Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kehidupan sederhana dan penuh zuhud keluarga Nabi ﷺ. Selama sebulan penuh, mereka tidak menyalakan api untuk memasak, dan makanan mereka hanyalah kurma dan air. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ dan keluarganya memilih hidup yang sangat sederhana, meskipun beliau adalah pemimpin umat dan memiliki akses terhadap berbagai kenikmatan dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
(QS. Al-Furqan [25]: 20)
Terjemahan: "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat."
Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia biasa yang makan dan minum seperti manusia lainnya, dan mereka tidak hidup dalam kemewahan.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab Kehidupan Keluarga Muhammad ﷺ, no. 4144. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2972) dan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6458) dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (17/174) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa kerasnya kehidupan Rasulullah ﷺ dan keluarganya, serta kesabaran mereka dalam menghadapi kemiskinan dan kesederhanaan. Beliau berkata: "Ini adalah puncak zuhud dan tawakkal kepada Allah."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (11/300) juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat dan keluarga Nabi ﷺ tidak menganggap dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah ﷺ. Beliau menceritakan bahwa keluarga Muhammad ﷺ (yaitu Rasulullah dan istri-istrinya) bisa tinggal selama sebulan penuh tanpa menyalakan api untuk memasak. Maksudnya, mereka tidak memasak makanan yang memerlukan api seperti daging, sayur, atau roti. Satu-satunya makanan yang mereka miliki hanyalah kurma dan air.
Makna "tidak menyalakan api":
Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang lebih lengkap: "Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau wafat." (HR. al-Bukhari no. 6458). Ini menunjukkan bahwa kesederhanaan ini bukan hanya sesekali, tetapi merupakan gaya hidup mereka.
Hikmah dari hadits ini:
- Zuhud terhadap dunia: Keluarga Nabi ﷺ tidak mengejar kemewahan dunia. Mereka rela hidup dengan makanan yang paling sederhana, yaitu kurma dan air.
- Kesabaran dan tawakkal: Mereka tidak mengeluh atau meminta-minta, melainkan bersabar dan bertawakkal kepada Allah.
- Teladan bagi umat: Rasulullah ﷺ adalah pemimpin umat, namun beliau memilih hidup sederhana. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada harta, melainkan pada ketakwaan.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/342) berkata: "Zuhud bukanlah berarti mengharamkan yang halal, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Keluarga Nabi ﷺ adalah orang yang paling zuhud, meskipun mereka memiliki akses terhadap harta."
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Aku melihat orang-orang yang zuhud, mereka tidak pernah kenyang dengan dunia, dan mereka tidak pernah mengeluh karena kekurangan." (Diriwayatkan oleh Imam Abu Nu'aim dalam Hilyah al-Auliya').
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu hari, Sayyidina Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu masuk ke rumah Rasulullah ﷺ dan melihat beliau berbaring di atas tikar yang meninggalkan bekas di punggungnya. Umar menangis, lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Mengapa engkau menangis, wahai Umar?" Umar menjawab, "Wahai Rasulullah, raja-raja Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau adalah utusan Allah, namun engkau hidup dalam kesederhanaan seperti ini." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidakkah engkau rela bahwa dunia ini untuk mereka, dan akhirat untuk kita?" (HR. al-Bukhari no. 4915).
Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memilih kehidupan yang sederhana di dunia demi meraih kenikmatan yang kekal di akhirat. Beliau tidak iri dengan kemewahan orang lain, karena beliau yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.
Kesimpulan Praktis
- Hiduplah sederhana: Jangan terlalu mengejar kemewahan dunia. Cukupkan diri dengan apa yang halal dan berkah.
- Bersyukur dalam segala keadaan: Jika kita hanya memiliki makanan sederhana, jangan mengeluh. Ingatlah bahwa keluarga Nabi ﷺ hidup dengan kurma dan air selama sebulan.
- Jadikan akhirat sebagai tujuan utama: Dunia hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dunia hingga melupakan akhirat.
- Tingkatkan kesabaran dan tawakkal: Dalam kesulitan, bersabarlah dan bertawakallah kepada Allah, karena Dia tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.