Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4207 tentang Bahaya riya dan sum'ah dalam amal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memperingatkan bahwa siapa yang beramal untuk mencari pujian manusia (riya’) atau ingin didengar (sum‘ah), maka Allah akan membalasnya dengan memperlihatkan niat buruknya dan tidak memberinya pahala. Amal harus murni untuk Allah, bukan untuk dilihat atau didengar manusia. Ini adalah pelajaran besar tentang ikhlas dan bahaya riya’ dalam ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

QS. Al-Bayyinah [98]: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Terjemahan: “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhd, Bab Riyaa dan Sum‘ah, dari sahabat Jundab bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga memiliki makna yang sama dengan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah tentang tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat, di antaranya ahli Al-Qur’an yang membaca agar dikatakan “qari’”, orang yang berjihad agar dikatakan “pemberani”, dan orang yang bersedekah agar dikatakan “dermawan”; semuanya tidak mendapatkan pahala karena niatnya bukan untuk Allah.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa riya’ adalah menampakkan amal agar dilihat manusia, sedangkan sum‘ah adalah memperdengarkan amal agar didengar manusia. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa kedua sifat ini membatalkan keikhlasan dan menghapus pahala amal. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ikhlas adalah ruh amal, tanpa itu amal menjadi jasad tanpa nyawa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung ancaman keras bagi orang yang beramal bukan karena Allah. Nabi ﷺ bersabda: “Man yuraa’i yuraa’illahu bihi” — siapa yang beramal untuk dilihat manusia, maka Allah akan memperlihatkan niat buruknya itu kepada manusia, sehingga ia akan terhina. “Wa man yusammi’ yusammi’illahu bihi” — siapa yang beramal untuk didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkan niat buruknya itu, sehingga ia tidak mendapatkan pahala, bahkan mendapat celaan.

Para ulama yang tercantum dalam daftar menjelaskan makna ini dengan sangat jelas:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa riya’ dan sum‘ah adalah syirik kecil yang paling ditakuti Nabi ﷺ atas umatnya. Beliau mengutip hadits “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil,” lalu ditanya apa itu syirik kecil, beliau menjawab: “Riya’.”
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku untuk kuobati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa amal itu seperti tubuh, dan niat adalah ruhnya. Jika ruhnya bukan karena Allah, maka amal itu bangkai yang tidak bernilai di sisi Allah.
  • Syaikh as-Sa’di menegaskan bahwa ikhlas adalah pokok agama, dan setiap amal yang tidak ikhlas akan sia-sia di akhirat.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa hukuman bagi orang yang riya’ adalah dari jenis perbuatannya sendiri: ia ingin dilihat manusia, maka Allah akan memperlihatkan keburukannya; ia ingin didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkan keburukannya. Ini adalah keadilan Allah yang sempurna.

Perlu dipahami bahwa riya’ bisa terjadi dalam ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa, sedekah) maupun dalam amal sosial. Bahkan seorang yang mengajar agama atau berjihad pun bisa terjerumus ke dalamnya jika niatnya bukan karena Allah. Karena itu, para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menjaga niat.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat: seorang yang mati syahid, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmu, serta seorang yang bersedekah. Semuanya diberitahu bahwa amal mereka tidak diterima karena mereka melakukannya agar dikatakan “pemberani”, “alim”, dan “dermawan”. Mereka semua dimasukkan ke dalam neraka.

Kisah ini mengguncang hati para sahabat, termasuk Abu Hurairah yang menangis ketika menyampaikannya. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang mampu selamat dari hal ini?” Nabi ﷺ menjawab: “Bersihkan niatmu, karena Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas untuk-Nya.”

Hikmahnya: betapa besar bahaya riya’ dan sum‘ah, sampai-sampai orang yang mati syahid pun bisa terjerumus ke dalamnya jika niatnya tidak murni. Maka seorang mukmin harus terus memeriksa hatinya dan memperbaiki niatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Setiap amal ibadah harus dilakukan hanya untuk Allah, bukan untuk pujian atau pengakuan manusia.
  2. Riya’ dan sum‘ah adalah dosa besar yang tersembunyi. Keduanya bisa membatalkan pahala amal dan menyebabkan pelakunya terhina di dunia dan akhirat.
  3. Periksa niat sebelum, saat, dan setelah beramal. Para salaf selalu mengoreksi niat mereka, bahkan setelah amal selesai.
  4. Jangan bangga dengan amal yang dilihat orang. Jika seseorang memuji kita karena amal, hendaklah kita berdoa agar Allah menjadikan kita lebih baik dari yang mereka sangka dan memohon ampun atas apa yang tidak mereka ketahui.
  5. Belajar dari kisah tiga orang yang pertama diadili. Kisah ini mengingatkan bahwa amal besar sekalipun bisa sia-sia jika niatnya rusak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?