Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4136 tentang Celakanya orang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya cinta dunia yang berlebihan, khususnya harta (dinar, dirham) dan pakaian mewah (khamishah). Seorang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya, bukan sekadar alat, maka ia akan celaka. Beliau juga menggambarkan betapa sialnya orang tersebut dengan doa yang menunjukkan bahwa ia tidak akan mendapatkan kebaikan sama sekali.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan, dengan harakat):

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ "

Makna Ringkas: "Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khamishah (pakaian bagus). Ia celaka dan terjungkir (wajahnya ke bawah), dan jika ia tertusuk duri, ia tidak akan bisa mencabutnya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2887) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang lebih panjang, yang di dalamnya Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khamishah. Aku memberi mereka, dan jika aku tidak memberi, mereka tidak akan puas."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Hadid [57]: 20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."

Penjelasan Rinci

1. Makna "Ta'isa" (تَعِسَ)

Para ulama menjelaskan bahwa kata ta'isa berarti "celaka" atau "jatuh dalam kebinasaan." Imam Ibnul Atsir dalam An-Nihayah (dan ini sejalan dengan pemahaman ulama-ulama besar) menjelaskan bahwa at-ta'asu adalah lawan dari as-sa'adah (kebahagiaan). Jadi, doa Nabi ﷺ ini adalah doa kebinasaan bagi orang yang menjadikan harta sebagai sesembahannya.

2. Makna "Hamba Dinar dan Dirham"

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "hamba dinar dan dirham" adalah orang yang hatinya terikat kepada harta. Ia akan senang jika hartanya bertambah dan sedih jika berkurang. Ia tidak peduli apakah hartanya halal atau haram, yang penting ia mendapatkannya. Ini adalah bentuk perbudakan kepada selain Allah, karena hakikatnya ia telah menjadikan harta sebagai tuhannya.

3. Makna "Khamishah" (الْخَمِيصَة)

Khamishah adalah kain atau pakaian yang bagus dan mewah, terbuat dari sutra atau wol yang halus. Ini menunjukkan bahwa kecintaan berlebihan bukan hanya pada uang, tetapi juga pada kemewahan dunia, pakaian indah, kendaraan mewah, dan sejenisnya.

4. Makna "Ta'isa wan takasa" (تَعِسَ وَانْتَكَسَ)

Imam Al-Khathabi menjelaskan bahwa intakasa berarti "terjungkir balik" atau "jatuh dengan wajahnya terlebih dahulu." Ini adalah gambaran bahwa orang yang cinta dunia akan jatuh ke dalam kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ia akan selalu gelisah dan tidak pernah puas, dan di akhirat ia akan diseret ke neraka dengan wajahnya.

5. Makna "Wa idza syika fala intaqasy" (وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ)

Ini adalah permisalan yang sangat dalam. Jika seseorang tertusuk duri, maka ia akan berusaha mencabutnya dengan minqasy (alat pencabut duri). Namun orang yang cinta dunia ini digambarkan tidak akan mendapatkan alat tersebut, sehingga duri itu terus menusuk dan menyakitinya. Ini menunjukkan bahwa ia tidak akan mendapatkan kebaikan sama sekali, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah doa agar ia tidak mendapatkan kelegaan dan kesembuhan dari musibah yang menimpanya.

6. Pandangan Ulama tentang Hadits Ini

Imam Al-Bukhari memasukkannya dalam Shahih-nya pada "Kitab Al-Jihad" karena konteksnya berkaitan dengan orang yang berperang demi harta rampasan, bukan karena Allah. Ini menunjukkan bahwa niat dalam beramal harus ikhlas karena Allah, bukan karena dunia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tercelanya orang yang menjadikan harta sebagai tujuan utama, bukan sekadar alat untuk beribadah dan memenuhi kebutuhan. Adapun orang yang mengambil harta untuk menafkahi keluarga dan membantu orang lain, maka ia tidak termasuk dalam ancaman ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan agar kita tidak menjadi budak harta. Kita boleh memiliki harta, tetapi harta itu harus berada di tangan kita, bukan di hati kita.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khamishah..." (HR. Al-Bukhari). Para sahabat yang mendengar langsung merasakan getaran dalam hati mereka. Mereka sadar bahwa bahaya terbesar bukanlah kemiskinan, tetapi cinta dunia yang berlebihan.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, sering menangis ketika mengingatkan umat tentang bahaya dunia. Beliau berkata: "Wahai anak Adam, dunia ini hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang kekal. Maka jadikanlah dunia ini di tanganmu, bukan di hatimu." Beliau juga pernah berkata: "Aku heran kepada orang yang tertawa, padahal ia tidak tahu apakah ia akan diselamatkan atau dibinasakan."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para ulama salaf sangat menjaga hati mereka dari cinta dunia. Mereka memiliki harta, tetapi hati mereka tidak terikat kepada harta tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan harta sebagai alat, bukan tujuan. Kita boleh mencari harta untuk memenuhi kebutuhan dan membantu sesama, tetapi jangan sampai hati kita terikat kepadanya.
  2. Periksa niat dalam setiap amal. Pastikan setiap amal kita ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau mencari keuntungan duniawi.
  3. Hindari sikap berlebihan dalam kemewahan. Tidak salah memiliki pakaian bagus atau kendaraan bagus, tetapi jangan sampai itu menjadi tujuan hidup kita.
  4. Latih diri untuk qana'ah (merasa cukup). Bersyukur dengan apa yang Allah berikan dan tidak selalu mengejar dunia.
  5. Ingatlah bahwa dunia ini sementara. Kehidupan akhirat adalah tempat yang kekal, maka persiapkanlah bekal untuk perjalanan panjang tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.