Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya riya' (ingin dilihat orang) dan sum'ah (ingin didengar orang). Keduanya adalah penyakit hati yang dapat menghapus pahala amal. Inti haditsnya: siapa yang beramal bukan karena Allah, tetapi agar dilihat atau didengar manusia, maka Allah akan membuka aib dan niat buruknya tersebut di hadapan makhluk-Nya pada hari kiamat, sebagai bentuk penghinaan dan balasan yang setimpal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ الْمُخْتَارِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قَالَ " مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللَّهُ بِهِ " .
Makna hadits: "Barangsiapa beramal karena ingin didengar (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan (kepada makhluk-Nya) tentang keburukan niatnya. Dan barangsiapa beramal karena ingin dilihat (riya'), maka Allah akan memperlihatkan (kepada makhluk-Nya) tentang keburukan niatnya."
Hadits semakna dalam Shahih Muslim:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku meninggalkannya dan perbuatan syiriknya itu." (HR. Muslim, no. 2985)
Dalil Al-Qur'an:
QS. Al-Baqarah [2]: 264
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya' (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua penyakit hati yang saling berkaitan:
- Sum'ah (سُمْعَة) : Beramal dengan tujuan agar amalnya didengar orang lain. Contohnya: memperindah suara bacaan Al-Qur'an agar dipuji, memperbanyak dzikir dengan suara keras agar diketahui orang lain bahwa ia rajin beribadah, atau bercerita tentang amal kebaikannya agar didengar dan dipuji.
- Riya' (رِيَاء) : Beramal dengan tujuan agar amalnya dilihat orang lain. Contohnya: memanjangkan shalat ketika ada orang lain melihat, bersedekah di depan umum agar dianggap dermawan, atau berpenampilan zuhud agar dianggap wara'.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa riya' dan sum'ah adalah cabang dari syirik kecil. Keduanya merusak keikhlasan, dan amal yang bercampur dengan keduanya tidak akan diterima oleh Allah. Beliau menukil bahwa riya' adalah "menuntut kedudukan di hati manusia dengan menunjukkan ibadah."
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan makna "مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ" yaitu balasan yang setimpal (muqabalah). Barangsiapa yang beramal bukan karena Allah, maka Allah akan membiarkannya dan menyerahkan urusannya kepada makhluk. Di akhirat nanti, Allah akan membuka kedoknya di hadapan seluruh makhluk, seraya berfirman: "Ini adalah orang yang beramal karena ingin didengar dan dilihat, maka carilah balasannya kepada mereka (manusia)." Dan ternyata manusia tidak bisa memberikan balasan apa pun, sehingga dia pulang dengan kehinaan dan amal yang sia-sia.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah: 264 menjelaskan bahwa Allah menggambarkan amal orang riya' seperti batu licin yang di atasnya ada debu. Ketika hujan lebat turun, debu itu hilang dan batu menjadi bersih. Demikianlah amal orang riya', ia akan hilang sia-sia di akhirat dan tidak ada nilainya di sisi Allah.
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (secara mu'allaq) dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ" (Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil). Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ar-Riya' (pamer)." (HR. Ahmad, no. 23630, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 33).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri — seorang ulama besar tabi'ut tabi'in yang sangat zuhud — pernah menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya penyebab tangisannya, beliau berkata: "Aku takut diriku termasuk orang yang disebut dalam firman Allah: 'Mereka beramal agar dilihat manusia' (riya')." Beliau sangat khawatir jika amalnya yang tampak baik di mata manusia, namun di sisi Allah ternyata tidak ikhlas.
Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat takut dengan penyakit riya'. Mereka yang ilmunya setinggi gunung saja merasa khawatir, lalu bagaimana dengan kita yang amalnya masih sangat sedikit? Rasa takut ini justru menjadi pendorong untuk terus memperbaiki niat dan memohon keikhlasan kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Periksa niat sebelum beramal: Sebelum melakukan kebaikan, tanyakan pada hati: "Apakah aku melakukan ini karena Allah atau karena ingin dipuji manusia?"
- Sembunyikan amal kebaikan: Sebagaimana kita berusaha menyembunyikan dosa, maka sembunyikanlah amal kebaikan agar terhindar dari riya'. Kecuali amal yang memang disyariatkan untuk ditampakkan seperti shalat jama'ah, haji, dan jihad.
- Jangan menceritakan amal ibadah: Hindari menceritakan ibadah-ibadah sunnah seperti puasa sunnah, shalat malam, atau sedekah kepada orang lain, kecuali ada maslahat yang lebih besar seperti memotivasi orang lain.
- Berdoa memohon keikhlasan: Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui). (HR. Ahmad, no. 19430, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami', no. 1280)
- Ingat balasan Allah: Yakinlah bahwa Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Jika kita beramal karena manusia, maka balasannya hanya dari manusia yang tidak bisa memberi manfaat atau mudharat sedikit pun.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.