Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kunci kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki. Bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada tiga hal: petunjuk Islam di dalam hati, rezeki yang cukup untuk kebutuhan hidup, dan hati yang merasa puas (qana'ah) dengan pemberian Allah tersebut. Orang yang memiliki ketiganya, dialah yang sungguh-sungguh beruntung dan selamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ، وَحُمَيْدِ بْنِ هَانِئٍ الْخَوْلاَنِيِّ، أَنَّهُمَا سَمِعَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ، يُخْبِرُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ ﷺ ـ أَنَّهُ قَالَ " قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ "
Terjemahan: "Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk kepada Islam dan diberikan rezeki yang cukup (kafaf) serta merasa puas dengan itu." (HR. Ibnu Majah, Kitab Az-Zuhd, Bab Al-Kafaf, no. 4138)
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam dan sejalan dengan pemahaman para ulama salaf. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa qana'ah (merasa cukup) adalah salah satu cabang dari sabar, yaitu sabar dalam menerima ketentuan rezeki dan tidak tamak kepada apa yang ada di tangan orang lain. Beliau menekankan bahwa qana'ah adalah kekayaan hati yang sejati.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keberuntungan yang hakiki adalah ketika seseorang diberikan hidayah Islam, kemudian Allah mencukupkan rezekinya, dan ia menerima dengan hati yang tenang dan puas. Ini adalah kombinasi antara kebaikan agama dan kebaikan dunia yang secukupnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tiga pilar kebahagiaan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:
1. Hidayah kepada Islam (هُدِيَ إِلَى الإِسْلاَمِ)
Ini adalah nikmat yang paling agung. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sering menegaskan bahwa hidayah Islam adalah nikmat terbesar yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan duniawi apa pun. Dengan Islam, seseorang mengetahui tujuan hidupnya, mengenal Tuhannya, dan memiliki jalan yang lurus menuju kebahagiaan abadi di akhirat.
2. Rezeki yang Cukup (رُزِقَ الْكَفَافَ)
Al-Kafaf (الكفاف) artinya rezeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, tidak lebih dan tidak kurang. Ini bukan berarti miskin yang kekurangan, tetapi juga bukan kekayaan yang berlebihan. Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud dan mencukupkan diri dengan apa yang ada, meskipun beliau adalah ulama besar yang sangat dihormati. Beliau tidak pernah meminta-minta dan selalu menerima pemberian Allah dengan penuh syukur.
3. Qana'ah (قَنِعَ بِهِ)
Qana'ah adalah merasa puas dan cukup dengan apa yang Allah berikan. Ini adalah obat dari penyakit tamak dan iri hati. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa qana'ah adalah ketenangan hati dalam menerima bagian yang telah Allah tetapkan, tanpa merasa kurang dan tanpa iri kepada yang lain. Beliau menukil perkataan sebagian salaf: "Qana'ah adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis."
Para ulama menjelaskan bahwa ketiga hal ini saling berkaitan. Hidayah Islam akan melahirkan keyakinan bahwa Allah adalah Yang Maha Memberi Rezeki dan Maha Adil. Keyakinan ini kemudian melahirkan qana'ah, yaitu kepuasan hati terhadap apa yang Allah berikan. Dan qana'ah inilah yang membuat seseorang merasa kaya meskipun hartanya sedikit.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari no. 6446). Hadits ini sangat sejalan dengan hadits yang sedang kita bahas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in yang sangat zuhud — pernah ditanya tentang makna kekayaan. Beliau menjawab, "Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan hati. Barangsiapa yang hatinya merasa cukup dengan Allah, maka dia adalah orang yang kaya, meskipun dia tidak memiliki apa-apa di dunia ini."
Suatu ketika, Sufyan ats-Tsauri ditawari jabatan sebagai qadhi (hakim) oleh khalifah, namun beliau menolaknya dengan tegas. Beliau lebih memilih hidup sederhana dan terus menuntut ilmu serta mengajarkannya, karena beliau khawatir jabatan tersebut akan melalaikannya dari ibadah dan keikhlasan. Ini adalah contoh nyata dari sikap qana'ah dan zuhud yang diajarkan oleh para ulama salaf.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada kedudukan atau harta, tetapi pada hati yang tenang karena merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah atas nikmat Islam — Ini adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Jagalah dengan terus belajar dan mengamalkan ajarannya.
- Belajarlah merasa cukup — Jangan selalu membandingkan rezeki kita dengan orang lain. Lihatlah orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
- Perbanyak doa meminta kecukupan — Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu." (HR. Tirmidzi no. 3563)
- Hindari sifat tamak dan iri — Kedua sifat ini adalah sumber kegelisahan hati. Ingatlah bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar.
- Latih hati untuk qana'ah — Mulailah dengan menerima apa yang ada, bersyukur atas nikmat kecil, dan yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.