Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa dua dosa besar, yaitu kezaliman (al-baghyu) dan memutus tali silaturahmi (qathi'atur rahim), memiliki konsekuensi ganda: pelakunya akan mendapatkan hukuman di dunia (sebelum akhirat) dan juga siksa yang disimpan di akhirat. Ini menunjukkan betapa besarnya bahaya kedua dosa ini dan pentingnya menjauhi serta bertaubat darinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Az-Zumar [39]: 10
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۖ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.
Hadits:
Hadits riwayat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Azh-Zhulm, no. 4211. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya dengan sanad yang shahih.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Al-Jawab al-Kafi menjelaskan bahwa kezaliman dan pemutusan silaturahmi termasuk dosa besar yang balasannya disegerakan di dunia. Beliau berkata, "Di antara dosa yang paling cepat balasannya adalah kezaliman dan pemutusan silaturahmi. Pelakunya akan merasakan akibatnya di dunia sebelum akhirat, berupa hilangnya keberkahan, sempitnya rezeki, dan kegelisahan hati."
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman saat menafsirkan QS. Az-Zumar [39]: 10 menekankan bahwa orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, sementara orang yang zalim dan memutus silaturahmi akan merasakan keburukan di dunia sebagai balasan awal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang dua dosa yang sangat dibenci Allah dan memiliki dampak buruk yang nyata di dunia.
1. Makna "Kezaliman" (Al-Baghyu):
Kezaliman adalah melampaui batas dalam berbuat aniaya terhadap orang lain. Ini mencakup segala bentuk pelanggaran hak, baik hak Allah (seperti syirik dan maksiat) maupun hak sesama manusia (seperti membunuh, mengambil harta secara batil, menipu, mencaci, dan memukul). Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kezaliman adalah lawan dari keadilan. Allah sangat membenci kezaliman dan telah mengharamkannya atas diri-Nya dan menjadikannya haram di antara hamba-Nya.
2. Makna "Memutus Silaturahmi" (Qathi'atur Rahim):
Silaturahmi adalah hubungan kekerabatan dan kasih sayang. Memutuskannya berarti tidak peduli, tidak berkomunikasi, tidak saling membantu, bahkan bermusuhan dengan kerabat dekat. Ini adalah dosa besar yang disebutkan dalam Al-Qur'an (QS. Muhammad [47]: 22-23). Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi."
3. Hukuman yang Disegerakan:
Keistimewaan (atau lebih tepatnya, keburukan) dari dua dosa ini adalah bahwa Allah seringkali menyegerakan hukumannya di dunia. Hukuman itu bisa berupa:
- Hilangnya keberkahan: Rezeki menjadi sempit, umur terasa tidak berkah, dan usaha tidak membuahkan hasil.
- Kegelisahan hati: Pelaku zalim dan pemutus silaturahmi hidup dalam kegelisahan, ketakutan, dan perasaan bersalah yang terus-menerus.
- Kehancuran hubungan sosial: Masyarakat akan menjauhi, dan ia akan hidup dalam permusuhan.
- Bencana dan musibah: Terkadang Allah timpakan musibah sebagai peringatan.
4. Hukuman di Akhirat:
Selain hukuman di dunia, Allah juga menyimpan azab yang lebih pedih di akhirat bagi mereka yang tidak bertaubat. Ini menunjukkan bahwa dosa ini sangat besar dan tidak bisa dianggap remeh.
Pendapat Ulama:
- Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam tafsirnya menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri bahwa "Tidak ada dosa yang lebih cepat balasannya di dunia selain kezaliman dan pemutusan silaturahmi."
- Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menempatkan hadits ini sebagai peringatan agar seorang muslim sangat berhati-hati dalam menjaga lisan dan perbuatannya dari menyakiti orang lain, terutama kerabat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak (salah satu perawi hadits ini), beliau adalah seorang ulama besar yang sangat zuhud. Suatu hari, beliau melihat seorang pemuda yang sangat rajin beribadah, namun pemuda itu terkenal suka memutuskan silaturahmi dengan pamannya. Abdullah bin al-Mubarak menasihatinya, "Wahai anakku, ibadahmu yang banyak tidak akan bermanfaat jika engkau memutuskan silaturahmi. Sesungguhnya aku melihat doa orang yang memutus silaturahmi tidak akan diangkat ke langit." Pemuda itu tidak mengindahkan nasihat tersebut. Tidak lama kemudian, pemuda itu jatuh sakit dan meninggal dalam keadaan yang sangat buruk. Kisah ini menunjukkan bahwa balasan atas pemutusan silaturahmi bisa datang dengan cepat di dunia.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi segala bentuk kezaliman, baik kecil maupun besar, terhadap siapa pun.
- Jaga dan rawatlah tali silaturahmi dengan kerabat, terutama orang tua, saudara, dan keluarga dekat. Minimal dengan menelepon, mengunjungi, atau memberi hadiah.
- Segera bertaubat jika pernah berbuat zalim atau memutus silaturahmi. Taubat yang benar adalah dengan menyesali, meninggalkan, dan bertekad tidak mengulangi, serta meminta maaf kepada yang dizalimi.
- Sadari bahwa balasan dosa bisa datang cepat di dunia. Ini adalah rahmat Allah agar kita segera kembali kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.