Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya riya' (beramal untuk dilihat/dipuji manusia). Intinya, amal ibadah yang dicampuri niat selain Allah akan ditolak oleh Allah. Pada hari kiamat nanti, Allah akan memerintahkan pelaku riya' untuk mencari balasan dari orang yang ia cari perhatiannya di dunia, karena Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan sekutu dalam ibadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Riya' dan Sum'ah, no. 4203. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Bazzar, dan dinilai hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman:
QS. Al-Kahf [18]: 110
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Juga dalam QS. Az-Zumar [39]: 65:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, 'Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.'"
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman yang sangat serius bagi orang yang beramal dengan niat riya'. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa riya' adalah syirik kecil, karena pelakunya menginginkan pujian manusia di samping mengharap pahala Allah. Ini berbeda dengan syirik besar (kufur), namun tetap merusak amal.
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa amal yang dicampuri riya' ibarat makanan yang tercampur racun. Meskipun bentuknya baik, namun efeknya merusak. Beliau juga menegaskan bahwa Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya. Jika seorang hamba memalingkan niatnya kepada selain Allah, maka Allah akan menelantarkannya kepada makhluk yang ia harapkan itu.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Kahf: 110 mencakup dua syarat diterimanya amal: (1) ikhlas karena Allah, dan (2) sesuai sunnah Nabi ﷺ. Jika salah satu hilang, amal tersebut tertolak.
Hadits ini juga mengajarkan bahwa pada hari kiamat, Allah akan mempermalukan para pelaku riya' di hadapan seluruh makhluk. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwa tiga golongan pertama yang masuk neraka adalah orang yang beramal untuk dipuji: penghafal Al-Qur'an, pejuang, dan dermawan.
Perlu dibedakan antara riya' (beramal untuk dilihat) dan sum'ah (beramal untuk didengar). Keduanya sama-sama dilarang. Namun, jika seseorang beramal ikhlas karena Allah, lalu ada orang yang memujinya, ini tidak membatalkan amalnya, bahkan bisa menjadi kabar gembira bagi mukmin, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat takut terhadap riya'. Dikisahkan bahwa Fudhail bin 'Iyadh — seorang ulama besar yang zuhud — pernah berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
Beliau juga pernah menangis dan berkata: "Wahai manusia, jika kalian bisa beramal tanpa ingin dilihat dan didengar orang lain, maka lakukanlah. Karena hal itu sulit, namun bukan mustahil bagi orang yang Allah mudahkan."
Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keikhlasan. Mereka lebih memilih menyembunyikan amal kebaikan daripada mencari pujian manusia, karena mereka tahu bahwa pujian manusia tidak akan bermanfaat di akhirat nanti.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Setiap ibadah harus murni karena Allah, bukan untuk pujian, status, atau kepentingan duniawi.
- Riya' adalah syirik kecil yang merusak amal. Jika terlanjur berniat riya', segera perbaiki niat dan beristighfar.
- Sembunyikan amal kebaikan sebisa mungkin, kecuali amal yang memang dianjurkan untuk ditampakkan seperti shalat jama'ah, zakat wajib, atau dakwah.
- Jangan tinggalkan amal karena takut riya', tetapi perbaiki niat dan terus berdoa memohon keikhlasan.
- Pujian manusia tidak boleh menjadi tujuan. Jika dipuji, jadikan itu sebagai motivasi untuk bersyukur dan semakin ikhlas, bukan menjadi tujuan utama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.