Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengingatkan kita bahwa ketika harta dan kekuasaan dunia (seperti kekayaan Persia dan Romawi) terbuka lebar, umat Islam bisa tergoda untuk saling bersaing, iri, berpaling, dan membenci satu sama lain. Bahkan yang miskin di antara Muhajirin bisa dijadikan alat untuk saling menindas. Ini peringatan keras agar kita tidak terlena dengan dunia dan tetap menjaga persaudaraan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hadid [57]: 20
<p dir="rtl">ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ</p>
Artinya: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak-anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian menjadi kering dan kamu lihat kekuning-kuningan, lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
Hadits: Hadits riwayat 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash RA, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3996). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah dan dihasankan oleh ulama lainnya.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (13/56) ketika menjelaskan hadits serupa menekankan bahwa fitnah harta adalah pangkal dari perselisihan umat.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa persaingan (tanafus) dan hasad (iri) adalah ciri orang yang cinta dunia.
- Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menyebutkan bahwa harta dapat menjadi ujian yang menghancurkan jika tidak digunakan untuk ketaatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini berisi dialog Nabi ﷺ dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf RA. Beliau ﷺ bertanya: “Jika perbendaharaan harta Persia dan Romawi telah dibukakan untuk kalian, seperti apakah kalian nanti?” ‘Abdurrahman bin ‘Auf menjawab dengan optimis: “Kami akan mengatakan sebagaimana Allah perintahkan” (maksudnya: kami akan tetap bersyukur dan taat). Namun Nabi ﷺ membantahnya dengan sabda: “Atau selain itu? Kalian akan saling bersaing, lalu saling iri, lalu saling berpaling, lalu saling membenci – atau seperti itu – kemudian kalian akan pergi kepada orang-orang miskin di antara Muhajirin lalu menjadikan sebagian mereka di atas pundak sebagian yang lain.”
Makna tiap fase:
- “Saling bersaing” (tanafus): Berlomba-lomba mengumpulkan harta dan kedudukan. Ini adalah fitnah pertama.
- “Saling iri” (tahassud): Muncul rasa tidak rela orang lain mendapat nikmat.
- “Saling berpaling” (tadabur): Putusnya hubungan persaudaraan karena urusan dunia.
- “Saling membenci” (tabaghd): Benci karena harta dan kedudukan.
Ujung dari semua itu adalah menjadikan sesama muslim sebagai “tunggangan” – artinya mengeksploitasi satu sama lain, terutama yang lemah.
Pendapat ulama tentang hadits ini:
- Al-Imam al-Bayhaqi (dalam al-Jami' li Syu'abil Iman) menjelaskan bahwa hadits ini sebagai peringatan dari Nabi ﷺ agar umat tidak terlena dengan kekayaan dunia.
- Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (dalam Majmu' al-Fatawa) ketika membahas fitnah harta mengingatkan bahwa akar kerusakan adalah cinta dunia dan hasad, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin) menekankan bahwa ketiga sifat: tanafus, tahassud, tadabur, dan tabaghd adalah pintu kehancuran ukhuwah.
Peringatan khusus untuk para da’i dan pemimpin:
Hadits ini juga menegaskan bahwa orang miskin sekalipun bisa dijadikan alat kekuasaan (diangkat sebagai pemimpin hanya untuk kepentingan). Maka, setiap muslim wajib menjaga hati dari persaingan tidak sehat dan menjadikan harta sebagai sarana ketaatan, bukan perselisihan.
Story Telling (Opsional)
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash RA, beliau sendiri adalah sahabat yang kaya namun zuhud. Suatu hari, ia keluar dengan baju lusuh, lalu ada yang bertanya: “Mengapa engkau tidak memakai pakaian yang lebih baik?” Beliau menjawab: “Aku khawatir jika pakaianku bagus, hatiku akan sombong. Aku lebih takut dengan fitnah harta yang disebutkan Rasulullah ﷺ” (riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah).
Hikmah: Ketakutan sahabat terhadap fitnah harta membuat mereka lebih hati-hati. Begitu pula kita, jangan sampai kekayaan malah merusak hati.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berlomba-lomba dalam harta, pangkat, dan kedudukan.
- Jaga hati dari hasad (iri) terhadap nikmat orang lain.
- Perkuat persaudaraan, jangan sampai harta memutus silaturahmi.
- Bantulah kaum miskin dan jangan jadikan mereka sebagai alat kepentingan.
- Ingatlah bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
Catatan: Rujukan di atas diambil dari kitab para ulama yang tercantum dalam daftar. Bila ada perbedaan detail penilaian hadits, kami berpedoman pada penjelasan Syaikh al-Albani dan ulama muhaqqiqin lainnya.