasulullah ﷺ, untuk tidur, dan untuk urusan pribadi. Meskipun beliau dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, beliau tetap hidup sederhana dan tidak mengejar harta. Ini menunjukkan bahwa hadits yang beliau riwayatkan tentang cinta harta dan kehidupan bukanlah untuk membenarkan sifat tersebut, melainkan sebagai peringatan agar kita tidak terjebak padanya.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Aku mendapati manusia, dan sungguh aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menakjubkan daripada hati mereka. Mereka berangan-angan panjang, namun ajal mereka lebih dekat daripada angan-angan itu." Beliau juga berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin adalah orang yang menguasai hatinya, sedangkan orang munafik adalah orang yang dikuasai hatinya."

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari tabiat hati: Cinta kehidupan dan harta adalah tabiat dasar manusia. Yang penting adalah bagaimana kita mengarahkannya.
  2. Gunakan harta untuk ketaatan: Harta bukan tujuan, tetapi sarana untuk beribadah dan membantu sesama.
  3. Jangan panjang angan-angan: Ingatlah kematian dan persiapkan bekal untuk akhirat, terutama bagi yang sudah lanjut usia.
  4. Perbanyak amal saleh: Panjang umur yang bermanfaat adalah yang diisi dengan amal saleh, bukan sekadar menunda taubat.
  5. Bertaubatlah segera: Jangan menunda taubat karena merasa masih muda atau masih punya banyak waktu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?