Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi peringatan Nabi ﷺ bahwa yang beliau khawatirkan bukanlah kemiskinan yang menimpa umat, melainkan datangnya kelapangan dunia yang melimpah. Kelimpahan itu bisa membuat manusia saling berlomba mengejar dunia, sebagaimana umat-umat sebelumnya, sehingga akhirnya membinasakan mereka. Intinya: harta bukanlah tujuan, tetapi ujian yang harus dijaga dengan iman dan amal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Fitnah, Bab Fitnah Harta, no. 3997, dari sahabat 'Amr bin 'Auf رضي الله عنه. Hadits ini juga memiliki asal yang kuat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah dan 'Amr bin 'Auf dengan makna yang sama, yaitu kekhawatiran Nabi ﷺ terhadap kelapangan dunia.
Nabi ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
"Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir atas kalian apabila dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan fitnah harta:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
QS. At-Taghabun [64]: 15
"Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah ujian, dan di sisi Allah ada pahala yang besar."
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
QS. Thaha [20]: 131
"Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir itu), sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang sangat besar kepada umatnya. Ketika para sahabat Ansar berharap kedatangan harta dari Bahrain, Nabi ﷺ tidak mencela mereka, tetapi tersenyum dan memberi kabar gembira. Namun beliau langsung memberi peringatan penting: bahaya yang sesungguhnya bukanlah kemiskinan, melainkan kelapangan dunia yang membuat hati sibuk dan saling berlomba.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan terhadap fitnah harta dan dorongan untuk zuhud serta qana'ah. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud "dibentangkan dunia" adalah terbukanya berbagai kenikmatan dan kemudahan, sehingga manusia cenderung tenggelam di dalamnya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kekhawatiran Nabi ﷺ ini terbukti pada generasi setelah beliau, ketika penaklukan-penaklukan membawa harta melimpah dan muncul persaingan duniawi di antara sebagian kaum Muslimin. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini bukan larangan mencari rezeki, tetapi peringatan agar harta tidak menjadi tujuan utama yang melalaikan dari akhirat.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa fitnah harta lebih berbahaya daripada fitnah kemiskinan, karena kemiskinan sering mendorong seseorang untuk berdoa dan kembali kepada Allah, sedangkan kelapangan bisa membuat lupa dan sombong. Beliau juga mengingatkan bahwa umat-umat terdahulu seperti Bani Israil dan umat-umat lain binasa bukan karena kekurangan, tetapi karena kelimpahan yang membuat mereka berlomba dalam dunia dan meninggalkan ketaatan.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighatsah al-Lahfan menjelaskan bahwa cinta dunia adalah pangkal berbagai kerusakan. Ketika dunia dibentangkan, hati manusia cenderung terikat padanya, sehingga muncul sifat kikir, hasad, dan permusuhan. Beliau menekankan pentingnya menjaga hati agar harta menjadi sarana, bukan tujuan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. At-Taghabun [64]: 15 menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah, yaitu ujian yang menguji apakah seseorang bersyukur dan menunaikan hak-haknya, atau justru tenggelam dan lalai dari Allah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang Muslim tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, tetapi menjadikannya sarana untuk beribadah dan berbuat baik. Beliau juga mengingatkan bahwa persaingan yang tercela adalah persaingan dalam hal dunia, sedangkan persaingan yang terpuji adalah dalam hal iman dan amal saleh, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Muthaffifin [83]: 26: "Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah penaklukan-penaklukan besar, harta melimpah datang ke Madinah. Sebagian sahabat melihat bagaimana kekayaan itu mulai mengubah sebagian manusia. Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه pernah menangis ketika melihat kelimpahan harta, lalu berkata: "Kita telah dibentangkan dunia, dan aku khawatir apa yang dikhawatirkan Nabi ﷺ benar-benar terjadi." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memahami makna hadits ini dan berusaha menjaga hati mereka dari cinta dunia.
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah berkata: "Demi Allah, tidaklah dunia ini dibentangkan kepada suatu kaum melainkan mereka saling bermusuhan karenanya." Beliau juga mengingatkan bahwa siapa yang mencintai dunia, maka akhirat akan menjauh darinya.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan harta sebagai sarana, bukan tujuan. Gunakan rezeki untuk ibadah, sedekah, dan membantu orang lain.
- Jaga hati dari cinta dunia. Perbanyak zikir, syukur, dan qana'ah agar tidak silau dengan kelimpahan.
- Hindari persaingan duniawi yang merusak. Berlomba-lombalah dalam iman, ilmu, dan amal saleh, bukan dalam kemewahan.
- Bersyukur dalam segala keadaan. Baik miskin maupun kaya, keduanya adalah ujian dari Allah.
- Renungkan akhirat. Ingatlah bahwa dunia ini sementara, sedangkan akhirat adalah tempat kembali yang kekal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.