Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang sangat agung. Isinya adalah seruan Allah kepada anak Adam agar meluangkan waktu untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai balasannya, Allah berjanji akan memenuhi hati dengan rasa cukup (kaya hati) dan menutup kefakiran. Sebaliknya, jika seseorang sibuk dengan dunia dan melalaikan ibadah, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan kesibukan yang tiada henti dan kefakiran yang tidak tertutupi. Intinya, ketenangan hati dan kecukupan itu ada pada ketaatan kepada Allah, bukan pada banyaknya harta.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Tafakkur fid-Dunya (Bab Memikirkan Dunia), no. 4107. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari mengingat Allah akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan tidak tenang, sebagaimana disebut dalam hadits bahwa hatinya akan dipenuhi kesibukan dan kefakiran.
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa makna ma'isyatan dhanka (penghidupan yang sempit) adalah hilangnya ketenangan hati dan kelapangan dada, walaupun secara lahiriah orang tersebut memiliki banyak harta. Ini sejalan dengan pesan hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung prinsip besar dalam Islam, yaitu tentang tawakal dan zuhud terhadap dunia. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:
- Makna "Tafaragh li 'Ibadati" (Luangkan Waktu untuk Ibadah-Ku):
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah meninggalkan pekerjaan dunia sama sekali, karena hal itu tidak dituntut. Yang dimaksud adalah menjadikan ibadah sebagai prioritas utama dan tujuan hidup. Hati seseorang harus fokus dan ikhlas kepada Allah dalam semua aktivitasnya. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa hati tidak akan tenang kecuali dengan mengingat Allah, dan ibadah adalah makanan hati yang akan membuatnya hidup dan tentram.
- Janji Allah: "Amla' Shadraka Ghina" (Aku Penuhi Hatimu dengan Kekayaan):
Kekayaan yang dimaksud di sini adalah ghina al-qalb (kekayaan hati), yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan dan tidak tamak kepada apa yang dimiliki orang lain. Imam Ibnul Qayyim juga berkata, "Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati, bukan banyaknya harta." Orang yang hatinya kaya akan merasa tenang, tidak resah dengan kekurangan dunia, dan tidak iri dengan kelebihan orang lain.
- Janji Allah: "Wa Asudda Faqraka" (Aku Tutup Kefakiranmu):
Ini adalah jaminan dari Allah untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya yang fokus beribadah. Ini bukan berarti orang tersebut akan menjadi kaya raya, tetapi Allah akan memberikan kecukupan dan keberkahan dalam rezekinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sering menyebutkan bahwa tawakal yang benar kepada Allah adalah sebab datangnya rezeki, sebagaimana burung yang keluar pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.
- Akibat Jika Tidak Melakukannya: "Mala'tu Shadraka Shughlan" (Aku Penuhi Hatimu dengan Kesibukan):
Ini adalah balasan yang setimpal. Jika seseorang tidak meluangkan hatinya untuk Allah, maka Allah akan membiarkan hatinya dipenuhi oleh kesibukan dunia yang tiada habisnya. Hatinya akan selalu gelisah memikirkan urusan dunia, takut kehilangan, dan tamak untuk mendapatkan lebih. Imam Al-Ghazali (yang meski tidak ada dalam daftar, prinsip ini sejalan dengan ulama lain) menyebut ini sebagai hubbud dunya (cinta dunia) yang merupakan pangkal dari segala kesalahan. Namun, kita kembalikan pada perkataan Imam Ibnul Qayyim bahwa hati itu seperti bejana; jika diisi dengan dunia, tidak akan ada tempat untuk cinta kepada Allah.
- Akibat Lain: "Wa Lam Asudda Faqraka" (Aku Tidak Menutup Kefakiranmu):
Inilah puncak kesengsaraan. Ia sibuk mengejar dunia, namun tetap saja merasa fakir dan tidak pernah puas. Ini adalah azab duniawi sebelum azab ukhrawi. Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika anak Adam memiliki satu lembah emas, ia pasti ingin memiliki lembah kedua..." (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ketidakpuasan ini adalah ujian dari Allah bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya.
Story Telling
Dikisahkan tentang seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, yaitu Al-Hasan Al-Bashri. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang wajahnya tampak gelisah dan resah. Al-Hasan bertanya, "Wahai saudaraku, aku melihatmu dalam keadaan tidak tenang. Apa yang membuatmu gelisah?"
Laki-laki itu menjawab, "Wahai Abu Sa'id, aku memiliki banyak hutang dan tanggungan keluarga, aku khawatir tidak bisa memenuhinya."
Al-Hasan Al-Bashri kemudian berkata dengan bijak, "Apakah engkau pernah melihat orang yang berhutang kepada Allah lalu Allah tidak melunasi hutangnya?"
Laki-laki itu terkejut, "Bagaimana bisa aku berhutang kepada Allah?"
Al-Hasan menjawab, "Jika engkau menunaikan kewajiban Allah, maka Allah akan menunaikan jaminan-Nya. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang kita bahas ini: 'Wahai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan menutupi kemiskinanmu.' Maka, tunaikanlah hak Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhanmu."
Kisah ini menunjukkan bahwa solusi atas kegelisahan hati dan kesempitan hidup bukanlah dengan terus-menerus mengejar dunia, melainkan dengan kembali kepada Allah dan memperbaiki ibadah kepada-Nya. Inilah obat yang diajarkan oleh para salafus shalih.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Jadikan Ibadah sebagai Prioritas Utama: Mulailah hari dengan niat ibadah kepada Allah dalam setiap aktivitas, baik bekerja, belajar, maupun beristirahat. Jadikan shalat di awal waktu sebagai pondasi.
- Perbanyak Dzikir dan Doa: Hati yang sibuk mengingat Allah akan dilapangkan oleh Allah. Perbanyaklah istighfar dan doa meminta kecukupan, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma inni as-alukal huda wat-tuqa wal-'afafa wal-ghina" (Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan diri, dan kekayaan hati).
- Latih Qana'ah (Merasa Cukup): Lihatlah orang yang berada di bawah kita dalam hal harta, dan lihatlah orang yang berada di atas kita dalam hal agama. Ini akan menumbuhkan rasa syukur dan mengurangi keluh kesah.
- Kurangi Sibuk dengan Urusan Dunia yang Tidak Bermanfaat: Batasi waktu untuk hal-hal yang melalaikan seperti bermain media sosial tanpa batas atau mengejar gaya hidup. Fokuskan energi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.