Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4042 tentang Tanda kiamat: kematian Nabi, penaklukan Baitul Maqdis, dan fitnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ tentang enam tanda besar menjelang Hari Kiamat. Tanda-tanda tersebut adalah: wafatnya Nabi ﷺ, penaklukan Baitul Maqdis, wabah penyakit yang menjadi syahadah bagi umat, melimpahnya harta, fitnah besar yang merata, dan pengkhianatan Romawi (Bani Ashfar) dengan pasukan yang sangat besar. Hadits ini mengajarkan kita untuk bersiap diri, tidak terlena dengan dunia, dan teguh menghadapi fitnah dengan berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, Bab Asyrath As-Sa'ah (Tanda-Tanda Hari Kiamat), no. 4042. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Al-Hakim dengan redaksi yang serupa. Perawinya adalah 'Awf bin Malik Al-Asyja'i radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Tentang kepastian datangnya Hari Kiamat dan tanda-tandanya, Allah berfirman:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا

"Maka tidaklah mereka menunggu-nunggu kecuali kedatangan Hari Kiamat kepadanya secara tiba-tiba, karena sesungguhnya tanda-tandanya telah sungguh datang." (QS. Muhammad [47]: 18)

Kaitan dengan Ulama:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah dan kitab-kitab syarahnya sering menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih adalah perkara ghaib yang wajib kita imani dan ambil pelajaran darinya. Beliau menekankan bahwa beriman kepada hari akhir termasuk rukun iman, dan mengetahui tanda-tandanya menambah keyakinan dan kesiapan seorang mukmin.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang memberitakan perkara ghaib yang belum terjadi di masa beliau. Para ulama menjelaskan bahwa enam perkara yang disebutkan dalam hadits ini adalah tanda-tanda besar yang berurutan, dan sebagian telah terjadi.

  1. Wafatnya Nabi ﷺ: Ini adalah tanda pertama dan telah terjadi. 'Awf bin Malik radhiyallahu 'anhu sangat sedih mendengarnya karena ini berarti perpisahan dengan kekasihnya. Ini mengajarkan bahwa kematian adalah kepastian bagi setiap makhluk, termasuk manusia terbaik sekalipun.
  2. Penaklukan Baitul Maqdis: Tanda ini juga telah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Ini menunjukkan kejayaan Islam dan kebenaran kabar Nabi ﷺ.
  3. Penyakit yang Menjadi Syahadah: Para ulama menafsirkan "dā'un" (penyakit) ini dengan wabah tha'un (wabah pes). Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam kitabnya Badzl Al-Ma'un fi Fadhli Ath-Tha'un menjelaskan secara panjang lebar tentang wabah ini. Beliau menukil bahwa wabah tha'un adalah syahadah bagi seorang mukmin yang bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Penyakit ini menjadi pembersih dosa dan pengangkat derajat, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.
  4. Melimpahnya Harta: Tanda ini menggambarkan kondisi ketika harta begitu banyak sehingga seseorang tidak lagi merasa cukup dengan seratus dinar. Ini menunjukkan ujian kekayaan. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ujian kekayaan bisa lebih berat daripada ujian kemiskinan, karena kekayaan bisa melalaikan hati dari mengingat Allah dan membuat seseorang tidak pernah merasa puas.
  5. Fitnah yang Merata: Fitnah di sini adalah ujian dan kekacauan yang masuk ke setiap rumah Muslim. Ini bisa berupa syubhat (kerancuan pemikiran) maupun syahwat (hawa nafsu). Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa fitnah adalah ujian yang membedakan antara yang jujur dan yang dusta, antara yang teguh dan yang goyah. Di zaman ini, kita melihat fitnah syubhat melalui penyebaran pemikiran sesat dan fitnah syahwat melalui kemaksiatan yang terang-terangan.
  6. Pengkhianatan Bani Ashfar (Romawi): Ini adalah tanda yang belum terjadi secara sempurna. Ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu percaya pada perjanjian dengan orang-orang kafir, karena mereka seringkali mengkhianati janji. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah mengomentari hadits ini sebagai kabar tentang peperangan besar di akhir zaman melawan Romawi yang akan menjadi salah satu tanda dekatnya kiamat.

Para ulama, seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits tentang fitnah dan tanda-tanda kiamat. Mereka memahami bahwa kabar-kabar ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memperkuat iman dan mempersiapkan diri.

Story Telling

'Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, seorang ulama besar dan ahli ibadah, pernah ditanya, "Wahai Abu Abdurrahman, siapakah manusia yang paling mulia?" Beliau menjawab, "Orang yang paling mulia adalah orang yang zuhud di dunia dan raghbah (sangat ingin) kepada akhirat." Kemudian beliau ditanya lagi, "Bagaimana kami bisa zuhud di dunia?" Beliau menjawab, "Lihatlah dunia ini dengan mata akhirat. Sesungguhnya dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Fitnah-fitnah yang disebutkan Nabi ﷺ adalah ujian untuk melihat siapa di antara kita yang paling baik amalnya. Maka jadilah seperti 'Awf bin Malik yang ketika mendengar kabar tentang kematian Nabi ﷺ, hatinya sedih, namun ia tetap teguh dan bersiap menghadapi ujian setelahnya."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para sahabat dan ulama salaf tidak hanya berhenti pada perasaan sedih atau takut, tetapi mereka menjadikan kabar ghaib ini sebagai pemicu untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan memperkuat kesabaran dalam menghadapi ujian.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada yang Ghaib: Wajib mengimani semua kabar dari Nabi ﷺ, termasuk tanda-tanda kiamat, karena itu adalah bagian dari iman kepada hari akhir.
  2. Persiapan Diri: Jadikan kabar ini sebagai motivasi untuk memperbanyak ibadah, taubat, dan amal shalih sebelum datangnya hari tersebut.
  3. Menghadapi Fitnah: Perkuat ilmu agama dengan mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman ulama Ahlus Sunnah agar tidak goyah oleh fitnah syubhat dan syahwat.
  4. Tidak Terlena Dunia: Ingatlah bahwa harta dan dunia adalah ujian. Jangan biarkan hati terikat pada dunia yang fana.
  5. Bersabar dalam Ujian: Ketika tertimpa musibah seperti wabah atau kesulitan, hadapilah dengan sabar dan yakin bahwa itu bisa menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?