Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan sikap zuhud yang sejati: bukan membenci dunia karena malas beramal, tetapi merasa cukup dengan bekal sederhana seperti bekal seorang musafir, karena dunia hanyalah perjalanan menuju akhirat. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu menangis bukan karena cinta dunia atau benci akhirat, tetapi karena khawatir telah melampaui batas kesederhanaan yang pernah diwasiatkan Rasulullah ﷺ. Ia juga menasihati Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu agar bertakwa kepada Allah dalam tiga keadaan: saat memutuskan, saat membagi, dan saat berniat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab az-Zuhd, Bab az-Zuhd fid-Dunya, no. 4104, dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, melalui Tsabit al-Bunani, dari Abdurrazzaq, dari Ja'far bin Sulaiman.
Makna hadits ini dikuatkan oleh ayat Al-Qur'an tentang hakikat dunia:
QS. Al-Hadid [57]: 20
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Terjemahan: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling membanggakan di antara kalian, dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak. (Semuanya) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu (tanaman itu) mengering dan kamu lihat menjadi kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras, ampunan dari Allah, dan keridhaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang cepat sirna, sehingga seorang mukmin hendaknya menjadikannya sekadar bekal, bukan tujuan.
Hadits lain yang semakna, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir yang menyeberang jalan." (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah pokok dalam zuhud: seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tempat tinggal tetap, melainkan tempat singgah sementara.
Penjelasan Rinci
Makna zuhud yang benar. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa tangisnya bukan karena dua hal: bukan karena shabban lid-dunya (kerinduan dan kecintaan berlebihan pada dunia) dan bukan karena karahiyatan lil-akhirah (kebencian terhadap akhirat). Ini menunjukkan bahwa zuhud bukan berarti membenci dunia secara mutlak atau meninggalkan usaha, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak berlebihan dalam mengejarnya.
Wasiat "bekal seorang penunggang". Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepada Salman bahwa yang cukup bagi seseorang adalah seperti zadul-rakib — bekal seorang musafir, yaitu secukupnya untuk sampai ke tujuan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa perumpamaan ini mengajarkan qana'ah (merasa cukup) dan tidak menumpuk harta melebihi kebutuhan perjalanan menuju akhirat.
Kekhawatiran Salman. Salman radhiyallahu 'anhu khawatir telah melampaui batas tersebut, padahal ia dikenal sangat sederhana. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan bahwa Salman hidup sangat zuhud, bahkan ketika menjadi gubernur di Madain ia hanya memiliki sedikit harta. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat berhati-hati (wara') dalam urusan dunia, meski mereka telah beramal banyak.
Nasihat kepada Sa'd. Salman menasihati Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu dengan tiga hal:
- Takwa saat menghukumi — karena keputusan menyangkut hak orang lain.
- Takwa saat membagi — karena pembagian harta berpotensi menimbulkan kezaliman.
- Takwa saat berniat — karena niat adalah dasar amal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa nasihat ini mencakup seluruh keadaan seorang pemimpin: sebelum bertindak (niat), saat bertindak (hukum), dan setelahnya (pembagian). Ini menunjukkan bahwa zuhud tidak menghalangi seseorang dari tanggung jawab sosial, justru mendorongnya berlaku adil.
Catatan tentang derajat hadits. Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim ar-Razi memiliki kaidah dalam menilai riwayat; sebagian jalur hadits ini dinilai memiliki kelemahan, namun maknanya didukung oleh banyak riwayat lain tentang zuhud. Syaikh al-Albani rahimahullah menilai hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah sebagai hasan secara makna karena adanya syawahid (penguat).
Story Telling
Dikisahkan dalam Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu, ketika menjabat sebagai gubernur di Madain, pernah didatangi seseorang yang melihat keadaannya. Ia memakai pakaian sederhana, tidur di lantai, dan hanya memiliki sedikit perabot. Orang itu bertanya keheranan, "Bukankah engkau gubernur?" Salman menjawab dengan tenang bahwa ia hanyalah seorang hamba yang menunggu perjalanan menuju negeri akhirat.
Ketika Salman wafat, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini melalui Tsabit, ia hanya meninggalkan sekitar dua puluh dirham lebih untuk keperluan nafkahnya. Ini bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia benar-benar mengamalkan wasiat Nabi ﷺ tentang zadul-rakib.
Hikmahnya: seorang mukmin boleh memiliki harta, tetapi hatinya tidak terikat padanya. Yang menjadi ukuran bukan jumlah harta, melainkan keadaan hati — apakah harta itu menjadi sarana menuju Allah atau justru penghalang.
Kesimpulan Praktis
- Zuhud bukan berarti miskin atau meninggalkan usaha, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak berlebihan dalam mengejarnya.
- Cukupkan diri dengan kebutuhan pokok seperti bekal seorang musafir; sisanya gunakan untuk kebaikan dan akhirat.
- Selalu muhasabah — seperti Salman yang khawatir telah melampaui batas, hendaknya kita sering menilai diri sendiri.
- Bertakwalah kepada Allah dalam tiga keadaan: saat memutuskan, saat membagi, dan saat berniat.
- Jangan menunda nasihat baik kepada saudara, sebagaimana Salman menasihati Sa'd meski dalam keadaan sakit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.