Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4137 tentang Kekayaan hakiki adalah kepuasan hati, bukan harta

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan hakikat kekayaan yang sebenarnya. Kekayaan yang hakiki bukanlah diukur dari banyaknya harta benda duniawi, melainkan kekayaan jiwa, yaitu hati yang merasa cukup, puas, dan tidak rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain. Orang yang hatinya kaya akan merasa tenang dan bahagia, meskipun hartanya sedikit.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim dan Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai riwayat Ibnu Majah yang Anda sebutkan):

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Terjemahan: "Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan jiwa."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1051) dan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 4137) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Taghabun [64]: 16

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Terjemahan: "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan sangat mendalam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "al-'aradh" (العَرَض) adalah harta benda selain uang tunai seperti barang-barang, perabotan, dan semua yang dimiliki manusia. Maksud hadits ini adalah bahwa kekayaan yang terpuji dan bermanfaat bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan jiwa, yaitu hati yang merasa cukup (qana'ah) dan tidak tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa orang yang hatinya kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Beliau berkata bahwa kekayaan jiwa ini adalah obat bagi penyakit tamak dan rakus. Ketika hati seseorang telah dipenuhi rasa cukup, maka ia tidak akan diperbudak oleh harta dan tidak akan merasa hina di hadapan orang-orang kaya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika menjelaskan hadits ini menegaskan bahwa banyak orang yang memiliki harta melimpah namun hatinya miskin, selalu merasa kurang, dan tidak pernah puas. Sebaliknya, ada orang yang hartanya pas-pasan namun hatinya kaya, merasa cukup, dan hidupnya tenang. Kekayaan hati inilah yang menjadi kunci kebahagiaan.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa hakikat kekayaan adalah kepuasan hati. Beliau mengutip perkataan sebagian ulama salaf bahwa tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat daripada qana'ah (rasa cukup). Orang yang memiliki qana'ah akan selalu merasa kaya meskipun hartanya sedikit, dan orang yang tidak memiliki qana'ah akan selalu merasa miskin meskipun hartanya banyak.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak menjadikan harta sebagai ukuran kebahagiaan. Karena harta bisa hilang, bisa berkurang, dan bisa menjadi sumber kesedihan jika hati tidak pernah merasa cukup. Sebaliknya, kekayaan jiwa adalah kekayaan yang tidak akan pernah hilang karena ia berada di dalam hati.

Story Telling

Ada kisah indah tentang Imam Sufyan bin 'Uyainah — yang merupakan salah satu perawi hadits ini — tentang seorang lelaki yang mengeluhkan kemiskinannya kepada seorang ulama. Ulama itu bertanya, "Apakah kamu senang jika kamu memiliki seratus ribu dirham?" Lelaki itu menjawab, "Ya." Ulama itu bertanya lagi, "Apakah kamu senang jika kamu memiliki seratus ribu dirham tetapi hatimu tidak pernah merasa cukup dan selalu ingin lebih?" Lelaki itu menjawab, "Tidak." Maka ulama itu berkata, "Maka sesungguhnya engkau tidak menginginkan kekayaan harta, tetapi engkau menginginkan kekayaan hati. Dan kekayaan hati tidak akan didapat kecuali dengan merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan."

Kisah ini menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya mencari ketenangan hati, dan ketenangan itu tidak akan pernah didapat dari banyaknya harta, tetapi dari rasa cukup dan bersyukur.

Kesimpulan Praktis

  1. Ukurlah kekayaan dengan hati, bukan dengan harta. Kaya yang sebenarnya adalah hati yang merasa cukup dan tidak tamak.
  2. Latihlah diri untuk qana'ah — merasa cukup dengan pemberian Allah — karena ini adalah kunci ketenangan hidup.
  3. Jangan membandingkan hidup dengan orang lain dalam urusan dunia, karena itu akan melahirkan ketidakpuasan.
  4. Perbanyak syukur atas apa yang telah Allah berikan, sekecil apa pun itu, karena syukur akan menambah keberkahan.
  5. Jadikan akhirat sebagai orientasi utama, sehingga dunia hanya menjadi sarana, bukan tujuan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.