Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4116 tentang Ciri penghuni surga dan neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ahli surga bisa jadi orang yang tampak lemah dan diremehkan manusia, tetapi hatinya dekat dengan Allah. Sedangkan ahli neraka adalah orang yang kasar, sombong, dan merasa besar diri. Jadi ukuran kemuliaan bukan pada penampilan, harta, atau kedudukan, tetapi pada hati dan ketakwaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab az-Zuhd, bab tentang orang yang tidak diperhatikan. Sanadnya: Muhammad bin Basysyar dari Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Ma'bad bin Khalid dari Haritsah bin Wahb radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

<p>أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ</p>

Terjemahan: “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan diremehkan. Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, berhati keras, dan sombong.”

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

<p>إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>

QS. Al-Hujurat [49]: 13. Terjemahan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Juga:

<p>وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ</p>

QS. Luqman [31]: 18. Terjemahan: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengajarkan dua kriteria yang sangat penting. Pertama, ahli surga digambarkan sebagai “kullu dha'ifin mutadha'if” , yaitu orang yang lemah dan dianggap lemah oleh manusia. Maksudnya bukan sekadar fisiknya lemah, tetapi ia sering diremehkan, tidak punya pengaruh besar di mata manusia, tidak dipandang, dan tidak dianggap penting. Namun di sisi Allah, ia mulia karena iman, ketakwaan, dan amal salehnya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan kedudukan dunia, tetapi dengan iman dan takwa. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah juga menegaskan bahwa banyak orang yang tampak kecil di mata manusia justru berat timbangan kebaikannya di akhirat, karena hatinya penuh cinta kepada Allah dan jauh dari kesombongan.

Kedua, ahli neraka digambarkan dengan tiga sifat: ‘utull (kasar dan keras hati), jawwazh (banyak menuntut, rakus, atau berjalan dengan sombong), dan mustakbir (sombong). Imam an-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa ‘utull adalah orang yang kasar perkataan dan perbuatannya, hatinya keras, tidak lembut kepada orang lain. Jawwazh adalah orang yang banyak makan, banyak menuntut, atau sombong dalam berjalan. Mustakbir adalah orang yang menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti semua orang lemah otomatis masuk surga, dan bukan berarti semua orang kuat otomatis masuk neraka. Yang dimaksud adalah sifat yang dominan. Orang yang lemah dan diremehkan, jika ia beriman dan bertakwa, maka ia ahli surga. Sebaliknya, orang yang kuat, kaya, atau berkedudukan, jika ia sombong dan kasar, maka ia terancam neraka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menegaskan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia menolak kebenaran dan merendahkan makhluk. Sedangkan tawadhu' dan merasa hina di hadapan Allah adalah jalan menuju surga.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak menilai manusia dari penampilan luar. Bisa jadi orang yang tidak diperhatikan di dunia adalah kekasih Allah di akhirat. Sebaliknya, orang yang dipuja-puja di dunia bisa jadi hina di akhirat karena kesombongannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah melihat seorang hamba sahaya yang lemah dan diremehkan orang-orang. Umar berkata, “Biarkan dia, karena sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal kalian.” Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul makna hadits ini.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin itu lemah di mata manusia, tetapi kuat di sisi Allah. Ia tidak sombong, tidak kasar, dan tidak merasa besar diri. Jika diberi, ia bersyukur. Jika diuji, ia bersabar. Jika dimuliakan, ia tawadhu'.”

Fudhail bin 'Iyadh berkata, “Janganlah engkau merasa besar diri karena amalmu, karena sesungguhnya orang yang sombong tidak akan masuk surga.”

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menilai kemuliaan seseorang dari harta, jabatan, atau penampilan. Nilai sejati adalah iman dan takwa.
  2. Jangan sombong, kasar, dan merasa besar diri. Sombong adalah sifat ahli neraka.
  3. Bersikap tawadhu', lembut, dan rendah hati kepada semua orang.
  4. Jika kita diremehkan manusia, jangan sedih, karena bisa jadi itu tanda kemuliaan di sisi Allah.
  5. Perbanyak introspeksi: apakah hati kita masih ada kesombongan? Jika ada, segera bertaubat dan minta ampun kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?