Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang disampaikan Nabi ﷺ. Intinya ada lima perkara: waktu terasa semakin singkat, ilmu agama berkurang, sifat kikir merajalela, fitnah bermunculan, dan banyak terjadi pembunuhan. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang sebagian besarnya sudah kita saksikan di zaman sekarang, dan menjadi peringatan bagi kita untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu sebelum semuanya hilang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan berharakat lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, Bab Dzahab Al-Qur'an wal 'Ilm, no. 4052. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur yang sama, sehingga termasuk hadits yang muttafaq 'alaih (disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim).
Hadits serupa dari Shahih Al-Bukhari:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ – يَعْنِي الْقَتْلَ – حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ"
Artinya: "Tidak akan tegak hari kiamat sehingga ilmu diangkat, gempa bumi banyak terjadi, waktu terasa dekat, fitnah bermunculan, dan banyak al-harj – yaitu pembunuhan – sehingga harta melimpah di tengah kalian." (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam Shahih-nya sebagai bukti kenabian dan tanda-tanda kiamat. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "diangkatnya ilmu" yaitu dengan wafatnya para ulama, bukan dengan cara ilmu itu dicabut dari dada manusia secara langsung.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung lima tanda besar yang akan terjadi menjelang kiamat. Mari kita bedah satu per satu:
1. "يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ" (Waktu terasa semakin dekat/singkat)
Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Imam Al-Khathabi dan ulama lainnya menyebutkan beberapa makna:
- Pertama, waktu terasa singkat sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, dan seterusnya. Ini bisa dirasakan secara nyata di zaman kita – waktu berlalu begitu cepat.
- Kedua, berkah waktu dihilangkan, sehingga manusia tidak mampu menyelesaikan banyak amal dalam waktunya.
- Ketiga, generasi-generasi saling berdekatan, maksudnya manusia tidak lagi berumur panjang.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa semua makna ini bisa benar, karena kata "تَقَارُب" mengandung arti saling mendekat. Dan semua tanda ini telah terjadi.
2. "وَيَنْقُصُ الْعِلْمُ" (Ilmu berkurang)
Yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu syar'i (ilmu agama). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa berkurangnya ilmu terjadi dengan cara diangkatnya para ulama – mereka wafat satu per satu – sementara manusia yang tersisa mengambil ilmu dari orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menyesatkan dan tersesat.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا"
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3. "وَيُلْقَى الشُّحُّ" (Kikir ditanamkan/dilemparkan ke dalam hati)
Maknanya: sifat kikir dan bakhil dimasukkan ke dalam hati manusia sehingga mereka enggan mengeluarkan hak Allah dan hak sesama. Imam Al-Qurthubi (dalam Al-Mufhim) menjelaskan bahwa ini adalah ujian dari Allah berupa hilangnya sifat dermawan dan diganti dengan sifat kikir yang melekat.
4. "وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ" (Fitnah bermunculan)
Fitnah di sini mencakup fitnah syubhat (kerancuan dalam agama) dan fitnah syahwat (godaan hawa nafsu). Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud adalah ujian-ujian besar yang menggoncang hati dan agama manusia, seperti peperangan, pembunuhan, dan kerancuan pemahaman.
5. "وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ" (Banyak al-harj)
Ketika para sahabat bertanya apa itu al-harj, Nabi ﷺ menjawab singkat: "الْقَتْلُ" (pembunuhan). Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata "al-harj" dalam bahasa Arab asalnya berarti kebingungan dan keguncangan, lalu digunakan untuk pembunuhan karena pembunuhan menyebabkan kebingungan dan kekacauan.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari, Nabi ﷺ bersabda bahwa al-harj adalah pembunuhan, dan beliau mengulanginya beberapa kali sambil mengangkat tangannya – sebagai isyarat bahwa pembunuhan akan semakin meluas dan tidak lagi membedakan antara yang membunuh dan yang dibunuh.
Kesimpulan Ulama tentang Hadits Ini:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menegaskan bahwa hadits ini shahih dan termasuk bukti kenabian – karena seluruh tanda yang disebutkan telah terjadi di zaman kita. Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarah Kitab At-Tauhid juga sering mengingatkan bahwa tanda-tanda ini adalah peringatan agar kita berlindung dari fitnah dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sebelum datangnya hari yang tidak ada gunanya penyesalan.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ziyad bin Hudair, ia berkata:
"Umar bin Al-Khathab berkata kepadaku: 'Apakah yang kamu ketahui tentang diangkatnya ilmu?' Aku menjawab: 'Aku tidak mengetahuinya.' Umar berkata: 'Aku pun tidak mengetahuinya, kecuali jika aku melihatmu (para sahabat yang tersisa) – sungguh, ilmu akan diangkat dengan wafatnya para ulama.'"
Lihatlah bagaimana Umar bin Al-Khathab – seorang yang Umar-nya umat ini – justru khawatir akan hilangnya ilmu setelah para ulama wafat. Beliau tidak membanggakan ilmunya, tetapi justru cemas. Ini pelajaran besar bagi kita: jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, dan jangan menunda belajar karena setiap hari para ulama wafat dan ilmu ikut terkubur bersama mereka.
Kesimpulan Praktis
- Segera menuntut ilmu syar'i – karena ilmu tidak akan turun dari langit, tetapi diambil dari para ulama. Selama mereka masih ada, manfaatkan kesempatan.
- Berhati-hati dari fitnah – baik fitnah syubhat (pemahaman menyimpang) maupun fitnah syahwat. Perbanyak berlindung kepada Allah dari fitnah.
- Menjauhi sifat kikir – perbanyak sedekah dan berbuat baik, karena kikir adalah penyakit hati yang Allah sebut dalam hadits ini sebagai tanda kiamat.
- Menjaga keamanan dan nyawa manusia – karena banyaknya pembunuhan adalah tanda kiamat. Seorang mukmin tidak boleh menjadi penyebab hilangnya nyawa tanpa hak.
- Tidak mengambil ilmu dari orang bodoh – hendaknya bertanya kepada ulama yang benar-benar berilmu dan dikenal kejujurannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.