Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk mencintai dan dekat dengan orang-orang miskin, karena Nabi ﷺ sendiri berdoa agar hidup, mati, dan dibangkitkan bersama mereka. "Miskin" di sini bukan berarti meminta-minta, tetapi rendah hati, tidak bergantung pada dunia, dan tidak sombong. Kekayaan bukanlah cela, tetapi hati yang terikat pada dunia itulah yang berbahaya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab az-Zuhd, bab bergaul dengan orang miskin, dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه. Perawi lain juga meriwayatkannya, dan para ulama hadits membahas sanadnya.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan orang miskin dan larangan sombong:
QS. Al-Kahfi [18]: 28
```
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
```
Terjemahan ringkas: "Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya, dan janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia..."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ dan kaum mukmin untuk tetap bersama orang-orang saleh yang lemah secara dunia, dan tidak berpaling kepada orang-orang kaya yang sombong. As-Sa'di juga menegaskan bahwa kebersamaan dengan orang-orang beriman yang tulus adalah sebab datangnya kebaikan hati.
Hadits lain yang semakna, dari sahabat Haritsah bin Wahb رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda tentang orang miskin yang masuk surga lebih dahulu. (Disebutkan oleh Muslim dan lainnya; maknanya: orang-orang lemah dan miskin lebih dahulu masuk surga). Ini menunjukkan kemuliaan mereka di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits Abu Sa'id al-Khudri ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Perintah mencintai orang miskin.
Ucapan Abu Sa'id "أَحِبُّوا الْمَسَاكِينَ" (cintailah orang-orang miskin) adalah nasihat beliau kepada kaum muslimin, berdasarkan apa yang beliau dengar dari Nabi ﷺ. Mencintai mereka berarti: menyayangi, tidak menghina, tidak menjauhi, membantu kebutuhan mereka, dan duduk bersama mereka. Ini adalah akhlak para nabi dan orang saleh.
Kedua: Doa Nabi ﷺ "اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا..."
Para ulama menjelaskan makna "miskin" dalam doa ini bukanlah meminta kemiskinan harta secara mutlak, karena Nabi ﷺ sendiri pernah berdoa memohon kecukupan dan berlindung dari kefakiran yang memberatkan. Yang dimaksud adalah kerendahan hati dan kefakiran di hadapan Allah (al-maskanah ilallah): tidak sombong, tidak merasa cukup dari Allah, selalu butuh kepada-Nya, dan tidak terikat pada dunia.
Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin dan al-Fawa'id menjelaskan bahwa hakikat kekayaan adalah kaya hati (ghina an-nafs), dan hakikat kefakiran yang terpuji adalah merasa butuh kepada Allah. Beliau membedakan antara fakir harta yang tercela karena meminta-minta, dan fakir hati yang terpuji karena tunduk kepada Allah.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa orang-orang miskin dan lemah adalah orang yang paling dekat dengan rahmat Allah, karena mereka tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada-Nya. Beliau juga menyebut bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari orang-orang lemah, karena pertolongan Allah datang melalui mereka.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang keutamaan orang miskin menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah memuliakan mereka, tidak merendahkan, dan menyadari bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan dengan harta.
Ketiga: "Kumpulkanlah aku di antara orang-orang miskin."
Ini menunjukkan keinginan Nabi ﷺ untuk dibangkitkan bersama golongan yang rendah hati dan sabar, bukan bersama orang-orang sombong dan lalai. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kebersamaan di akhirat ditentukan oleh kesamaan sifat dan amal di dunia.
Catatan sanad:
Hadits ini melalui jalur Yazid bin Sinan dari Abu al-Mubarak dari Atha' dari Abu Sa'id. Para ulama hadits membahas sebagian perawi dalam jalur ini. Karena itu, sebagian ulama menilai hadits ini perlu ditinjau sanadnya, namun maknanya didukung oleh hadits-hadits lain yang shahih tentang keutamaan orang miskin dan larangan sombong. Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan kitab-kitabnya membahas hadits ini; sebagian jalur beliau nilai hasan atau shahih dengan syawahid (penguat). Yang penting bagi kita: maknanya shahih dan didukung dalil lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa duduk bersama orang-orang miskin dan lemah, bahkan pernah beliau bersabda bahwa Allah menolong umat ini karena orang-orang lemah di antara mereka (disebutkan dalam hadits dari Abu ad-Darda' dan lainnya, dengan makna ini). Suatu ketika seorang lelaki kaya datang kepada Nabi ﷺ dan berbicara, lalu Nabi ﷺ berpaling kepada orang miskin yang duduk di dekatnya dan memberi perhatian. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan dengan harta, tetapi dengan iman dan ketakwaan.
Dari salaf, Fudail bin 'Iyadh رحمه الله dikenal sebagai orang yang zuhud dan dekat dengan orang-orang lemah. Beliau mengajarkan bahwa hati yang terikat pada dunia akan kehilangan rasa manisnya iman. Ibnul Qayyim juga menceritakan kisah-kisah orang saleh yang lebih memilih kesederhanaan agar hatinya lapang untuk beribadah.
Kesimpulan Praktis
- Cintai dan dekatilah orang miskin: jangan menghina, jangan menjauhi, dan bantulah sesuai kemampuan.
- Rendahkan hati: "miskin" yang terpuji adalah merasa butuh kepada Allah dan tidak sombong.
- Jangan terikat pada dunia: kekayaan boleh, tetapi hati jangan diperbudak harta.
- Perbanyak doa kerendahan hati: memohon agar Allah menjadikan kita hamba yang tawadhu dan tidak sombong.
- Perhatikan sanad: ketika menyampaikan hadits, sebutkan sumbernya dan jujur tentang penilaian ulama hadits.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.