Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang sangat agung. Ia mengajarkan bahwa Allah ﷻ Maha Kaya dan tidak membutuhkan sekutu dalam ibadah. Jika seseorang berniat beramal untuk Allah tetapi juga ingin dilihat atau dipuji manusia (riya'), maka Allah akan menolak amal tersebut dan menyerahkannya kepada "sekutu" yang ia maksudkan, yaitu pujian manusia. Artinya, amal yang bercampur riya' tidak akan diterima oleh Allah dan pelakunya tidak mendapat pahala, bahkan bisa jadi berdosa.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Kahfi [18]: 110:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhd, Bab Riya' dan Sum'ah, nomor 4202, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Para ulama menilai hadits ini shahih, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.
3. Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali membahas hadits ini secara panjang lebar dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam ketika menjelaskan hadits tentang ikhlas. Beliau menjelaskan bahwa riya' adalah syirik kecil yang dapat merusak amal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits Qudsi, yaitu hadits yang maknanya dari Allah dan lafaznya dari Nabi ﷺ. Di dalamnya Allah ﷻ berfirman: "Aku adalah Yang Paling Kaya (tidak membutuhkan) di antara sekutu-sekutu."
Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa makna "Aku adalah Yang Paling Kaya di antara sekutu-sekutu" adalah Allah tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya sama sekali. Jika seseorang beramal untuk Allah tetapi juga untuk selain-Nya, maka Allah tidak menerima amal tersebut karena Allah hanya menerima amal yang murni ikhlas untuk-Nya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa riya' adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapus pahala amal seperti api yang membakar kayu bakar. Amal yang bercampur riya' tidak akan sampai kepada Allah, karena Allah hanya menerima amal yang bersih dari segala bentuk kesyirikan.
Para ulama membagi riya' menjadi beberapa tingkatan:
- Riya' murni - Seseorang beramal hanya untuk dilihat manusia, tanpa ada niat ibadah kepada Allah sama sekali. Ini adalah kemunafikan yang sangat tercela.
- Riya' yang bercampur - Seseorang berniat beramal untuk Allah, tetapi juga ingin dilihat dan dipuji manusia. Inilah yang dimaksud dalam hadits ini, yaitu amal yang dicampuri niat selain Allah.
- Riya' yang ringan - Seseorang beramal ikhlas karena Allah, tetapi setelah itu merasa bangga dan senang jika amalnya diketahui orang lain. Ini lebih ringan tetapi tetap harus diwaspadai.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Sebagaimana jasad tidak bisa hidup tanpa ruh, maka amal tidak bisa diterima tanpa ikhlas. Beliau juga menegaskan bahwa riya' adalah salah satu pintu terbesar masuknya setan ke dalam hati manusia.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa cara mengobati riya' adalah dengan memperbanyak doa memohon keikhlasan, menyembunyikan amal kebaikan, dan selalu mengingat bahwa Allah melihat segala amal kita. Beliau juga menekankan pentingnya ilmu, karena dengan ilmu seseorang akan memahami bahaya riya' dan cara menghindarinya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Dahulu para sahabat Rasulullah ﷺ sangat takut terhadap riya'. Salah seorang dari mereka jika beramal, ia khawatir amalnya tidak diterima. Hingga ada yang berkata: 'Seandainya aku bisa masuk ke dalam rumahku dan tidak ada seorang pun yang melihat amalku, maka aku akan melakukannya.'"
Al-Hasan al-Bashri juga pernah berkata: "Sesungguhnya seorang hamba bisa beramal dengan amalan yang tersembunyi, lalu setan membisikkan kepadanya: 'Seandainya engkau menampakkan amalmu ini kepada manusia, mereka akan memujimu.' Maka ia menampakkannya, lalu amalnya menjadi sia-sia."
Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keikhlasan dan sangat takut terhadap riya'. Mereka lebih memilih amal yang tersembunyi daripada amal yang diketahui orang banyak, karena mereka tahu bahwa Allah melihat dan mengetahui segala amal mereka.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas adalah syarat diterimanya amal - Setiap amal ibadah harus diniatkan murni karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji orang lain.
- Riya' adalah syirik kecil yang merusak amal - Amal yang bercampur riya' akan ditolak oleh Allah dan tidak mendapatkan pahala.
- Sembunyikan amal kebaikan - Hendaknya kita berusaha menyembunyikan amal kebaikan kita, kecuali jika ada maslahat syar'i yang mengharuskan untuk menampakkannya.
- Perbanyak doa memohon keikhlasan - Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astaghfiruka lima la a'lam" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang aku tidak ketahui).
- Jangan tinggalkan amal karena takut riya' - Syaikh al-Utsaimin menegaskan bahwa jika setan membisikkan "engkau riya'" ketika hendak beramal, maka jangan tinggalkan amal tersebut. Justru lawan bisikan itu dengan terus beramal dan memurnikan niat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.