Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4179 tentang Bab Menjauh dari Kesombongan dan Bersikap Rendah Hati

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah langsung dari Allah ﷻ kepada Nabi ﷺ agar kita semua saling merendahkan diri (tawadhu') dan melarang keras sifat sombong dan membanggakan diri di hadapan orang lain. Tawadhu' adalah akhlak mulia yang dicintai Allah dan merupakan inti dari ajaran Islam, sedangkan kesombongan adalah sifat pertama yang membuat Iblis durhaka dan diusir dari surga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Perawi: ‘Iyad bin Himar al-Mujasyi’i radhiyallahu ‘anhu
  • Kitab: Sunan Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Bab Menjauh dari Kesombongan dan Bersikap Rendah Hati, no. 4179
  • Sanad: Ahmad bin Sa'id → Ali bin al-Husain bin Waqid → ayahnya (al-Husain bin Waqid) → Matar (bin Thahman) → Qatadah (bin Di'amah as-Sadusi) → Mutharrif (bin 'Abdillah bin asy-Syikhkhir) → ‘Iyad bin Himar

Teks Hadits Lengkap:

> عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ خَطَبَهُمْ فَقَالَ: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ"

Terjemahan: Dari ‘Iyad bin Himar, dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkhutbah kepada mereka dan bersabda: "Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri kepada yang lain."

Ayat Al-Qur'an Pendukung:

Allah ﷻ berfirman:

> وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

> (QS. Luqman [31]: 18)

Terjemahan: "Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Ayat ini dengan tegas melarang sifat mukhtal (sombong) dan fakhur (suka membanggakan diri), yang persis dilarang dalam hadits di atas.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Tawadhu'" (التواضع) Menurut Ulama Salaf

Imam Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (w. 117 H), salah seorang perawi dalam sanad hadits ini, adalah seorang tabi'in besar dan ahli tafsir. Beliau menjelaskan bahwa tawadhu' adalah sikap rendah hati kepada sesama muslim, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, dan menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Qatadah berkata: "Tawadhu' adalah engkau duduk bersama orang-orang miskin dan engkau tidak merasa enggan untuk duduk bersama orang yang lebih rendah darimu dalam urusan dunia." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Imam Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: "Tawadhu' adalah engkau keluar dari rumahmu, lalu tidak bertemu seorang muslim pun melainkan engkau menganggapnya lebih baik darimu." (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah)

2. Makna "La Yafkhar Ahadun 'ala Ahad" (لا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ)

Frasa ini berarti larangan keras untuk membanggakan diri (fakhr) di hadapan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menjelaskan bahwa fakhr (membanggakan diri) adalah bagian dari kesombongan (kibr). Beliau berkata dalam Majmu' al-Fatawa: "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Sedangkan membanggakan diri (fakhr) adalah menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain dan ingin diakui kelebihannya."

3. Hubungan Hadits dengan Wahyu

Nabi ﷺ bersabda: "Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri." Ini menunjukkan bahwa perintah tawadhu' bukan sekadar nasihat biasa, melainkan bagian dari wahyu yang harus diimani dan diamalkan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa tawadhu' adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih, sedangkan kesombongan adalah akhlak Iblis dan Fir'aun.

4. Peringatan Keras tentang Sombong

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim no. 91)

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang sombong, dan tawadhu' adalah obatnya.

Story Telling

Kisah Tawadhu'nya ‘Iyad bin Himar (Perawi Hadits)

‘Iyad bin Himar al-Mujasyi'i radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang mulia. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Nabi ﷺ. Diriwayatkan bahwa suatu hari beliau datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan rambutnya acak-acakan dan pakaiannya sederhana. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah engkau memiliki harta?" ‘Iyad menjawab: "Ya." Nabi bertanya lagi: "Harta apa?" ‘Iyad berkata: "Allah telah memberiku unta, kambing, kuda, dan budak." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Jika Allah memberimu harta, maka biarlah tampak nikmat Allah padamu (dengan berpakaian rapi)." (HR. Abu Dawud, no. 4063)

Kisah ini menunjukkan bahwa tawadhu' bukan berarti kumal dan tidak merawat diri. Tawadhu' adalah sikap hati yang tidak sombong, meskipun Allah memberi kelapangan harta. ‘Iyad bin Himar adalah contoh sahabat yang mendengar langsung perintah tawadhu' dari Nabi ﷺ dan mengamalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Tawadhu' adalah perintah langsung dari Allah melalui wahyu kepada Nabi ﷺ, bukan sekadar adat atau budaya.
  2. Larangan membanggakan diri (fakhr) mencakup segala bentuk kesombongan: karena harta, keturunan, ilmu, jabatan, atau fisik.
  3. Cara melatih tawadhu': Anggap setiap muslim lebih baik dari kita, duduk bersama siapa pun tanpa merasa tinggi hati, dan menerima kebenaran dari siapa pun.
  4. Hindari sifat sombong karena ia adalah dosa besar yang menghalangi masuk surga.
  5. Tawadhu' tidak berarti hina diri atau meninggalkan penampilan rapi, tetapi menjaga hati tetap rendah meskipun Allah memberi nikmat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.