Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, sementara Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Namun, dari sekian banyak golongan tersebut, hanya satu yang selamat, yaitu golongan yang mengikuti apa yang dipegang oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan peringatan agar kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah serta menjauhi perpecahan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ali Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, serta ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara."
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dalam Sunan Ibnu Majah, nomor 3991. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya dengan redaksi yang semakna.
Kaitan dengan Ulama:
Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya setelah meriwayatkan hadits ini menjelaskan bahwa makna "firqah" (golongan) adalah kelompok yang menyelisihi pokok-pokok agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa (3/345) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan golongan yang selamat (al-firqah an-najiyah) adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu mereka yang berpegang pada apa yang dipegang oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang memberitakan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Beliau ﷺ mengabarkan bahwa umat Yahudi yang telah menyimpang terpecah menjadi 71 golongan, dan umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Angka ini bukan sekadar angka, melainkan menunjukkan banyaknya perpecahan yang akan terjadi.
Apa yang dimaksud dengan "golongan"?
Para ulama seperti Imam Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah dan Imam Al-Ajurri dalam Asy-Syari'ah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan golongan di sini adalah kelompok-kelompok yang memiliki keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Perpecahan ini terjadi karena mereka lebih mengutamakan hawa nafsu, taklid buta, atau pemikiran asing dibandingkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Golongan yang selamat:
Dalam riwayat lain yang shahih (HR. Abu Dawud, no. 4596, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan), Nabi ﷺ menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah "مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي" (apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya). Maka, tolok ukur keselamatan bukanlah banyaknya pengikut, melainkan kesesuaian dengan ajaran Nabi ﷺ dan para sahabat.
Peringatan dan hikmah:
Hadits ini bukan untuk membuat kita putus asa atau saling menyalahkan. Sebaliknya, ini adalah peringatan agar kita:
- Berhati-hati terhadap setiap ajaran atau pemikiran yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Memperdalam ilmu agar tidak mudah terbawa arus perpecahan.
- Menjaga persatuan di atas kebenaran, bukan di atas kebatilan.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/248) menekankan bahwa perpecahan yang tercela adalah perpecahan dalam ushul (pokok-pokok agama) yang menyebabkan keluar dari kebenaran. Adapun perbedaan dalam masalah furu' (cabang) yang masih dalam kerangka ijtihad, tidak termasuk dalam ancaman ini.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Suatu ketika Rasulullah ﷺ membuat sebuah garis lurus di tanah, lalu bersabda: 'Ini adalah jalan Allah.' Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya, lalu bersabda: 'Ini adalah jalan-jalan (yang sesat), di setiap jalan itu ada setan yang mengajak kepadanya.'" (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).
Kisah ini menggambarkan bahwa jalan kebenaran itu hanya satu, lurus dan jelas. Sedangkan jalan-jalan kesesatan itu banyak dan bercabang-cabang. Oleh karena itu, kita harus selalu berpegang pada jalan yang lurus, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
Kesimpulan Praktis
- Berpegang teguhlah pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, karena itulah satu-satunya jalan keselamatan.
- Jangan mudah terpecah belah karena perbedaan pendapat dalam masalah furu' yang masih bisa ditoleransi.
- Perbanyaklah menuntut ilmu dari ulama yang terpercaya agar tidak tersesat oleh ajaran-ajaran yang menyimpang.
- Doakanlah agar Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu menetapkan kita di atas kebenaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.