Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan tanda dekatnya hari kiamat: ilmu agama akan diangkat dengan wafatnya para ulama, kebodohan merajalela sehingga manusia beramal tanpa ilmu, dan pembunuhan massal (al-harj) menjadi perkara biasa. Ini adalah peringatan agar kita bersungguh-sungguh menuntut ilmu dari ulama yang benar agar tidak tersesat di tengah fitnah akhir zaman.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait tanda kiamat dan pentingnya ilmu:
QS. Muhammad [47]: 7
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Ayat ini mengingatkan bahwa pertolongan Allah bergantung pada kesungguhan kita menegakkan agama-Nya, termasuk dengan ilmu.
Hadits:
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"يَكُونُ بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ أَيَّامٌ يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ"
"Akan ada menjelang hari kiamat hari-hari di mana ilmu diangkat, kebodohan diturunkan, dan banyak terjadi al-harj (pembunuhan)."
(Sunan Ibnu Majah no. 4050. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 157 dari jalur lain dengan redaksi serupa. Para ulama seperti al-Bukhari, Muslim, dan an-Nawawi menilainya shahih.)
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/202) menjelaskan bahwa "ilmu diangkat" berarti wafatnya para ulama sehingga manusia tidak memiliki panutan dalam agama. Imām Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (13/44) menambahkan bahwa setelah itu, manusia akan mengambil ilmu dari orang-orang bodoh lalu mereka sesat dan menyesatkan. Imām Ibn Katsir dalam an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menyebutkan bahwa al-harj adalah pembunuhan besar-besaran yang tidak jelas tujuannya.
Penjelasan Rinci
Makna "ilmu diangkat"
Para ulama ahlus sunnah, seperti Imām Ahmad bin Hanbal dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah, memahami bahwa ilmu tidak diangkat langsung dari dada manusia satu per satu, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Sebagian ulama salaf, seperti al-Hasan al-Bashri, berkata: "Ilmu itu adalah kunci kebaikan, dan hilangnya ilmu adalah awal kehancuran." Setelah ulama tiada, manusia yang tersisa adalah pemimpin jahil yang berfatwa dengan akal sendiri, sehingga mereka sesat dan menyesatkan. Inilah yang dimaksud "kebodohan diturunkan."
Makna "banyak terjadi al-harj"
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ sendiri menjelaskan bahwa al-harj berarti pembunuhan. Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan dari Ibn Mas'ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa "al-harj adalah pembunuhan" dan beliau mengulangnya tiga kali. Pembunuhan di akhir zaman tidak memiliki sebab yang jelas; seseorang dibunuh tanpa dosa, hanya karena alasan sepele, dan ini terjadi di mana-mana. Imām an-Nawawi mencatat bahwa pertumpahan darah menjadi halal di mata manusia sehingga harga diri manusia tidak lagi berharga.
Pandangan tabi'in dan salaf tentang fitnah akhir zaman
Sa'id bin al-Musayyib dan Muhammad bin Sirin meriwayatkan bahwa mereka khawatir terhadap fitnah yang membuat manusia mudah membunuh tanpa landasan syar'i. Sufyan ats-Tsauri berkata: "Berpeganglah pada ilmu karena ia adalah imam bagi amal." Maka ketika ilmu sudah tidak ada, amal menjadi tanpa arah dan pembunuhan merajalela.
Ulama kontemporer dari daftar, seperti Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, menjelaskan bahwa hadits ini berlaku nyata di zaman kita: sedikitnya ulama besar yang diikuti, banyaknya fatwa sesat dari orang yang tidak berilmu, dan maraknya pembunuhan di berbagai negara. Mereka menasihati untuk mengambil ilmu hanya dari ulama yang jelas sanadnya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, suatu hari beliau duduk bersama para sahabat dan bersabda: "Kalian semua saat ini di atas petunjuk. Akan ada suatu masa nanti di mana pemimpin kalian adalah orang jahat, orang-orang yang baik dibenci, dan pembunuhan menjadi permainan. Maka ketika itu datang, berpeganglah pada tanah air kalian, jangan bergerak karena keburukan berada di luar." (Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sanadnya hasan).
Hikmah: Kita harus terus mencari ilmu dan berlindung kepada Allah dari fitnah yang menghilangkan akal sehat.
Kesimpulan Praktis
- Tuntutlah ilmu dari ulama yang benar dan mumpuni – jangan mengambil agama dari orang awam atau tokoh media yang tidak jelas ilmunya.
- Jaga ukhuwah dan jangan mudah membunuh atau menyakiti sesama muslim – karena darah muslim sangat dihormati.
- Bersiap secara spiritual dengan memperbanyak ibadah dan taubat, memohon keselamatan di tengah fitnah akhir zaman.
- Perhatikan fenomena saat ini – jika kita melihat kebodohan merajalela dan pembunuhan mudah terjadi, itu adalah tanda yang mengingatkan kita untuk kembali kepada Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.