Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda besar hari kiamat, yaitu adanya pasukan yang akan menyerang Ka'bah (Baitullah) di Makkah. Ketika pasukan tersebut berada di tempat bernama Al-Baida' (padang pasir antara Makkah dan Madinah), mereka semua akan ditenggelamkan ke dalam bumi oleh Allah ﷻ. Yang menarik, hadits ini juga menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang ikut dalam pasukan tersebut karena terpaksa, bukan karena keinginan sendiri. Mereka ini akan dibangkitkan oleh Allah sesuai dengan niat yang ada di dalam hati mereka, bukan sesuai dengan perbuatan lahiriahnya. Ini menunjukkan keadilan dan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks hadits yang disebutkan dalam pertanyaan adalah riwayat dari Shafiyyah radhiyallahu 'anha. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Hafshah radhiyallahu 'anha, dengan lafaz:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ» قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: «يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ» (رواه مسلم)
Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Suatu pasukan akan menyerang Ka'bah. Ketika mereka berada di Baida' dari bumi ini, maka mereka ditenggelamkan, yang pertama dan yang terakhir." Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana bisa ditenggelamkan yang pertama dan yang terakhir, sedangkan di antara mereka ada yang memiliki kepentingan dagang dan orang-orang yang bukan dari pasukan tersebut?" Beliau menjawab: "Mereka semua ditenggelamkan, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat-niat mereka." (HR. Muslim)
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-An'am [6]: 159 tidak terkait langsung, namun prinsip tentang pembalasan sesuai niat dan amal dapat dilihat dalam firman Allah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa keikhlasan niat adalah inti dari setiap amal, sebagaimana yang akan menjadi pertimbangan Allah pada hari kiamat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk berita ghaib Nabi ﷺ tentang perkara yang akan terjadi di akhir zaman. Beberapa poin penting:
1. Makna Al-Baida'
Al-Baida' adalah tempat yang terkenal antara Makkah dan Madinah, yaitu padang pasir yang luas di dekat Dzul-Hulaifah (miqat penduduk Madinah). Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tempat ini adalah tanah lapang yang terbentang antara Makkah dan Madinah.
2. Pasukan yang Akan Menyerang Ka'bah
Para ulama berbeda pendapat tentang identitas pasukan ini. Sebagian ulama seperti Al-Qadhi 'Iyadh (bukan dari daftar rujukan kita) berpendapat bahwa ini adalah pasukan yang akan muncul di akhir zaman. Namun dari ulama yang masuk dalam daftar rujukan kita, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengabarkan tentang peristiwa yang pasti terjadi, yaitu ada pasukan yang berniat buruk menyerang kota Makkah dan Baitullah, namun Allah melindungi rumah-Nya dengan cara menenggelamkan mereka sebelum sampai ke kota suci tersebut.
3. Hikmah Ditenggelamkannya Seluruh Pasukan
Dalam riwayat Muslim dari Aisyah, beliau bertanya tentang orang-orang yang ikut bukan karena tujuan perang, seperti pedagang atau orang yang dipaksa. Jawaban Nabi ﷺ menegaskan bahwa azab menimpa mereka semua secara lahiriah, namun pada hari kiamat nanti, Allah akan membangkitkan dan membalas mereka sesuai dengan niat masing-masing. Ini menunjukkan bahwa:
- Hukuman dunia bisa menimpa orang yang tidak bersalah secara lahiriah, sebagai ujian dan pelajaran bagi yang lain.
- Namun pada hari pembalasan, Allah yang Maha Adil tidak akan menzalimi siapa pun. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan niat dan apa yang ada dalam hatinya.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ عَلَى مَا فِي أَنْفُسِهِمْ" adalah Allah membangkitkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan yang sesuai dengan niat mereka. Orang yang terpaksa namun hatinya membenci kejahatan tersebut, maka ia akan diperlakukan sesuai kebenciannya itu. Sebaliknya, orang yang ikhlas dalam kebatilan akan mendapat balasan sesuai keikhlasannya dalam kebatilan tersebut.
4. Pelajaran tentang Niat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menegaskan bahwa amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan ini adalah prinsip yang disepakati oleh seluruh ulama. Hadits tentang pasukan Baida' ini menjadi bukti bahwa meskipun seseorang terjebak dalam suatu perbuatan yang lahiriahnya buruk, namun jika hatinya tidak meridhai dan ia terpaksa, maka Allah akan memperhitungkannya dengan adil.
5. Perbedaan Riwayat
Riwayat Ibnu Majah dari Shafiyyah dan riwayat Muslim dari Aisyah saling menguatkan. Dalam riwayat Shafiyyah, pertanyaan diajukan langsung tentang orang yang "dibenci" (يُكْرَهُ) yaitu orang yang tidak suka dan tidak rela mengikuti pasukan tersebut. Sedangkan dalam riwayat Aisyah, pertanyaan lebih luas mencakup pedagang dan orang lain yang bukan bagian dari pasukan. Keduanya menunjukkan keluasan rahmat dan keadilan Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika peristiwa penaklukan Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa masuk ke dalam Masjidil Haram maka ia aman, barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman." (HR. Muslim)
Dalam peristiwa ini, banyak orang Quraisy yang masuk Islam karena terpaksa dan takut akan kekalahan. Namun setelah itu, mereka yang awalnya masuk Islam karena terpaksa menjadi pembela Islam yang gigih. Di antara mereka ada Abu Sufyan sendiri yang kemudian ikut berperang di Hunain dan Tha'if, bahkan kehilangan salah satu matanya dalam Perang Yarmuk demi membela agama Allah.
Ini menunjukkan bahwa niat bisa berubah. Orang yang awalnya terpaksa bisa menjadi ikhlas setelah hidayah masuk ke dalam hatinya. Sebaliknya, orang yang lahiriahnya ikut dalam kebaikan namun hatinya tidak ikhlas, maka tidak ada nilainya di sisi Allah. Maka perbaikilah hati kita, karena Allah melihat hati dan niat kita, bukan hanya amal lahiriah kita.
Kesimpulan Praktis
- Meyakini berita ghaib dari Rasulullah ﷺ — bahwa pasukan penyerang Ka'bah akan ditenggelamkan di Baida' adalah tanda kekuasaan Allah dan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
- Menjaga niat dalam setiap amal — karena Allah akan membalas setiap hamba sesuai dengan niatnya, baik dalam kebaikan maupun keburukan.
- Tidak tergesa menghakimi orang lain — karena bisa jadi orang yang lahiriahnya berada di tempat yang salah, namun hatinya tidak meridhai perbuatan tersebut. Urusan niat dan hati adalah urusan Allah semata.
- Bertawakal kepada Allah — bahwa Allah pasti melindungi rumah-Nya (Ka'bah) dari kejahatan para penyerang, sebagaimana telah Dia kabarkan melalui lisan Rasul-Nya.
- Menjadikan hadits ini sebagai pelajaran — bahwa azab Allah bisa turun secara kolektif, namun pembalasan di akhirat bersifat individual sesuai niat masing-masing.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.