Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4096 tentang Tanda kiamat perang melawan bangsa bermata kecil

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4096

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini termasuk tanda-tanda besar Hari Kiamat yang diberitakan Nabi ﷺ: akan terjadi peperangan melawan suatu kaum yang ciri fisiknya disebutkan — bersepatu dari rambut dan bermata kecil. Para ulama menjelaskan ini sebagai isyarat tentang bangsa Turki (atau keturunan mereka) yang dikenal dengan ciri tersebut, dan ini termasuk mukjizat kenabian karena telah terjadi sebagaimana diberitakan. Tugas kita adalah membenarkan berita Nabi ﷺ, tidak sibuk menebak-nebak kapan dan siapa persisnya, serta bersiap dengan iman dan amal saleh.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Fitnah, Bab Turki, dari jalur:

  • Abu Bakr bin Abi Syaibah → Sufyan bin 'Uyainah → Az-Zuhri → Sa'id bin al-Musayyib → Abu Hurairah رضي الله عنه, sampai kepada Nabi ﷺ.

Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan lafaz yang mirip, di antaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا صِغَارَ الْأَعْيُنِ»

"Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu kaum yang sepatu mereka dari rambut, dan kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu kaum yang bermata kecil." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang tanda-tanda Kiamat dan kewajiban membenarkan berita Nabi ﷺ:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan." (QS. An-Najm [53]: 3–4)

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits-hadits fitnah dan tanda Kiamat, termasuk yang menyebut ciri-ciri bangsa Turki.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas hadits semakna dan menjelaskan bahwa ini termasuk tanda kenabian.
  • Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim mengumpulkan riwayat-riwayat tentang peperangan akhir zaman.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya tentang fitnah dan akhir zaman menegaskan kewajiban membenarkan berita gaib dari Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan hadits

Hadits ini shahih dan disepakati maknanya oleh para ulama. Ia termasuk bab 'alamat as-sa'ah (tanda-tanda Hari Kiamat) dan mukjizat kenabian, karena apa yang diberitakan Nabi ﷺ telah terjadi di masa sahabat dan setelahnya.

2. Makna "kaum bersepatu rambut dan bermata kecil"

Para ulama di daftar menjelaskan:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyebut bahwa yang dimaksud adalah bangsa Turki dan sekitarnya, yang ciri fisiknya saat itu dikenal: mata sipit/kecil, wajah lebar, dan sebagian memakai alas kaki dari rambut/binatang. Beliau menegaskan ini isyarat yang telah terbukti dalam sejarah peperangan kaum Muslimin melawan bangsa Turki di masa lalu.
  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa penyebutan ciri fisik ini adalah ciri khas yang dikenal pada zaman itu, bukan celaan terhadap suatu bangsa, melainkan penanda agar kaum Muslimin mengenali tanda yang diberitakan Nabi ﷺ.
  • Ibnu Katsir dalam kitab-kitab fitnahnya menyebutkan riwayat-riwayat serupa dan menegaskan bahwa ini termasuk tanda-tanda yang sudah muncul sebagiannya dan akan terus berlanjut hingga Kiamat.

3. Apakah ini sudah terjadi?

Menurut Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir, sebagian tanda ini telah terjadi pada masa sahabat dan tabi'in, ketika kaum Muslimin berperang melawan bangsa-bangsa yang memiliki ciri tersebut. Namun tanda Kiamat yang besar (seperti munculnya Dajjal, Ya'juj dan Ma'juj, dan lainnya) tetap akan terjadi sesuai waktunya.

4. Adab dalam menyikapi hadits tanda Kiamat

Para ulama — termasuk Ibnu Rajab al-Hanbali dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah — mengajarkan:

  • Membenarkan berita Nabi ﷺ tanpa ragu.
  • Tidak sibuk menebak-nebak kapan tepatnya dan siapa persisnya, karena itu termasuk takalluf (memaksakan diri) yang tidak diperintahkan.
  • Bersiap dengan iman dan amal saleh, karena tujuan penyebutan tanda Kiamat adalah agar kita berhati-hati dan bersiap, bukan untuk spekulasi politik atau kebencian terhadap suatu bangsa.

5. Perbedaan pendapat

Sebagian ulama berbeda dalam penentuan bangsa yang dimaksud (apakah Turki, Mongol, atau bangsa lain). Namun kesepakatan mereka: ini adalah berita gaib yang benar dan harus diimani. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa ciri-ciri tersebut menunjuk pada bangsa Turki sebagaimana dikenal pada masa itu, dan ini telah terbukti dalam sejarah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib (salah satu perawi hadits ini, seorang tabi'in besar) sangat teliti dalam meriwayatkan hadits-hadits fitnah dan tanda Kiamat. Beliau dikenal sebagai "sayyidul fuqaha' al-madaniyyin" (pemimpin para fuqaha Madinah) dan sangat berhati-hati agar tidak menambah atau mengurangi.

Suatu ketika, Az-Zuhri — murid beliau — meriwayatkan hadits ini dari beliau, dan beliau menegaskan bahwa hadits ini shahih dan harus diimani. Para ulama setelahnya, seperti Sufyan bin 'Uyainah (guru Imam Syafi'i dan perawi hadits ini), juga meriwayatkannya dengan penuh kehati-hatian.

Hikmahnya: Para salaf tidak sibuk berdebat tentang "siapa" dan "kapan", tetapi mereka menyampaikan berita Nabi ﷺ apa adanya, dan mengajak umat untuk bersiap dengan taat kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini sebagai berita benar dari Nabi ﷺ, termasuk tanda Kiamat dan mukjizat kenabian.
  2. Jangan sibuk menebak-nebak bangsa tertentu atau waktu tertentu; itu bukan tugas kita.
  3. Jangan jadikan hadits ini alat kebencian terhadap suatu bangsa; Islam mengajarkan keadilan dan adab.
  4. Bersiaplah dengan iman, amal saleh, dan memperbanyak istighfar, karena Kiamat pasti datang.
  5. Pelajari tanda-tanda Kiamat dari kitab-kitab ulama yang terpercaya, seperti Fathul Bari (Ibnu Hajar), Syarh Shahih Muslim (an-Nawawi), dan An-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim (Ibnu Katsir).
  6. Jangan mengarang tafsir atau menisbahkan pendapat kepada ulama tanpa dasar; jika ragu, tanyakan kepada ulama terpercaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?