Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Hanya satu golongan yang selamat, yaitu Al-Jama'ah—yakni mereka yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ serta pemahaman para sahabat. Ini bukan ajakan untuk saling membenci antar golongan, melainkan peringatan agar kita semua berhati-hati dalam beragama dan selalu mengembalikan perselisihan kepada dalil.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat 'Awf bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam Sunan Ibnu Majah no. 3992. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya dengan lafaz yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
QS. Ali 'Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali 'Imran [3]: 103)
Penjelasan ulama tentang makna Al-Jama'ah:
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Al-Jama'ah yang dimaksud dalam hadits ini adalah para sahabat Nabi ﷺ dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Beliau menukil perkataan Imam al-Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang Al-Jama'ah, beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi perpecahan."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keniscayaan Perpecahan Umat
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Ini adalah kabar ghaib yang terbukti terjadi sepanjang sejarah. Imam asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata: "Umat Islam tidak pernah terpecah dalam masalah yang jelas (dalilnya), namun mereka berselisih dalam masalah yang samar (mutasyabihat)."
2. Satu Golongan yang Selamat
Yang dimaksud satu golongan yang selamat adalah Al-Jama'ah. Para ulama berbeda pendapat tentang makna Al-Jama'ah:
- Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mubarak bahwa beliau menafsirkan Al-Jama'ah sebagai para sahabat Nabi ﷺ.
- Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman bahwa beliau bertanya tentang Al-Jama'ah, maka dijawab: "Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka."
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Al-Jama'ah adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu mereka yang bersatu di atas kebenaran yang dibawa Nabi ﷺ, walaupun jumlah mereka sedikit.
3. Kriteria Golongan yang Selamat
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang:
- Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sesuai yang diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah
- Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan hadits shahih
- Mengikuti pemahaman para sahabat dalam memahami dalil
- Menjauhi bid'ah dan perkara yang diada-adakan dalam agama
4. Bukan Ajakan untuk Bermusuhan
Penting dipahami bahwa hadits ini tidak mengajarkan kita untuk membenci saudara sesama muslim yang berbeda pendapat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perpecahan yang tercela adalah perpecahan dalam pokok-pokok agama (ushuluddin), bukan dalam masalah cabang (furu') yang masih ada ruang ijtihad.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu—sahabat yang menyimpan rahasia Rasulullah ﷺ tentang fitnah—pernah berkata kepada para sahabat yang bertanya tentang Al-Jama'ah:
"Wahai para sahabat Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Berpegangteguhlah kalian pada jama'ah kaum muslimin dan janganlah kalian berpecah belah. Sungguh, setan itu bersama orang yang sendirian, dan dia lebih jauh dari dua orang yang bersama."
Kemudian beliau menasihatkan: "Jika kalian melihat manusia telah berselisih dan perpecahan telah meluas, maka peganglah Kitabullah dan Sunnah Nabi kalian ﷺ. Tinggalkanlah orang-orang yang membuat perkara baru dalam agama, karena mereka telah sesat dan menyesatkan." (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)
Hikmah dari kisah ini: ketika terjadi perpecahan, kita tidak boleh ikut larut dalam kebingungan. Yang harus dilakukan adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dalam menuntut ilmu—pelajari Al-Qur'an dan hadits dari sumber yang shahih.
- Mengikuti pemahaman para sahabat dalam memahami dalil, karena mereka adalah generasi terbaik.
- Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat dan perkara bid'ah dalam agama.
- Tetap berpegang pada jama'ah—yaitu bersatu di atas kebenaran, bukan bersatu di atas kebatilan.
- Bersikap adil dan tidak mudah mengkafirkan saudara sesama muslim yang berbeda pendapat dalam masalah ijtihadiyah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.