Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa merendahkan, menghina, atau memandang rendah saudara sesama Muslim adalah keburukan yang sangat besar. Bahkan, jika seseorang tidak memiliki dosa lain selain merendahkan saudaranya, maka itu sudah cukup untuk menjadikannya buruk di sisi Allah. Ini adalah peringatan keras tentang bahaya penyakit hati seperti sombong, ujub, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Hadits semakna dengan lafaz yang lebih lengkap diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak merendahkannya. Takwa itu di sini – beliau menunjuk ke dadanya tiga kali – Cukuplah seseorang dikatakan memiliki keburukan jika ia merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim no. 2564)
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras terhadap penyakit tahqir (merendahkan) orang lain. Mari kita simak penjelasan para ulama dari kalangan yang menjadi rujukan kita:
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa merendahkan orang lain merupakan cabang dari kesombongan. Beliau berkata: "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." Maka, orang yang merendahkan saudaranya seakan-akan telah memiliki sebagian sifat sombong yang merupakan dosa besar.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (kitab beliau yang sangat masyhur) menjelaskan makna hadits ini: "Maknanya, cukuplah baginya dosa dan keburukan dengan perbuatan ini (menghina saudaranya). Ini adalah peringatan yang sangat tegas dan keras terhadap perbuatan menghina." Beliau juga menegaskan bahwa menghina termasuk perbuatan yang diharamkan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari saat menjelaskan hadits-hadits tentang adab, beliau menukil perkataan para ulama bahwa merendahkan orang lain itu lahir dari rasa ujub (kagum pada diri sendiri) dan merasa dirinya suci. Padahal, bisa jadi orang yang direndahkan itu lebih mulia di sisi Allah karena ketakwaannya yang tersembunyi.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya saat menafsirkan QS. Al-Hujurat ayat 11, menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk mengolok-olok, merendahkan, dan menghina orang lain. Karena boleh jadi orang yang dihina tersebut lebih baik dan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah daripada orang yang menghina. Ini adalah obat bagi penyakit hati yang suka merendahkan orang lain.
Pelajaran Penting dari Hadits:
- Merendahkan adalah Dosa Besar: Hadits ini menunjukkan bahwa merendahkan saudara Muslim adalah keburukan yang sangat tercela. Bahkan disebut "cukup" sebagai keburukan, artinya dosa ini sangat besar dan berat.
- Larangan Menghina Secara Umum: Perbuatan menghina ini mencakup banyak hal, seperti: mengolok-olok fisik, mengejek keturunan, meremehkan pekerjaan, menghina penampilan, atau merendahkan kemampuan orang lain.
- Bahaya Ujub dan Sombong: Akar dari perbuatan ini adalah perasaan diri lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, atau lebih tinggi kedudukannya. Padahal, kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dengan ketakwaan.
- Menjaga Kehormatan Muslim: Dalam hadits riwayat Muslim di atas, disebutkan bahwa darah, harta, dan kehormatan (harga diri) seorang Muslim itu haram untuk dilanggar. Merendahkan adalah bentuk pelanggaran terhadap kehormatan saudaranya.
Story Telling
Dahulu, ada seorang laki-laki yang selalu merendahkan orang lain karena pekerjaannya sebagai tukang bekam. Ia merasa pekerjaannya lebih mulia. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang merendahkan tukang bekam tersebut. Beliau bersabda: "Sesungguhnya pekerjaan kalian (bekam) adalah salah satu pekerjaan yang paling baik." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).
Kisah ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dianggap remeh oleh sebagian orang, justru dipuji oleh Rasulullah ﷺ. Ini mengajarkan kita untuk tidak pernah merendahkan profesi atau pekerjaan orang lain, karena bisa jadi pekerjaan tersebut lebih bermanfaat dan lebih dicintai Allah daripada pekerjaan kita.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Lisan dan Hati: Hindari perkataan, sindiran, atau candaan yang bisa merendahkan orang lain. Jagalah hati dari perasaan sombong dan ujub.
- Lihat Kelebihan Orang Lain: Biasakan melihat kebaikan dan kelebihan orang lain, bukan mencari-cari kekurangannya untuk dijadikan bahan hinaan.
- Sadari Bahaya Riya dan Ujub: Merendahkan orang lain seringkali lahir dari rasa bangga pada diri sendiri. Ingatlah bahwa semua yang kita miliki adalah titipan Allah yang bisa diambil kapan saja.
- Jika Melihat Kekurangan Orang Lain: Doakanlah dia agar Allah memperbaikinya, dan jadikan kekurangannya sebagai pelajaran untuk diri sendiri agar tidak terjatuh pada hal yang sama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.