Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 409 tentang Bersuci dengan istinsyaq dan bilangan ganjil saat istijmar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil tentang dua sunnah/fitrah dalam bersuci: pertama, orang yang berwudhu dianjurkan untuk ber-istintsar (membersihkan lubang hidung dengan cara menghirup air lalu mengeluarkannya); kedua, orang yang beristijmar (bersuci dengan batu/kerikil setelah buang air) hendaknya menggunakan bilangan ganjil. Keduanya menunjukkan tuntunan Nabi ﷺ yang penuh perhatian pada kebersihan dan kesempurnaan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Berlebihan dalam Istinsyaq dan Istinthar, no. 409. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain, sehingga derajatnya shahih.

Perawi hadits ini adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Teks Arab hadits (sesuai yang disajikan):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، وَدَاوُدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالاَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ "

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang berwudhu, hendaklah ia ber-istintsar, dan siapa yang ber-istijmar (bersuci dengan batu), hendaklah ia menggunakan bilangan ganjil."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an — Allah berfirman tentang perintah bersuci:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

"Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. Al-Waqi'ah [56]: 79)

Ayat ini menunjukkan pentingnya kesucian dalam ibadah, dan hadits di atas adalah penjelasan praktis dari Nabi ﷺ tentang tata cara bersuci yang sempurna.

Penjelasan Rinci

1. Makna Istintsar dan Istijmar

Istintsar (الاستنثار) adalah membersihkan lubang hidung dengan cara menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dengan kuat. Ini bagian dari wudhu yang diajarkan Nabi ﷺ.

Istijmar (الاستجمار) adalah bersuci dari buang air besar/kecil menggunakan batu, kerikil, atau benda padat yang suci dan dapat membersihkan, sebagai pengganti atau pendamping air.

2. Pemahaman Ulama tentang Hadits Ini

Imam Malik bin Anas — yang menjadi salah satu perawi dalam sanad hadits ini — memahami bahwa istintsar adalah bagian dari kesempurnaan wudhu. Beliau meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih dari gurunya, Ibnu Syihab az-Zuhri, yang mengambil dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu Hurairah.

Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa perintah "فَلْيَسْتَنْثِرْ" (hendaklah ia ber-istintsar) menunjukkan anjuran yang kuat (sunnah mu'akkadah) dalam wudhu. Beliau juga menegaskan bahwa istintsar termasuk bagian dari kesempurnaan wudhu yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa istintsar adalah sunnah yang ditekankan dalam wudhu, dan beliau memasukkan hadits ini dalam dalil-dalil kesempurnaan wudhu.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua hal:

  • Perintah istintsar bagi yang berwudhu — ini menunjukkan bahwa istintsar adalah bagian dari wudhu yang dianjurkan.
  • Perintah menggunakan bilangan ganjil dalam istijmar — ini menunjukkan bahwa bilangan ganjil (satu, tiga, lima, dst.) adalah yang paling utama dalam bersuci dengan batu.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa istintsar dilakukan dengan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Adapun istijmar dengan bilangan ganjil, maka minimalnya adalah satu kali usapan yang membersihkan, dan yang sempurna adalah tiga kali usapan atau lebih dengan bilangan ganjil.

3. Hikmah di Balik Perintah Ini

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:

  1. Istintsar membersihkan hidung dari kotoran dan debu yang masuk, sehingga ibadah shalat dilakukan dalam keadaan bersih. Ini juga menjaga kesehatan saluran pernapasan.
  2. Istijmar dengan bilangan ganjil — Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bilangan ganjil dalam istijmar adalah bentuk kesempurnaan dan keberkahan, karena Allah menyukai yang ganjil. Ini juga memastikan kebersihan benar-benar tercapai.
  3. Perhatian Islam pada kebersihan — Hadits ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kebersihan fisik, bahkan dalam hal-hal yang dianggap remeh oleh sebagian orang.

4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Istintsar

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istintsar dalam wudhu:

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat: istintsar adalah sunnah yang ditekankan.
  • Sebagian ulama Hanafiyah menganggapnya wajib dalam wudhu berdasarkan perintah dalam hadits ini.
  • Pendapat yang lebih kuat menurut Syaikh al-Albani dan Syaikh al-Utsaimin: istintsar adalah sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib. Karena banyak hadits yang menunjukkan bahwa wudhu tetap sah tanpa istintsar, namun kesempurnaannya berkurang.

Adapun istijmar dengan bilangan ganjil, para ulama sepakat bahwa ini adalah sunnah, dan bilangan ganjil adalah yang paling utama.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas — yang meriwayatkan hadits ini — sangat berhati-hati dalam menjaga kebersihan dan kesempurnaan ibadah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam berwudhu, dan ketika ditanya tentang istintsar, beliau menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari tuntunan Nabi ﷺ yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang yang ingin menyempurnakan wudhunya.

Ada kisah tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Imam Malik tentang cara wudhu yang sempurna. Imam Malik kemudian mempraktikkan wudhu di hadapannya dengan sangat teliti, termasuk ber-istintsar dengan benar, lalu berkata: "Beginilah Rasulullah ﷺ berwudhu, dan barangsiapa yang ingin mengikuti beliau, hendaklah ia melakukan seperti ini."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan detail-detail ibadah, karena mereka memahami bahwa kesempurnaan ibadah adalah bagian dari kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi yang berwudhu: lakukanlah istintsar — menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya — karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang ditekankan.
  2. Bagi yang beristijmar (bersuci dengan batu/tisu setelah buang air): gunakanlah bilangan ganjil — minimal satu kali usapan yang membersihkan, dan yang sempurna adalah tiga kali usapan atau lebih dengan bilangan ganjil.
  3. Jadikan kebersihan sebagai bagian dari ibadah — Islam mengajarkan kita untuk selalu bersih, bahkan dalam hal-hal yang kecil sekalipun.
  4. Jangan meremehkan sunnah-sunnah kecil — karena kesempurnaan ibadah dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan istiqamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?