Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil agung tentang keutamaan tawakkal kepada Allah. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa jika kita benar-benar bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenarnya, maka Allah akan menjamin rezeki kita sebagaimana Dia menjamin rezeki burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Ini bukan berarti kita dilarang berusaha, karena burung itu sendiri pergi (berusaha) mencari rezeki. Hadits ini mengajarkan kita untuk menggabungkan antara usaha lahiriah dan ketergantungan hati hanya kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab At-Tawakkul wal-Yaqin, no. 4164. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, dan lainnya dari sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Para ulama menilai hadits ini hasan atau shahih.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata tentang makna tawakkal, "Tawakkal adalah ketenangan hati terhadap apa yang dijamin oleh Allah, dan berlepas diri dari apa yang dijamin oleh manusia." Beliau juga menekankan bahwa tawakkal tidak menafikan usaha, karena Nabi ﷺ sendiri berusaha dan berlindung.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa tawakkal adalah ibadah hati yang agung, dan ia tidak bertentangan dengan perintah untuk berusaha. Bahkan, berusaha dengan sebab-sebab yang dibolehkan adalah bagian dari kesempurnaan tawakkal, karena Allah memerintahkan untuk mengambil sebab.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam:
- Makna "Tawakkal yang Sebenarnya" (حَقَّ تَوَكُّلِهِ):
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan, tawakkal yang sebenarnya adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam segala urusan, disertai keyakinan penuh bahwa Allah-lah yang mengatur, memberi, dan mencegah. Hati tidak bergantung kepada makhluk, tetapi tetap melakukan sebab-sebab yang diperintahkan.
- Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawakkal adalah setengah dari agama (bagian dari ibadah hati), dan ia memiliki tingkatan. Hakikat tawakkal adalah memutuskan harapan dari makhluk dan menggantungkan hati hanya kepada Allah.
- Perumpamaan Burung:
- Burung dalam hadits ini pergi di pagi hari (تَغْدُو) dan kembali di sore hari (تَرُوحُ). Ini menunjukkan adanya usaha. Burung tidak tinggal diam di sarangnya, tetapi ia keluar untuk mencari rezeki.
- Namun, burung tidak memiliki lumbung penyimpanan, tidak menimbun, dan tidak khawatir akan rezeki esok hari. Ia keluar dengan keyakinan bahwa Allah akan memberinya rezeki hari ini. Ini adalah pelajaran tentang tawakkal yang harus dibarengi dengan usaha.
- Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Shahih-nya pada "Kitab Ar-Riqaq" dan membuat bab tentang tawakkal, menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari kejujuran hati kepada Allah.
- Keseimbangan Antara Tawakkal dan Ikhtiar:
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah sering menegaskan bahwa pemahaman yang keliru tentang tawakkal adalah meninggalkan usaha. Ini adalah pemahaman yang salah dan tercela. Beliau mencontohkan, orang yang ingin makan tidak bisa hanya duduk dan berkata "bertawakkal", tetapi ia harus memasak atau membeli makanan. Namun, hatinya tetap yakin bahwa Allah-lah yang memudahkan dan memberikan rezeki.
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sendiri bekerja keras mencari hadits dan berdagang untuk memenuhi kebutuhannya, namun hatinya tetap bertawakkal kepada Allah. Ini adalah contoh nyata penggabungan antara usaha dan tawakkal.
- Jaminan Rezeki:
- Hadits ini adalah kabar gembira bahwa barangsiapa yang hatinya benar-benar bergantung kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan rezekinya dari arah yang tidak dia sangka-sangka, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaq ayat 3.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Tawakkal adalah sebab terbesar untuk mendapatkan rezeki, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Imam, kapan seseorang bisa dikatakan bertawakkal kepada Allah?" Maka Imam Ahmad menjawab, "Ketika dia masuk ke dalam rumahnya, lalu dia tidak tahu dari mana rezekinya akan datang." Namun, perlu digarisbawahi bahwa Imam Ahmad sendiri adalah seorang yang sangat giat berusaha, berdagang, dan menuntut ilmu. Beliau tidak pernah meninggalkan usaha. Yang beliau maksud adalah kondisi hati yang tenang dan tidak risau tentang rezeki, karena yakin Allah yang mengatur.
Kisah lain, Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah berkata, "Tawakkal adalah ketenangan hati di hadapan Allah, dan yakinlah bahwa apa yang Allah putuskan untukmu adalah yang terbaik, meskipun engkau tidak menyukainya." Ini menunjukkan bahwa tawakkal membawa ketenangan dan kebahagiaan hati.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki Niat dan Hati: Jadikan hati kita selalu bergantung kepada Allah dalam segala hal, baik rezeki, jodoh, kesehatan, maupun urusan dunia lainnya.
- Tetap Berusaha: Jangan pernah meninggalkan usaha dan ikhtiar yang dibolehkan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh seperti burung yang keluar mencari rezeki.
- Yakin dengan Jaminan Allah: Jangan risau dan khawatir berlebihan tentang rezeki. Yakinlah bahwa Allah yang memberi rezeki dan Dia tidak akan pernah lalai terhadap hamba-Nya yang bertawakkal.
- Jauhi Sikap Lemah: Jangan menjadikan tawakkal sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Ini adalah pemahaman yang keliru dan tercela.
- Amalkan Doa: Perbanyak doa agar Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertawakkal, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى" (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan diri, dan kekayaan hati).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.