Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4045 tentang Tanda kiamat: ilmu hilang, kebodohan dan zina merebak

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu tanda-tanda kecil Kiamat yang disampaikan oleh Nabi ﷺ kepada sahabatnya Anas bin Malik. Tanda-tanda tersebut adalah: diangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan, perzinahan, minum khamar, dan berkurangnya jumlah laki-laki dibandingkan perempuan. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang sudah terbukti sebagiannya di zaman kita, dan menjadi peringatan agar kita berpegang teguh pada ilmu dan agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Apakah aku tidak memberitahukan kepada kalian sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, yang tidak ada seorang pun yang akan memberitahukan kepada kalian setelahku? Aku mendengarnya dari beliau (sambil bersabda): 'Di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu, dan munculnya kebodohan, serta merebaknya perzinahan, dan diminumnya khamar, dan lenyapnya para lelaki, dan tersisanya para wanita, hingga satu orang laki-laki mengurus lima puluh wanita.'" (HR. Ibnu Majah no. 4045, dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 81 dan Muslim no. 2671 dari jalur Qatadah dari Anas)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' [21]: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa tugas para rasul adalah menyampaikan ilmu (wahyu) dan mengajak manusia beribadah kepada Allah. Ketika ilmu diangkat dan kebodohan tersebar, maka manusia akan tersesat dari tujuan penciptaan mereka.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada "Kitab Al-'Ilm" (Kitab Ilmu), menunjukkan pentingnya ilmu dan bahaya kehilangannya.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "diangkatnya ilmu" berarti diwafatkannya para ulama, bukan ilmu itu sendiri yang diangkat dari dada manusia secara langsung, tetapi dengan wafatnya ulama maka ilmu ikut hilang.
  • Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tanda-tanda ini adalah kabar ghaib yang Allah beritahukan kepada Nabi-Nya, dan sebagian besarnya telah terjadi.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Berikut poin-poin pentingnya:

1. Makna "Diangkatnya Ilmu"

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa yang dimaksud dengan diangkatnya ilmu adalah diwafatkannya para ulama. Ini berdasarkan hadits lain dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya dan mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) menjelaskan bahwa ini adalah salah satu tanda Kiamat yang sudah terjadi di zaman kita. Kita lihat banyak ulama yang wafat, dan yang tersisa adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu yang mendalam, namun berani berbicara atas nama agama.

2. Munculnya Kebodohan

Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa'adah menjelaskan bahwa kebodohan akan muncul ketika manusia berpaling dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan lebih memilih perkataan manusia yang tidak berdasarkan dalil. Kebodohan di sini bukan hanya tidak tahu, tetapi juga merasa tahu padahal tidak, sehingga berani berfatwa tanpa ilmu.

3. Merebaknya Perzinahan dan Minum Khamar

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perzinahan dan khamar adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya adalah pintu menuju kerusakan moral dan sosial. Ketika keduanya dianggap biasa dan bahkan dibanggakan, maka itu adalah tanda dekatnya Kiamat.

4. Lenyapnya Laki-laki dan Tersisanya Perempuan

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah kabar tentang berkurangnya jumlah laki-laki dibandingkan perempuan di akhir zaman. Ini bisa terjadi karena banyaknya peperangan yang menewaskan laki-laki, atau karena faktor lain yang Allah kehendaki. Hingga satu laki-laki harus mengurus banyak perempuan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (wafat 1420 H) dalam Silsilah Ash-Shahihah menyebutkan bahwa hadits ini shahih dan termasuk mukjizat Nabi ﷺ karena sebagiannya telah terjadi.

5. Pelajaran dari Hadits Ini

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa tanda-tanda ini adalah peringatan bagi umat agar tidak terlena dengan dunia. Ketika ilmu hilang dan kebodohan merajalela, maka manusia akan mudah terjerumus dalam kemaksiatan seperti zina dan khamar.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang bagaimana para salaf sangat menjaga ilmu dan takut kehilangannya. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) — semoga Allah merahmatinya — ketika beliau sakit menjelang wafatnya, beliau berpesan kepada anaknya, Abdullah:

"Wahai anakku, sampaikanlah salamku kepada para sahabatku dan murid-muridku. Katakanlah kepada mereka: Sesungguhnya aku telah berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Jauhilah oleh kalian perdebatan dan perkataan-perkataan baru (bid'ah), karena sesungguhnya ilmu akan diangkat dan kebodohan akan muncul."

Ini menunjukkan betapa para ulama sangat memahami hadits ini dan khawatir akan hilangnya ilmu dari tengah-tengah umat. Mereka berjuang menyebarkan ilmu selama hidupnya, dan berpesan agar umat tetap berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah menuntut ilmu syar'i — karena ilmu adalah warisan para nabi, dan dengan ilmu kita selamat dari kebodohan.
  2. Hindari perzinahan dan khamar — karena keduanya adalah dosa besar yang merusak individu dan masyarakat.
  3. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah — karena keduanya adalah sumber ilmu yang tidak akan pernah hilang selama masih ada yang menjaganya.
  4. Menghormati dan bertanya kepada ulama — karena mereka adalah pewaris para nabi, dan dengan bertanya kepada mereka kita terhindar dari fatwa tanpa ilmu.
  5. Mengingatkan keluarga dan masyarakat — agar mereka juga menjauhi maksiat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi